Cukup sulit rasanya untuk menulis opini mengenai serial Snowpiercer, yang musim pertamanya sudah tayang di Netflix. Di satu sisi, saya menyukainya dan menikmati 10 episode miliknya. Di sisi lain, banyak sekali elemen dalam film yang sungguh menahan potensi yang bisa disajikan dalam musim pertama ini. Apalagi jika sebelumnya Snowpiercer sudah lebih dulu dijadikan film oleh sutradara Korea Selatan Bong Joon-ho (pasti sudah tahulah filmnya apa saja, Memories of Murder, The Host, Parasite) tujuh tahun yang lalu. Perbedaan antara film dan serial ini mungkin cukup banyak, dan hanya beberapa saja yang memiliki persamaan.

Keduanya sama-sama diadaptasi dari novel grafik “Le Transperceneige” dan sama-sama menceritakan mengenai sebuah kereta yang dibuat oleh seseorang bernama Wilford. Dalam serialnya, kereta ini dibuat karena ia mengetahui kalau percobaan dunia untuk mengurangi pemanasan global akan gagal, dan akan terciptanya zaman es di mana tidak ada makhluk hidup yang bisa hidup di luar. Kereta ini, diberi nama Snowpiercer dan sepanjang 1001 gerbong, terbagi menjadi beberapa kelas, dari yang paling kaya di depan kereta dan diberi sebutan “First” hingga yang paling miskin di belakang kereta dan disebut “Tail”.

Dalam serial Snowpiercer, ceritanya fokus dengan dua karakter di dalam kereta tersebut. Andre Layton (Daveed Diggs) adalah pemimpin pemberontak di “Tail” dan tidak pernah berhenti untuk mengorganisir sebuah pemberontakan yang bertujuan untuk menyetarakan keadilan dan perlakuan dari otoritas untuk semua kelas di dalam kereta. Melanie Cavill (Jennifer Connelly) adalah pemimpin keramahtamahan dan juga suara untuk kereta, yang bertanggung jawab untuk mengumumkan sebuah pengumuman ke publik sepanjang kereta Snowpiercer.

Pada suatu hari, tujuh tahun setelah kereta tersebut berangkat mengitari dunia (betul, mengitari dunia dengan rel kereta yang tidak kunjung habis), terdapat sebuah kasus pembunuhan. Melanie membutuhkan bantuan Andre untuk memecahkan kasus ini karena ia sebelumnya adalah seorang detektif. Di sinilah di mana serial mengalami kendala, yakni jatuh ke format prosedur polisi. Format ini memang sering sekali menjebak sebuah serial yang memiliki konsep yang sangat menarik, lihat saja Lucifer yang juga kini adalah serial milik Netflix.

robinekariski-tv-series-daveed-diggs-dan-sheila-vand-di-musim-pertama-snowpiercer

Kemudian saat Melanie harus meminta bantuan Andre, seorang pemimpin pemberontak, membantu karena ia adalah seorang detektif, saya langsung berpikir “Apakah tidak ada satu orang pun yang sebelumnya adalah seorang detektif di kereta bagian tengah atau depan atau seseorang yang memang pintar untuk memecahkan kasus ini?” Kemudian kejanggalan lagi saya temui kalau beberapa anggota “Brakeman”, sebuah satuan keamanan untuk Snowpiercer, tidak memiliki latar belakang yang mumpuni. Bahkan ada yang dulunya seorang pemain sepak bola. Bagaimana bisa kereta secanggih ini memiliki satuan keamanan dengan anggotanya memiliki latar belakang yang jauh dari kriteria umum?

Kejanggalan teknis lainnya yang saya temui yang tentu membuat serial ini semakin kecil adalah pernyataan mereka kalau Snowpiercer adalah sebuah kereta dengan gerbong sepanjang 1001 banyaknya, namun kita hanya melihat beberapa gerbong yang berbeda saat di dalamnya. 1001 bukanlah gerbong yang sedikit, dan orang-orang di dalamnya dapat dengan cepat berjalan dari bagian ujung belakang hingga bagian paling depan. Begitu juga kita hanya diperlihatkan mungkin sekitar 10 gerbong yang berbeda, dan saya ingin melihat 900 gerbong yang berbeda karena jadi sulit untuk percaya kalau Snowpiercer memang sepanjang 1001 gerbong.

Dan jika menonton Snowpiercer milik Netflix, maka sulit rasanya untuk tidak membandingkan dengan Snowpiercer milik Bong Joon-ho. Memang cerita dan karakternya berbeda, tetapi jika melihat adaptasi milik Bong Joon-ho, maka sulit rasanya untuk menangkap perasaan yang sama dengan serialnya. Serial Snowpiercer masih belum bisa menangkap keseraman, kemarahan dan ketegangan yang dimiliki filmnya.

Dialognya masih jauh lebih lunak dari dialog yang ditawari Bong Joon-ho. Ingatkah saat karakternya Chris Evans, Curtis Everett mengatakan kalau daging bayi terasa paling enak di film Snowpiercer? Tidak hanya dari segi dialog, namun seluruh adegan di serialnya masih belum menandingi beberapa adegan paling memukul dari filmnya, seperti saat Curtis Everett dan para pemberontak membuka pintu dan menyadari kalau di balik pintu tersebut telah berkumpul pasukan penjaga dengan kapaknya dan topeng muka yang hanya memperlihatkan mulutnya saja.

robinekariski-tv-series-jennifer-connelly-di-musim-pertama-snowpiercer

Oke, saya dari tadi memang memburuk-burukkan serial Snowpiercer, tetapi serial ini juga masih memiliki beberapa hal yang membuatnya cukup untuk saya rekomendasikan. Pertama adalah ceritanya yang berbeda dan menawarkan sesuatu yang baru, meski latarnya berbeda. Bagian saat cerita memasuki format prosuder polisi memang tidak menyenangkan, namun jika sudah melewati bagian itu, Snowpiercer baru bisa menemui tempo dan cerita yang tidak hanya stabil namun juga menarik.

Kemudian karakternya juga membantu membuat cerita ini berjalan cukup lancar, tidak lancar jaya tetapi cukup lancar. Terutama Melanie Cavill yang meski stasusnya sering berubah dari protagonis menjadi antagonis dan sebaliknya. Melanie adalah karakter terbaik serial ini karena tidak hanya diperankan dengan sungguh ambisius oleh Jennifer Connelly, namun karakternya juga ditulis dengan cukup rapi. Tidak mudah biasanya bagi penonton untuk mendukung karakter seperti Melanie yang sering berbuat baik dan salah secara bersamaan, tetapi dengan latar belakang serta cerita yang mendukung, ia menjadi karakter favorit saya.

Konsep “eat the rich” atau “memakan yang kaya raya” (tidak secara harfiah, tentunya) memang menjadi konsep yang sangat populer dan tidak pernah habis dijadikan film, serial, ataupun sekedar topik pembicaraan. Apalagi konsep itu tengah menjadi bahan pembicaraan yang hangat saat tengah pandemi COVID-19, saat orang yang kekayaannya semakin kaya sementara orang yang kurang mampu semakin miskin. Snowpiercer, dengan ceritanya yang memberontak, masih sanggup membawa konsep itu tanpa mencoba untuk membuatnya terlalu berlebihan dengan ceritanya yang cukup membuat saya selalu penasaran selama 10 episode.

Memang jika dibandingkan dengan Snowpiercer milik Bong Joon-ho rasanya tidak adil. Tetapi musim pertama Snowpiercer masih cukup untuk memberikan sebuah cerita yang meski sering terasa klise, tetapi juga cukup seru. Apalagi musim kedua sudah dikabarkan akan terjadi, sehingga serial ini masih memiliki kesempatan untuk mengembangkan ceritanya dan memberitahu kalau serial ini tidaklah sama dengan film milik Bong Joon-ho.

Musim pertama Snowpiercer sudah bisa ditonton di Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s