Tulisan berikut akan mengandung spoiler untuk film The Legend of 1900.

Sungguh jarang, rasanya, saya menonton sebuah film dan sungguh menginvestasi seluruh perasaan saya ke dalamnya, hanya untuk menemukan pada setengah jam terakhir kalau cerita film itu mengkhianati perasaan saya. Itulah yang saya rasakan saat menonton The Legend of 1900, atau yang dalam versi Italianya adalah La leggenda del pianista sull’oceano. Saya menonton film Italia yang dirilis pada tahun 1998 dan ditulis serta disutradarai oleh Giuseppe Tornatore tersebut kira-kira lebih dari sepuluh hari yang lalu dan hingga sekarang saya masih dihantui olehnya.

Saya tidak yakin tulisan berikut akan menjadi apa, tetapi sepertinya akan menjadi setengah sebuah ulasan dan setengahnya sebuah perasaan saya saat menontonnya sehingga tulisan ini akan mengandung spoiler, terutama pada bagian akhirnya yang membuat saya berpikir hingga sekarang.

Semenjak meninggalnya komposer Ennio Morricone – mungkin saja komposer film terhebat yang pernah ada – saya mendapati diri saya mendengar lagu-lagu yang pernah disusun oleh beliau. Apalagi terdapat sebuah album di Spotify yang bernama “Famous Morricone Soundtracks” yang sepertinya sudah saya dengar berulang-ulang kali, mulai dari musik legendarisnya di The Good, the Bad and the UglyThe Mission hingga The Hateful Eight. Salah satu lagu yang saya temui di album tersebut yang sungguh saya gemari adalah “Playing Love”, yang merupakan permainan piano yang indah untuk film The Legend of 1900. Dan karena lagu itulah saya mencoba menontonnya, apalagi ada Tim Roth yang menjadi pemeran utama, saya semakin semangat untuk menonton.

Sesuai namanya, cerita film ini memanglah seperti sebuah dongeng, sebuah legenda mengenai seseorang yang bernama Danny Boodman T.D. Lemon 1900. Bahkan namanya sendiri yang seperti sebuah lokomotif juga memiliki elemen surealis dan unik. Dan seperti sebuah legenda, tidak ada bukti yang bisa membuktikan kalau dirinya memang nyata kecuali kisahnya yang selama film disampaikan oleh sang narator.

Narator dalam film ini adalah Max Tooney (Pruitt Taylor Vince), seorang mantan pemain terompet dalam kapal pesiar yang kini meralat dan bahkan rela menjual terompet miliknya di sebuah toko musik bekas. Saat selesai menjualnya terompetnya untuk hanya 25 dolar, ia mendengar sang pemilik toko memainkan sebuah piring hitam dan mulailah lagu “Playing Love”. Max terkejut, dan saat sang pemilik bertanya siapakah pencipta lagu ini karena tidak terdapat nama, Max menceritakan kisahnya. Kisahnya saat ia masih bekerja di kapal pesiar bernama “Virginian” dan bertemu dengan seseorang yang bernama Danny Boodman T.D. Lemon 1900 (Tim Roth).

robinekariski-film-nineteen-hundred-saat-masih-bayi-di-the-legend-of-1900

Ia diberi nama itu karena ia ditemukan saat masih bayi di sebuah kotak lemon bermerek “T.D. Lemons” oleh seorang awak kapal bernama Danny (Bill Nunn) pada tahun 1900. Selama beberapa tahun ia dibesarkan oleh Danny hingga dirinya menemui ajal dan memaksa “Nineteen Hundreed”, nama panggilannya, untuk hidup seorang diri menjadi yatim piatu di dalam kapal yang besar itu, melewati luasnya lautan. Hingga suatu hari, saat ia terkesima oleh seseorang yang bermain piano di lounge kapal. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui ia memiliki bakat terpendam dan menjadi pianis terbaik di kapal (dan mungkin juga di dunia).

Berdurasi hampir tiga jam, saya bisa mengatakan saya sungguh sungguh menyukai film ini. Tidak, saya mencintai film ini. Ada suatu adegan yang sungguh membuat saya sangat senang karena betapa dalamnya saya sudah ditarik dalam film ini, yaitu saat Nineteen Hundred melihat seorang wanita muda (Mélanie Thierry) lewat sebuah jendela dan mulai memainkan “Playing Love” di piano miliknya dengan wajahnya yang memiliki emosi yang bercampur: sedih, terkesima, kaget, tertarik.

Selama hidupnya, Nineteen Hundreed hidup di dalam kapal. Ia tidak pernah sekalipun tertarik untuk menginjakkan kakinya di atas tanah. Ia enggan untuk bermain musiknya selain di dalam kapal itu, meski ia sudah ditawari berkali-kali oleh beragam pendengarnya untuk bermain di kota mereka. Namun saat melihat wanita itu, ia langsung mendapati sebuah perasaan kalau dunia di luar kapal mungkin tidak seburuk yang dipikirkannya. Mungkin dunia luar mampu menawarkan sesuatu yang tidak pernah ia dapati, seperti cinta.

robinekariski-nineteen-hundred-melihat-wanita-muda-saat-memainkan-playing-love-di-the-legend-of-1900

Untuk pertama kalinya ia jatuh cinta. Dan ia bahkan bersiap untuk menolak menjual satu-satunya rekaman “Playing Love” dan berniat untuk memberikan rekamannya kepada wanita yang ia lihat sebelumnya. Dan bertemulah mereka akhirnya pada saat menurunkan penumpang kapal, dan meski tidak bisa memberikan rekamannya itu karena situasi sekitar, wanita itu mencium pipinya Nineteen Hundred dan mengatakan untuk mengunjungi rumahnya. “Mungkin,” jawab Nineteen Hundred setelah wanita itu memberikan alamatnya.

Cerita ini memang berjalan seperti dongeng, seperti sebuah kisah yang terdengar mustahil, seperti bagaimana ia menang duel bermain piano dengan Jelly Roll Morton, seorang tokoh nyata dalam industri musik jazz yang dalam film diperankan oleh Clarence Williams III. Dan karena cerita sudah seperti dongeng, mengapa tidak untuk menyelesaikan cerita ini juga seperti sebuah dongeng, dengan Nineteen Hundred turun dari kapal bertemu wanita itu dan hidup bahagia selamanya? Setidaknya itulah harapan yang sudah tumbuh cukup besar dalam diri saya saat menonton.

Pada titik itu, saya sudah mencapai tahap “mencintai” dalam film ini. Saya sungguh menyukai ceritanya yang ambisius, saya menyukai karakternya Nineteen Hundred yang dengan sempurna terpadu dalam sifat polos dan pintar. Saya menyukai lagu-lagu di dalamnya, yang tentu saja disusun oleh Ennio Morricone. Dan saya juga sudah berharap untuk yang terbaik pada akhir film ini. Sayangnya, bukan itu yang saya dapati.

Saat melihat wanita itu meninggalkan kapal, Nineteen Hundred mengatakan kepada Max kalau dia ingin turun dari kapal. Ia mengatakan kalau ia ingin melihat laut, sesuatu yang ia lihat setiap hari dalam hidupnya, dari darat karena mendengar kisah bertahun-tahun yang lalu kalau orang bisa mendengar teriakan laut dari kapal. Max menyangkalnya, mengatakan ia ingin turun pasti karena wanita itu. Apapun alasannya, Nineteen Hundred sudah memantapkan hatinya untuk turun dari kapal pada tiga hari kemudian saat berlabuh di New York.

Dan datanglah hari itu. Datang hari di mana ia akan mengucapkan perpisahan kepada semua kawan-kawannya. Mengucapkan selamat tinggal kepada kapal yang sudah dijadikan sebagai rumahnya selama berpuluh-puluh tahun. Tiba saatnya ia akan turun tangga dan untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di atas tanah. Tetapi ia berhenti. Di tengah tangga, ia berhenti dan melihat besarnya kota New York yang membentang di hadapannya. Setelah dua menit terdiam, ia melempar topinya ke laut dan lagi balik ke dalam.

robinekariski-nineteen-hundred-melihat-new-york-di-the-legend-of-1900

Adegan ini terjadi pada 30 menit terakhir film, dan dengan adegan inilah yang membunuh adegan sebelumnya yang sungguh saya sukai. Dan setelah adegan ini film terus jatuh, tidak pernah memberikan penontonnya penutup yang kita cari-cari setelah berkoar-koar menceritakan mengenai seseorang yang selama ini hidup sendiri, menutup kesempatan orang ini untuk benar-benar menikmati hidup dan melihat apa yang ditawarkan oleh dunia sebenarnya.

Pada akhirnya, Perang Dunia II melanda dan kapal pesiar Virginian yang dulunya sebuah transportasi liburan dan pengungsian menjadi kapal rumah sakit. Max selesai bekerja dan tidak lagi mendengar nama kapal itu, hingga ia akhirnya mendengar kalau kapal Virginian akan diledakkan dan ditenggelamkan usai menjadi kapal rumah sakit. Ia mengambil rekaman “Playing Love” dan memaksa masuk ke dalam kapal, memutarkan musik itu di seluruh ruangan kapal berkali-kali guna menarik perhatian Nineteen Hundred karena ia mengetahui kalau Nineteen masih di dalam kapal, meski orang-orang tidak ada yang memercayainya dan tidak menemukannya saat mengecek.

Max mengajak Nineteen Hundred untuk keluar dari kapal, tetapi ia menolak. “Bukanlah apa yang aku lihat yang menghentikanku, Max. Adalah apa yang tidak bisa aku lihat. Bisakah kau mengerti itu?” Nineteen mengatakan kepada Max. “Apa yang tidak aku lihat. Di dalam kota yang terbentang itu, ada semuanya kecuali akhirnya. Apa yang tidak bisa aku lihat adalah di mana seluruh hal itu akan berakhir.”

robinekariski-film-nineteen-hundred-terakhir-kalinya-bertemu-max-tooney-di-the-legend-of-1900

Dengan itulah Nineteen Hundred menyegel nasibnya. Ia lanjut mengatakan tidak bisa meninggalkan kapal karena nasibnya sudah terikat dengan kapal yang menjadi rumah seumur hidupnya. Max, yang tentunya sedih, meninggalkan Nineteen Hundred seorang diri di dalam kapal. Dan meledaklah kapal itu, menghilangkan jejak kehidupan Nineteen Hundred, menghilangkannya dari sejarah kecuali kisah yang dimiliki Max Tooney.

Perasaan campur aduk mengisi saya usai menonton ini. Apalagi karena saya menontonnya pada tengah malam, saya menjadi tidak bisa tidur selama satu jam karena terus memikirkan film ini. Mengapa Giuseppe Tornatore menutup kisah dongengnya seperti itu? Mengapa kisah ini, yang selama dua setengah jam sudah berjalan dengan energi yang meledak-ledak dan nuansa yang sungguh menyenangkan, harus ditutup dengan adegan yang tragis dan terlalu dipaksakan? Bukankah ada Max yang siap menuntun Nineteen? Bukankah ada wanita yang ia temui sebelumnya yang sudah mengajak Nineteen untuk kerumahnya?

The Legend of 1900 berhasil menggerogoti diri saya karena untuk pertama kalinya saya merasakan patah hati dalam film. Bahkan tujuan saya menulis ini sebenarnya adalah karena siapa tahu dapat mengenyahkan perasaan tidak enak saya terhadap film ini. Jika ditanya apakah film saya menyukai film ini, saya akan menjawab saya mencintai film ini! Saya mencintai betapa manisnya cerita ini, saya mencintai setiap karakternya dan saya mencintai setiap musiknya. Tetapi jika lagi ditanya apakah saya kecewa dengan film ini, saya juga akan menjawab iya. Iya, penutupnya tidak hanya menghancurkan dongeng Nineteen Hundred, tetapi juga terlihat berusaha menghancur leburkan perjalanan saya bersama film ini selama dua setengah jam, tepat sebelum ia ingin turun dari kapal.

Meski semua itu, saya sungguh mengapresiasi film ini. Pada akhirnya, saya tetap mengatakan kalau saya menyukai film ini yang dapat memberikan saya sebuah kisah yang sungguh seru sekaligus menyenangkan. Murni menyenangkan. Penutupnya memang masih mengejutkan, tetapi saya tetap tidak bisa menyangkal betapa indahnya film ini dan betapa mengagumkannya musik yang terlintas pada setiap adegannya. Sekarang saya akan menghabiskan seumur hidup saya menganggap Nineteen Hundred turun dan hidup dengan bahagia bersama kawan-kawannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s