Esai berikut mengandung spoiler untuk film 2015 The Hateful Eight.

Perang sipil telah selesai di Amerika Serikat. Sekarang adalah 1877. Sembilan orang asing terperangkap di dalam Minnie’s Haberdashery, sebuah penginapan di Wyoming yang kini sedang diterjang badai salju ganas. Satunya hanyalah supir yang kebetulan terperangkap, namun delapan lainnya memiliki cerita, tujuan dan kebohongan masing-masing yang membuat The Hateful Eight menjadi salah satu film dengan kumpulan karakter paling menarik yang pernah dibuat Quentin Tarantino.

Semenjak saya pertama kali menontonnya pada sekitar satu atau dua tahun yang lalu, saya selalu terkesima dengan film yang berdurasi hampir tiga jam ini. Setiap saya menontonnya, saya selalu menemukan hal yang baru dan opini saya dengan film ini selalu meningkat, hingga akhirnya memutuskan jika tidak ada Mad Max: Fury RoadThe Hateful Eight bisa dengan mudah menjadi film terbaik tahun 2015. Apa yang membuat saya selalu tertarik menonton film ini?

Yang jelas adalah betapa pintarnya film ini. The Hateful Eight adalah sebuah film yang dengan liciknya memanipulasi karakter di dalam film sekaligus penontonnya dengan kebohongannya. Delapan orang asing terperangkap di dalam penginapan, dan tidak ada satupun yang asal usulnya jelas. Semuanya menceritakan kisahnya, pekerjaannya, tetapi tidak ada bukti nyata yang mendukungnya sehingga kepercayaan menjadi sesuatu yang langka dari kedelapan itu. Kecuali sang supir, yang dengan tidak beruntungnya harus terperangkap bersama delapan orang licik itu.

Kebohongan terbesar yang mungkin saja menjadi penggerak film adalah sebuah surat Lincoln. Karena surat ini cerita film The Hateful Eight berjalan. Sebuah surat yang mengandung kebohongan dan penipuan lebih besar dari yang terlihat. Mayor Marquis Warren (Samuel L. Jackson) menggunakan surat itu untuk “melucuti senjata orang kulit putih” karena pastinya orang yang memiliki surat dari Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln adalah orang penting. Dengan suratnya itu juga, ia secara tidak langsung bisa menumpang kereta pos yang ditumpangi oleh pemburu imbalan John Ruth (Kurt Russell) dan tahanannya, Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh).

Tetapi surat itu palsu. John Ruth tidak mengetahuinya. Yang menyadari surat Lincoln yang dimiliki Mayor Warren palsu adalah seorang sheriff rasis Chris Mannix (Walton Goggins) yang mengatakan tidak mungkin orang seperti Mayor Warren adalah sahabat pena untuk Presiden Amerika Serikat. Tetapi surat itu selalu berhasil sebelumnya. Dan karena surat itu Mayor Warren bisa bertahan hidup hingga sampai di Minnie’s Haberdashery. Dengan kebohongan, Mayor Warren bisa merasa aman sebagai orang kulit hitam di tengah komunitas kulit putih. Itu terbukti dengan reaksi John Ruth yang langsung berubah menjadi rasis terhadap Warren saat mengetahui surat itu palsu, mengatakan “Saya kira memang benar apa yang orang katakan terhadap kaummu. Tidak bisa percaya satu kata pun dari mulutmu.”

robinekariski-film-surat-lincoln-di-the-hateful-eight

Kebohongan memanglah berperan penting di The Hateful Eight karena kebohongan juga meningkatkan tensi dan paranoia untuk setiap karakter. Tidak sampai dua jam kemudian kita baru mengetahui siapa sosok mereka sebenarnya, dan selama dua jam ini penonton hanya bisa menerka-nerka. Benarkah Chris Mannix seorang sheriff kota Red Rock? Tidak ada bukti yang mendukung pernyataan itu selain dengan perkataannya. Betulkah Oswaldo Mobray (Tim Roth) seorang algojo di kota Red Rock? Memangkah Joe Gage (Michael Madsen) hanyalah seorang koboi yang kebetulan berada di Minnie’s Haberdashery karena sedang pergi mengunjungi ibunya tidak jauh dari kota Red Rock?

Bahkan Minnie’s Haberdashery, yang menjadi lokasi utama film, juga adalah sebuah kebohongan dalam caranya sendiri. Haberdashery, yang jika saya baca di artikel Wikipedia (tentunya, di mana lagi) adalah istilah untuk pedagang eceran yang menjual pakaian laki-laki. Namun Minnie’s Haberdashery bukanlah toko pakaian, melainkan sebuah tempat penginapan sekaligus tempat istirahat yang menyajikan rebusan, makanan ringan, dan “kopi terbaik di dunia.” Chris Mannix, yang baru memasuki bangunan itu dan melihat isinya, merasa tertipu dan mengatakan “Oh. Saya paham. Haberdashery. Itu sebuah lelucon.”

Dari saat Mayor Warren memasuki Minnie’s Haberdashery, dia memang sudah mencurigai ada yang tidak benar. Sebagai pelanggan lama, ia sudah mengenal seluk-beluk penginapan itu, dan saat mendengar kalau sang pemilik, Minnie (Dana Gourrier) meninggalkan tempat usahanya untuk mengunjunginya jauh dari situ, Warren mengetahui kalau sesuatu ada yang tidak benar. Dari saat ia memasuki penginapan itu, kita diberikan petunjuk sedikit demi sedikit mengenai sesuatu yang membuat Warren merasa ganjil seperti toples jelly bean yang menghilang dan aturan tidak boleh mengenakan topi yang tidak dijalankan oleh Señor Bob (Demián Bichir), pembantu baru Minnie.

Dan meski petunjuk-petunjuk itu berlalu begitu saja, kita ditinggalkan perasaan kalau bahaya dapat muncul begitu saja. Petunjuk-petunjuk kecil itu menandakan ada sesuatu yang salah di Minnie’s Haberdashery, tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi dan karena itu tensi dalam film selalu terasa, sebuah perasaan bahaya selalu merayap di setiap adegan mencoba untuk mencari momen yang tepat dan kita sebagai penonton juga dipaksa untuk terus memerhatikan tingkah laku setiap karakter di bangunan kecil itu.

Jika kalian perhatian saat John Ruth dan Daisy pertama kali memasuki Minnie’s Haberdashery, dalam shot itu kita melihat Oswaldo duduk di kursi bagian kanan kamera dan Jenderal Sanford Smithers (Bruce Dern) di kursi bagian kiri. Saat Oswaldo dan Joe berteriak ke arah John untuk menendang pintu dan memaku dua papan, Sanford dengan perlahan melihat ke arah kamera dua kali, seperti sedang memperingati ke penonton bahaya yang akan datang. Tatapan sekilas yang merobohkan dinding keempat itulah yang bisa saja dengan cepat terlewati bagi penonton yang tidak menyadarinya, dan tatapan itu adalah satu dari sekian petunjuk yang sangat halus namun memiliki peran yang cukup penting: memberitahu bahwa ada yang tidak benar di penginapan itu.

robinekariski-film-jenderal-sanford-smithers-melihat-kamera-di-the-hateful-eight

The Hateful Eight juga menjadi sebuah film yang sangat pintar karena mampu dengan lingkungannya yang sangat terbatas dan durasinya yang sangat panjang tetap menjadi film yang menegangkan. Bayangkan hampir seluruh film hanya pada satu ruangan saja, dan selama berada di dalam ruangan itu kita secara bolak-balik mengikuti setiap karakter di dalamnya. Apa yang mungkin membuat tensi tetap berjalan dan terasa adalah bagaimana Quentin mampu membuat penonton fokus dengan karakter yang berada di foreground namun juga membuat karakter yang berada di background melakukan sesuatu, menambah kesan kalau ada sesuatu yang akan terjadi yang tidak diperlihatkan secara langsung oleh lensa kamera.

Momen yang sangat saya sukai dan begitu meningkatkan ketegangan dalam film datang dari bab 4, “Domergue’s Got a Secret”. Pada awal bab dimulai, kita diceritakan oleh sang narator (Quentin yang menyuarakan, tentunya) kalau saat seluruh orang sedang sibuk memerhatikan ceritanya Mayor Warren, ada satu orang yang menaruh racun ke dalam kopi dan hanya Daisy yang melihatnya, dan itu mengapa bab ini bernama demikian. Ia mengetahuinya, dan karena itu setiap ada yang mendekati teko kopi ia selalu menoleh untuk melihat siapa yang akan mati.  Momen yang saya sukai yang halus tapi sangat berdampak adalah saat ia memainkan gitar, dan tengah bernyanyi ia menoleh setiap beberapa detik untuk melihat O.B. (James Park) dan John Ruth meminum kopi, dan fokus kamera selalu berganti setiap ia menoleh dari foreground: yakni Daisy ke background: yakni O.B. dan John yang sedang menuang kopi dan kembali bolak-balik.

robinekariski-film-daisy-domergue-di-the-hateful-eight

Dengan Minnie’s Haberdashery, Quentin Tarantino mengkarantina kesembilan karakternya dan memaksakan mereka untuk saling mengkonfrontasi satu dengan lainnya dan mulai menceritakan setiap kebohongan mereka untuk membuat karakter lainnya lengah. Seperti saat Mayor Warren yang bercerita ke Jenderal Sanford Smithers kalau ia menyiksa, memerkosa dan membunuh anaknya Sanford. Apakah cerita itu memang benar terjadi atau hanya sebuah cerita omong kosong? Tidak ada yang tahu, tetapi cerita itu berhasil memancing amarah Sanford dan memberikan Warren kesempatan untuk membunuhnya karena dendam yang ia miliki saat perang dulu. Di sini, kebohongan berhasil.

Dalam satu ruangan yang tertutup, film dapat dengan mudah terasa membosankan tetapi tidak dengan The Hateful Eight. Dari awal karakter kita memasuki penginapan itu, kita sudah langsung diperlihatkan setiap sudut ruang mulai dari dapur, perapian hingga bar. Tidak ada tempat yang terlewat, dan dengan begitu Quentin Tarantino dengan cepat melenyapkan unsur kejutan karena tidak ada lagi tempat tersembunyi yang terlewati. Atau begitulah yang ingin Quentin membuat kita berpikir, dan membuat kita lengah sehingga saat kejutan mulai bermunculan di sepertiga film berjalan dan kita tidak menyadarinya sedikitpun.

The Hateful Eight adalah seperti sebuah masterclass dari Quentin Tarantino mengenai meski terbatasnya ruang gerak dalam film tidak mengurangi ketegangan yang dapat dihasilkan dalam setiap adegan dan studi karakter yang beragam, eksentrik dan menarik serta menglihat bagaimana sutradara dapat memanfaatkan segala jenis dialog dan cerita untuk memanipulasi penonton, membuat kita sulit untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Semakin saya menonton film ini, semakin dekat saya akan mengatakan kalau The Hateful Eight adalah sebuah mahakarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s