“Sebuah ide. Ulet. Mudah terjangkit. Sekali terlintas di otak, sebuah ide sulit dihapus. Ide yang terbentuk dan dimengerti akan tertanam dalam otak. Ide itu tinggal dalam otak” – Cobb dalam Inception.

Saya teringat dengan kalimat yang diucapkan oleh karakter yang diperankan Leonardo DiCaprio itu saat menonton She Dies Tomorrow, sebuah film thriller yang mungkin juga bekerja sebagai horror yang ditulis serta disutradarai oleh Amy Seimetz. Ini mungkin adalah film yang bekerja cukup dalam, sebuah film yang mengangkut sebuah motif mengenai kematian dengan caranya yang unik, tetapi saat menontonnya saya merasa kalau film ini tidak bisa menarik saya ke dalam seperti film ini menarik setiap karakternya.

Tokoh utama dalam film ini adalah seorang wanita muda bernama Amy (Kate Lyn Sheil). Amy yakin ia akan mati besok. Tidak ada tanda-tanda demikian, tidak ada tanda-tanda ia terjangkit penyakit atau ingin menyakiti dirinya, tetapi ia sangat yakin ia akan mati besok. Tindak-tanduknya yang menggelisahkan bahkan membuat temannya, Jane (Jane Adams), menjadi khawatir dan selalu meyakinkan kalau Amy tidak akan mati. Tetapi Amy tidak percaya. Ia yakin ia akan mati. Dan ia juga yakin ia akan berubah menjadi jaket kulit.

Kate Lyn Sheil memang memberikan sebuah penampilan yang cukup menantang, memainkan seorang wanita muda yang menghabiskan banyak waktunya di film melamun dan selalu memikirkan sesuatu. Jika biasanya saya kurang menyukai karakter seperti itu, berbeda dengan Amy yang meski banyak tingkah lakunya tidak saya pahami, ada sesuatu di balik tingkahnya yang seperti orang mabuk itu terpendam suatu sifat yang rapuh. Suatu sifat yang meyakinkan saya kalau ada sesuatu pada karakter Amy tersebut.

robinekariski-film-jane-adams-di-she-dies-tomorrow

Apa yang mengingatkan saya terhadap kata-kata Cobb adalah saat Amy mengatakan Jane kalau dirinya akan mati pada besok hari, Jane juga menjadi kepikiran dan mulai ikut keyakinannya Amy bahwa besok adalah hari terakhirnya ia hidup. Sebuah ide yang terbentuk di dalam Amy kini sudah tersalur ke dalam Jane, yang pekerjaannya adalah melihat sampel di bawah mikroskop.

Jane juga – meski tidak memakan sebanyak waktu seperti Amy – memiliki peran yang cukup signifikan di dalam film. Saat sudah memiliki kepercayaan bahwa besok adalah hari terakhirnya, ia mendatangi pesta ulang tahun iparnya, meski ia mengetahui hubungan dirinya dengan ipar tersebut tidaklah baik karena sifatnya Jane yang eksentrik dan juga berbeda dari kebanyakan orang. Itu memang terbukti saat ia mulai membicarakan bahwa dirinya akan mati pada besok hari, yang membuat saudaranya, Jason (Chris Messina) dan istrinya, Susan (Katie Aselton), tidak nyaman.

Tetapi ingat, ide adalah sebuah parasit. Dan dengan cepat Jason dan Susan juga percaya besok mereka akan mati. Begitu juga dengan tamu undangan mereka, sepasang kekasih Tilly (Jennifer Kim) dan as Brian (Tunde Adebimpe), yang percaya mereka tidak akan hidup setelah keesokan harinya.

robinekariski-film-tunde-adebimpe-di-she-dies-tomorrow

Konsep She Dies Tomorrow memang sungguh unik, karena idenya untuk penyebaran sebuah fobia mengenai kematian mengingatkan saya dengan situasi pandemi yang menyerang kita saat ini. Tidak hanya itu, film ini juga dengan caranya tersendiri bertanya kepada penonton, jika kalian mengetahui besok adalah hari terakhir kalian, apa yang akan kalian lakukan? Bagaimana reaksi kalian jika mengetahui besok adalah waktunya? Urusan apa yang akan ada selesaikan atau mungkin akan ada mulai sebelum menghirup udara untuk terakhir kalinya?

She Dies Tomorrow adalah sebuah contoh film arthouse lainnya yang mengagumkan secara visual – dengan permainan lampu antara biru hijau dan merah yang meski bisa mengakibatkan epilepsi namun indah – ceritanya yang melankolis meski tidak terlalu terlihat, dan alur ceritanya yang mungkin cukup lambat. Ini mungkin apa yang membuat saya menahan diri untuk menyebut ini adalah film yang sungguh baik dan hanya mengatakan sebagai film yang menarik.

Saat beberapa puluh menit awal, memang narasi cerita masih sangat mengambang dan longgar. Bahkan hingga film ini berakhir pun narasi cerita masih cukup terbuka, dan ini adalah contoh film yang meninggalkan kepada penontonnya untuk menginterpretasikan apa yang terjadi di dalam film. Memang visual film ini mengagumkan, mendukung narasinya yang terbuka, tetapi juga menjadikan ceritanya yang bermaksud merefleksikan mengenai kematian tidak mudah dicerna. Atau mungkin itu tujuan film ini dibuat, karena kematian itu sendiri bukanlah sesuatu yang mudah untuk dicerna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s