Ulasan berikut tentunya akan mengandung spoiler untuk serial Twin Peaks (tidak termasuk musim ketiga) yang dirilis sebelum Fire Walk with Me. Dan agar tidak membingungkan, saya akan menyebut filmnya hanya dengan “Fire Walk with Me” dan untuk serialnya dengan “Twin Peaks“.

Hingga beberapa hari yang lalu, saya tidak pernonton film apapun yang pernah dibuat oleh David Lynch. Mungkin hanya satu saja, yaitu film pendeknya yang dirilis di Netflix tiga tahun yang lalu, What Did Jack Do?. Selain itu, saya belum sempat mengunjungi filmografi miliknya. Hingga akhirnya saya penasaran dengan salah satu karyanya yang sering dikatakan sebagai sebuah pencapaian yang mengubah drama televisi, Twin Peaks, sebuah seri yang berdurasi dua musim dan ditayangkan dari 1990 hingga 1991.

Selesai musim kedua Twin Peaks, episode terakhirnya mengandung cliffhanger yang tidak pernah dilanjuti karena pembatalan yang dialami serial buatan David Lynch dan Mark Frost itu. Setahun setelah musim keduanya berakhir, di mana kita mengetahui kalau Agen Khusus Dale Cooper (Kyle MacLachlan) terperangkap di Black Lodge dan yang berada di dunia nyata adalah doppelganger versi jahatnya, David Lynch membuat Twin Peaks: Fire Walk with Me yang bukanlah sequel untuk serialnya melainkan sebuah prequel, menceritakan tujuh hari terakhir Laura Palmer (Sheryl Lee) sebelum dirinya terbunuh yang memulai musim pertama Twin Peaks.

Dengan begitu, tokoh utama film ini tidaklah lagi Agen FBI favorit kita, melainkan pusat perhatian film mengacu kepada anak sekolah sekaligus homecoming queen Laura yang sebelumnya tidak pernah diperlihatkan secara langsung semasa hidupnya di serial Twin Peaks. Tetapi yang menariknya, bukanlah Laura yang diceritakan saat awal Fire Walk with Me berlangsung. Film baru memasuki kisah Laura saat sudah berjalan selama 30 menit.

Fire Walk with Me sungguh berbeda dari serialnya, jika saya bisa mengatakan. Tidak dengan ceritanya, tetapi dengan bagaimana film ini berjalan. Twin Peaks, meski selama dua musimnya juga sempat mengalami momen-momen surrealisme, masih adalah sebuah serial dengan narasi yang lurus dan jelas. Berbeda dengan film ini yang dengan tangan David Lynch, menjadi sebuah film penuh momen magis yang saya tidak tahu apakah memiliki makna tertentu atau hanya ada di situ untuk memperumit film.

robinekariski-film-david-bowie-sebagai-phillip-jeffries-di-fire-walk-with-me

Mari kita ke cerita. Seperti saya katakan, film ini terbagi dalam dua kisah. Setahun sebelum kasus meninggalnya Laura, kita mengikuti dua agen yang mengusut kematian prostitusi muda, Teresa Banks (Pamela Gidley), di kota Deer Meadow yang berdekatan dengan kota Twin Peaks. Dua agen itu adalah Agen Khusus Chester Desmond (Chris Isaak) dan Sam Stanley (Kiefer Sutherland). Namun saat sedang meneliti sebuah cincin yang berkaitan dengan Teresa, Chester menghilang begitu saja tanpa jejak. Menghilangnya Chester akhirnya membuat Gordon Cole (David Lynch), pengawas agen FBI, menyuruh Dale untuk menyelidiki menghilangnya Chester.

Kemanakah Chester? Itulah pertanyaan Dale dan saya, saat kita sama-sama langsung saja melompat ke satu tahun setelahnya, memasuki cerita Laura. Memang ada beberapa petunjuk mengenai ke mana menghilangnya Chester, tetapi tidak pernah benar-benar dijelaskan. Hanya tergantung bagaimana kita menangkapnya. Begitu juga dengan kisahnya Laura, yang meski kita mengetahui bagaimana nasib terakhirnya, tetapi kita tidak pernah dijelaskan apa penyebab pembunuhnya menghantui Laura berhari-hari lamanya.

Saya sungguh menyukai kisah pertama film ini, saat investigasi dimulai karena saya menyukai saat Dale Cooper dan Sheriff Harry Truman (Michael Ontkean, dan tidak muncul di Fire Walk with Me) menginvestigasi dan mencari petunjuk selanjutnya di Twin Peaks. Chester Desmond dan Sam Stanley juga berpotensi menjadi duo yang sungguh menarik dan menghibur, dengan tingkah lakunya Sam yang sangat kaku dan formal dan diperankan dengan baiknya oleh Kiefer Sutherland. Sayang sekali cerita mereka hanya 30 menit saja dan tanpa penutup yang jelas.

Tidak hanya itu, David Bowie juga muncul dalam kisah mereka, meski tidak bertemu dengan kedua karakter itu melainkan bertemu dengan Dale, Gordon dan Albert Rosenfield (Miguel Ferrer) di kantor FBI. Bowie berperan sebagai Agen Khusus Phillip Jeffries, yang sudah menghilang dua tahun lamanya. Ia muncul secara tiba-tiba, kemudian bercerita mengenai pengalamannya selama ia menghilang sembari histeris dan berteriak, kemudian ia… menghilang lagi. Ia hanya muncul selama dua menit saja. Saya sangat menyesalkan itu karena karakternya memiliki potensi yang sungguh besar untuk membuat Fire Walk with Me menjadi lebih menghipnotis. Dia David Bowie, tentu saya menyesalkan dia hanya muncul selama dua menit saja.

robinekariski-film-sheryl-lee-dan-moira-kelly-di-fire-walk-with-me

Saat kisah sudah mulai memasuki Laura, satu tahun kemudian setelah menghilangnya Chester, dengan sungguh berat hati saya tidak menyukainya. Memang dengan begitu kita mengetahui kehidupan Laura sebelum ia meninggal, meski masih tetap saja tidak terlalu jelas (bagaimana ia bisa tercandu narkoba, atau bagaimana ia terus dihantui oleh BOB). BOB, yang diperankan oleh Frank Silva — yang sebelumnya bekerja sebagai dekorator di Twin Peaks namun langsung dipilih oleh David Lynch sebagai karakter BOB karena sebuah ketidaksengajaan pada episode pertama — tetap adalah sebuah karakter yang sungguh menyeramkan.

Kepribadian BOB yang sering muncul seketika memang menambah aura mistis ke dalam film yang sudah penuh dengan adegan-adegan yang berjalan seperti mimpi. Tidak hanya karakter BOB yang lebih sering muncul dari serialnya, film ini juga meningkatkan intensitas dengan menampilkan ketelanjangan dan memperbanyak kata kasar. Dan sayangnya intensitas film ini masih sering sekali tidak berjalan dengan sempurna, karena banyak momen yang memanfaatkan intensitas itu untuk menunjukkan kumpulan adegan-adegan mengkhayal.

Mungkin sayanya saja yang tidak bisa menangkap estetika film ini, karena saya mengetahui kalau aktor dalam film ini sungguh baik, terutama Sheryl Lee yang berperan sebagai Laura, seseorang yang mengalami tekanan mental yang sangat kuat. Dengan dunianya yang dipenuhi seks, narkoba dan BOB yang terus menghantuinya menyerang psikologi Laura secara berturut-turut, dan juga berimbas menyerang psikologi penonton dengan penuh adegan yang menggelisahkan. Untuk menyebut film ini sebagai horror psikologi memang sungguh pantas, karena memang itu yang terjadi. Di film ini kita terkagum, kebingungan serta ketakutan.

Tetapi lagi, banyaknya adegan yang dicampur-aduk justru membuat kisahnya Laura yang sudah sangat menantang tidak bisa berjalan dengan mulus, meninggalkan kesan yang berantakan. Atau mungkin sayanya saja yang tidak terbiasa menonton film seperti ini, dan harus memulai menonton film-film lainnya David Lynch. Film surrealisme memang bukanlah ranah saya. Tetapi saya sungguh, sungguh menyukai Twin Peaks, terutama saat cerita sudah fokus dengan kasus pembunuhan dan Dale Cooper yang siap menyelidikinya. Jadi saya masih memilik perasaan yang bercampur aduk dengan Fire Walk with Me. Mungkin saya akan kembali menontonnya di masa yang akan mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s