Hanya satu film di Netflix yang menggunakan fitur interaktif yang saya tonton, yaitu Black Mirror: Bandersnatch yang keluar dua tahun lalu. Meski terdengar menjanjikan, tetapi Bandersnatch terasa berjalan tidak seliar dan semenarik biasanya karena terkekang dengan fitur yang digunakannya. Kini Unbreakable Kimmy Schmidt: Kimmy vs. The Reverend juga menjadi film kedua yang saya tonton yang juga menggunakan fitur itu, dan apa hasilnya? Tidak hanya sungguh menyenangkan, tetapi film ini juga dengan berhasil memanfaatkan fiturnya yang sungguh rumit itu.

Pada dasarnya, dengan fitur interaktif kita bisa mengatur bagaimana cerita film akan berlanjut dengan diberikan pilihan saat cerita berlangsung. Seperti saat Kimmy (Ellie Kemper) dan Titus (Tituss Burgess) bingung apakah mereka akan berjalan menuju kota terdekat atau menunggu Uber selama 4.000 menit. Di sinilah di mana kita sebagai penonton diberikan pilihan bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah mereka dan tentunya setiap pilihan memiliki efek dan konsekuensi, layaknya sebuah permainan visual novel.

Fitur interaktif seperti ini memang terdengar menyenangkan, apalagi menjanjikan kebebasan kepada penontonnya, tetapi fitur ini juga bisa berimbas dengan kurang fokusnya naratif film berjalan. Lihat saja Bandersnatch yang sayangnya cerita yang dimilikinya jauh dari segi kualitas dengan episode-episode sebelumnya. Namun di Kimmy vs. The Reverend, fitur ini bekerja dengan baik karena fitur ini bisa menambah energi kekonyolan dan lelucon ke dalam film, dengan setiap pilihan dapat menghadiahkan adegan atau cerita yang kocak dan tidak terduga-duga.

Kimmy, yang kini sudah menjadi penulis buku terkenal, tengah merencanakan acara pernikahannya dengan Pangeran Frederick (Daniel Radcliffe), seorang pangeran dari Kerajaan Inggris yang bertemu dengan Kimmy karena menyukai buku yang sama. Dengan acara pernikahaan tinggal beberapa hari saja, Kimmy mendapati petunjuk kalau Pendeta Richard Wayne Gary Wayne (Jon Hamm) — yang menculik Kimmy sebelum musim pertama dimulai — rupanya memiliki bunker lain yang juga menampung sekumpulan wanita yang diculiknya. Tidak bisa membiarkan itu terjadi, Kimmy menyusuri petualangan berikutnya untuk menyelamatkan para wanita tersebut.

robinekariski-film-kumpulan-karakter-di-kimmy-vs-the-reverend

Sama seperti musim-musim sebelumnya, Kimmy vs. The Reverend masih memiliki kapasitas humor dan kekonyolan yang sungguh luar biasa besar dan sangat cocok dengan fitur interaktif, menghasilkan sebuah film yang memang lucu tanpa dipaksakan. Apa yang sangat saya gemari adalah bagaimana setiap adegan selalu berjalan mulus, tidak peduli pilihan apa yang kita ambil. Memang setiap pilihan dapat menghasilkan cerita dan adegan yang berbeda, namun setiap potongan adegan itu dangan dengan mulus bergabung dengan cerita sebelum atau yang akan datang.

Dan layaknya sebuah permainan, pilihan yang sudah kita pilih sebelumnya dapat berimbas pada jalan cerita jauh di depan, yang membuat cerita film selalu terasa menarik dan terus memberitahu ke penonton kalau apa yang kita pilih memanglah berpengaruh dan bukan hanya sekedar iseng-iseng saja. Bahkan bisa berefek kepada beberapa karakter hingga akhir cerita, sesuatu yang baru saya ketahui saat saya menonton untuk yang kedua kalinya.

Salah satu lelucon dalam film yang memang benar-benar memanfaatkan segi teknis Netflix adalah pada awal film, saat pembukaannya dimulai dan lagu temanya bermain (salah satu lagu tema paling sempurna dalam acara seri yang pernah saya tonton). Sama seperti serial Netflix lainnya, ada pilihan untuk “Melewati Intro”. Jika menekan itu di Kimmy vs. The Reverend, maka akan muncul Walter Bankston (Mike Britt) — yang dikenal sebagai seseorang yang wawancaranya di-remix untuk musik pembuka — yang kesal karena penonton akan melewati intro, dan karena itu ia akan mempersembahkan lagu intro yang lebih panjang dari sebelumnya dan penonton tidak akan bisa melewatinya.

Itu juga apa yang saya sukai dari film yang disutradarai oleh Claire Scanlon ini, karena dengan banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi dengan setiap pilihan, Kimmy vs. The Reverend patut untuk dimainkan berulang kali. Bahkan ada adegan yang hanya bisa didapatkan jika  penonton mengulang pilihan yang sama, meski mengetahui kalau pilihan itu akan menyebabkan berakhirnya cerita dan penonton akan dibawa kembali saat harus memilih pilihan itu. Jadi jika kalian memilih sebuah pilihan, kemudian film berakhir karena pilihan itu, dan kalian kembali diberikan pilihan, cobalah untuk lagi memilihnya. Film tetap akan berakhir, tetapi akan ada adegan baru yang kocak dan pantas untuk ditonton.

robinekariski-film-jon-hamm-di-kimmy-vs-the-reverend

Tidak hanya dari segi teknis yang mengagumkan, tetapi cerita dan karakter di dalam Kimmy vs. The Reverend memang tidak kalah kocak dengan serinya. Tentu saja karakter terbaik di film ini, sama seperti pada musim-musim terdahulu, adalah kawan Kimmy sekaligus seseorang yang kini sudah menjadi aktor film action, Titus. Dengan tingkah lakunya yang bak diva dan kepribadiannya yang selalu mengeluh tetapi tetap mendukung Kimmy, sangat sulit untuk membayangkan apakah serial ini akan selucu sekarang tanpa kehadirannya. Dengannya, saya bisa tertawa hanya dengan melihat wajahnya.

Pendeta Richard atau yang biasa dipanggil Dick, juga menjadi penggerak dalam film, apalagi diperankan oleh aktor Jon Hamm yang notabene dikenal memerankan film atau seri serius seperti Mad MenThe Town dan Bad Times at the El Royale. Tetapi kini ia juga mulai bermain di ranah komedi, selain Kimmy ia juga bermain di Tag dan Good Omens yang membuat saya percaya kalau ia mampu bermain di komedi karena tidak hanya melihat seseorang yang biasa bermain drama bermain di komedi memang lucu, tetapi ia memang memiliki bakat yang humoris. “Aturan Jurrasic Park! Jika aku tidak bergerak, kau tidak bisa melihatku!” ucap satu dari sekian kalimat konyolnya di film ini.

Beberapa tahun terakhir saya memang cukup kesulitan mencari sitcom yang memang saya sukai karena: 1) kebanyakan sitcom yang saya temui memiliki lelucon yang terlalu dipaksakan dan humor yang tidak mengena, dan 2) saya tidak menyukai penggunaan laugh track. Makanya saat menemukan Unbreakable Kimmy Schmidt beberapa tahun yang lalu, alangkah bahagianya saya karena menemukan sebuah sitcom yang memili premis yang unik dan karakter yang sungguh liar dan jenaka dalam caranya tersendiri. Hingga kini saya masih percaya serial itu adalah sitcom terbaik dalam dunia layanan streaming.

Dan Kimmy vs. The Reverend adalah sebuah penutup yang pantas untuk tidak hanya serial yang sangat jenaka itu, tetapi juga untuksalah satu karakter sitcom yang paling disukai, Kimmy Schmidt itu sendiri. Garis besar akhir film ini mungkin tidak akan banyak berubah tidak peduli apa yang dipilih, tetapi petualangan yang dilalui olehnya sangatlah seru dan pantas untuk dijelajahi. Dan tetap saja, setiap pilihan terasa menggiurkan untuk dicoba.

Unbreakable Kimmy Schmidt: Kimmy vs. The Reverend sudah tayang dan bisa ditonton di Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s