Di luar negeri, film ini lebih dikenal dengan nama Memories of My Body. Saya tidak menyukai judul itu. Judul itu memiliki makna yang jauh berbeda dari Kucumbu Tubuh Indahku. Jika Kucumbu Tubuh Indahku berarti untuk menyayangi tubuhmu sendiri, berbeda dengan Memories of My Body yang berarti “Ingatan Tubuhku” yang tidak memiliki arti yang sekuat dan sedalam Kucumbu Tubuh Indahku. “Ingatan Tubuhku” terdengar seperti nama untuk film thriller atau horror.

Saat perilisan, tentu saja film ini mendapati respon yang sangat kuat. Beberapa menganggap film ini sungguh gemilang, sebuah film seni yang berani dan kuat. Namun tidak sedikit yang menganggap film ini adalah sebuah film yang menghina karena mengangkut unsur LGBT. Bahkan beberapa kota memboikot untuk melarang penayangan Kucumbu Tubuh Indahku karena dianggap mempromosikan perilaku seksual menyimpang. Ini bukanlah film yang biasa di tonton publik Indonesia, dan karena itu ada baiknya kita menonton film ini dengan pikiran yang terbuka. Apalagi film ini kini tersedia di Bioskop Online, mempermudah akses untuk menonton hanya dengan lima ribu saja.

Kucumbu Tubuh Indahku adalah sebuah film yang mempertanyakan kepribadian seseorang dengan karakter utamanya, Arjuna atau yang biasa dipanggil Juno (Muhammad Khan saat dewasa dan Raditya Evandra saat masih kecil). Orang di sekitarnya selalu mengatakan kalau nama Arjuna berarti gagah dan tangguh, tetapi berbanding terbalik dengan Juno yang memiliki sifat yang lemah lembut. Semenjak kecil, ia selalu kesulitan berkomunikasi dan berekspresi. Tetapi meski begitu, ada satu hal yang selalu menarik perhatiannya. Tari Lengger.

Film ini terbagi menjadi beberapa fase, mulai dari ia masih kecil hingga ia dewasa. Saat masih kecil, ia selalu terkesima dengan tarian itu. Dan dengan tarian itu juga ia mulai mengeksplorasi gender seksualnya. Kucumbu Tubuh Indahku adalah sebuah film coming-of-age yang memang mengambil sebuah tema yang sangat tidak mudah ataupun nyaman untuk dibahas. Apalagi konsep LGBT masih menjadi suatu konsep yang diantagoniskan oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

robinekariski-film-tarian-di-kucumbu-tubuh-indahku

Namun Garin Nugroho selaku penulis dan sutradara mengetahui konsep itu adalah sebuah konsep yang pastinya akan selalu muncul di tengah masyarakat, entah mereka menyadarinya atau tidak. Dengan film ini juga ia menggambarkan bagaimana masyarakat sekitar dengan mudahnya bermain hakim tanpa mencari tahu apa yang terjadi. Seperti sang guru Juno yang menyuruh Juno menulis di papan dengan kapur di mulut atau bibinya yang langsung menusuk jarinya Juno dengan benang.

Untuk sebuah film coming-of-ageKucumbu Tubuh Indahku juga adalah sebuah film yang sangat dalam. Lihatlah dan lewatilah konsep LGBT itu, maka penonton akan dapat melihat bagaimana film ini dengan kerasnya menggunakan tema kehidupan dan kematian yang memberikan cerita kedalaman yang sungguh menyentuh. “Pisah, pindah, mati itu biasa. Tapi kamu tidak usah takut. Yang namanya hidup itu cuma numpang mengintip kehidupan,” ucap Bulik Juno (Endah Laras).

Saat kecil, Juno secara terus terang diperlihatkan “lubang kehidupan” oleh guru tarinya (Sujiwo Tedjo). “Lubang kehidupan” yang sang guru perlihatkan adalah alat kelamin istrinya, yang diperlihatkan secara langsung kepada Juno yang masih kecil. Ia kemudian juga melihat guru itu yang membacok salah satu murid tarinya karena meniduri istrinya. Kehidupan. Kematian. Konsep yang selalu terjadi setiap hari tetapi jarang dibicarakan itu menghajar Juno dengan cepat, bahkan pada usianya yang masih kecil.

Pada fase selanjutnya kita melihat Juno yang sudah dewasa, kini menjadi penjahit. Saat pada kerjanya, ia bertemu dengan seorang petinju amatir (Randy Pangalila) saat ingin mengukur tubuhnya untuk pakaian sang petinju itu. Dengan pekerjaannya ini ia bisa lebih dekat melihat tubuh orang lain, dan dengan pekerjaan inilah ia mulai mengeksplorasi dirinya lebih dalam. Di sinilah ia mulai dekat dengan petinju itu, tidak mengetahui bagaimana akhir hubungan keduanya.

robinekariski-film-muhammad-khan-sebagai-juno-di-kucumbu-tubuh-indahku

Setiap di antara fase itu selalu muncul Juno yang sudah dewasa, menceritakan kepada penonton secara langsung mengenai pengalaman hidupnya dengan tariannya yang luwes dan tatapannya yang penuh tekad. Ia secara langsung merobohkan dinding keempat dan memberitahu ke penonton apa yang sudah dilaluinya. “Tubuhku adalah alam,” ia mengatakan pada satu kesempatan.

Kucumbu Tubuh Indahku tidaklah memiliki cerita yang rumit. Hanya menceritakan Juno saja. Tetapi bagaimana cara film ini mengeksplorasi kehidupan Junolah yang membuat film ini sungguh brutal, keras dan juga tidak main-main. Dengan Juno, Garin Nugroho mungkin juga ingin menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia menghadapi sesuatu yang baru, sesuatu yang selama ini menurut mereka adalah sesuatu hal yang tabu.

Mungkin saja film ini masih mendapati penentang yang tidak sedikit, bahkan hingga ada petisi yang sudah ditandatangani berpuluh-puluh ribu untuk menghentikan penayangan. Tetapi kita tetap tidak bisa memungkiri Kucumbu Tubuh Indahku memang adalah sebuah film yang puitis dan penuh makna. Memantik perdebatan dan diskusi memang adalah tujuan film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s