Perry Mason adalah sebuah karakter yang telah berkali-kali kisahnya diceritakan di berbagai medium dalam kurun waktu lebih dari 50 tahun. Bermula dari novel “The Case of the Velvet Claws” yang keluar pada 1933, kisah dan karakter Perry Mason telah muncul di radio, novel, acara televisi hingga film. Dan kini, pada 2020, Perry Mason kembali mendapatkan reboot dalam bentuk serial TV di saluran HBO dan diperankan oleh Matthew Rhys (A Beautiful Day in the Neighborhood).

Perry Mason tidaklah segan-segan dalam menyajikan ceritanya dengan cara yang brutal dan mengerikan, seperti saat serial ini tidak ragu untuk menunjukkan mayat seorang bayi dengan matanya yang terjahit secara terbuka, bahkan membuat karakter utama kita kaget saat melihat pertama kali. Tentu saja mengingat acara ini berada di HBO, saluran yang sama yang menyalurkan Game of Thrones, sepertinya saya tidak perlu kaget untuk mengantisipasi bagaimana acara ini memiliki kebebasan yang lebih dari acara di saluran lainnya.

Bayi itu adalah Charlie Dodson, anak dari Matthew (Nate Corddry) dan Emily Dodson (Gayle Rankin). Pada awal episode pertama, kita mempelajari kalau Charlie telah diculik dari kedua orang tuanya dan untuk menemukan anaknya, Matthew dan Emily harus membayar sebesar $100,000 kepada sang penculik. Mereka membayarnya, tetapi Charlie tetap harus kehilangan nyawanya. Dan disinilah di mana Perry, penyelidik swasta kita, masuk ke acara.

Dari apa yang bermulanya menjadi kasus penculikan semakin berubah menjadi sebuah konspirasi yang besar seiring musim pertama berjalan dan setiap teka-teki mulai terpecahkan, dan inilah yang saya sukai dari Perry Mason, yaitu bagaimana acara ini berhasil mengembangkan kisahnya yang sungguh rumit – dan terkadang membingungkan – tetapi semua misteri dengan rapihnya terpecahkan sehingga pada akhir musim pertamanya tidak ada lagi pertanyaan atau kejanggalan yang tersimpan di kepala saya, dan itulah yang sungguh saya sukai dari sebuah kisah misteri detektif.

robinekariski-tv-series-chris-chalk-sebagai-paul-drake-di-musim-pertama-perry-mason

Meski begitu, saya masih tetap merasakan cerita dalam serial ini sering tersendat, terutama saat serial ini mulai memusatkan perhatiannya kepada Alice McKeegan (Tatiana Maslany), seorang pengkotbah dan pemimpin Gereja Radiant Assembly of God. Dia memang memiliki koneksi dengan salah satu anggota gerejanya, Emily, ibu dari Charlie yang hampir selama seluruh musim dijadikan tersangka dalam pembunuhan bayinya, tetapi selama sekitar setengah musim kita selalu disisihkan waktunya untuk diceritakan kisahnya Alice yang bahkan belum terlihat apa hubungannya dengan kisah utama serial ini hingga pada beberapa episode terakhir yang barulah mulai berhubungan.

Tetapi saat Perry Mason mulai menceritakan kisah utama misterinya barulah serial ini benar-benar terasa mendebarkan, pintar dan juga menarik. Tidak hanya kisahnya yang memang seperti sebuah labirin dengan seribu jalan, apa yang membuat acara ini benar-benar hidup adalah karakternya. Mulai dari karakter utamanya hingga beberapa karakter pembantu memiliki sifat dan kepribadian yang unik dan eksentrik, menjadikan musim pertamanya selalu hidup dan tidak pernah terasa datar.

Mari lihat karakter utamanya, Perry Mason. Matthew Rhys dengan sempurna memerankan seorang tokoh yang berantakan, baik dari segi penampilannya hingga kehidupannya. Ia juga dengan sempurna menyeimbangkan sifat amarah Perry yang sering meledak karena kesulitan untuk menahannya dan sifat pintarnya, di mana Perry mengetahui kapan ia harus bersikap tenang dan memikirkan serta menjalankan rencananya dengan kepala dingin. Perry Mason bukanlah detektif terbaik di dunia, tetapi ia adalah seseorang yang pantang menyerah bahkan hingga mencapai titik di mana ia mengenyahkan kehidupan sosial miliknya demi pekerjaannya.

Kemudian kedua rekannya, Pete Strickland (Shea Whigham) dan Elias Birchard Jonathan atau yang biasa dipanggil “E.B.” (John Lithgow) juga dengan sempurna melengkapi kumpulan karakter yang unik di Perry Mason. Pete gemar membaca cerita romantik di koran bahkan hingga membuat Perry jengkel. “Apakah kau tidak pernah merasakan ketegangan dalam hidup? Cinta, romansa, kegembiraan?” ia bertanya ke Perry. “Tidak pernah mendengar itu,” jawab Perry. “Mungkin kau harus membaca Lipstick Girl,” balas Perry yang mereferensikan kepada cerita yang sedang ia baca.

Jika Perry dan Pete adalah duo yang selalu memberikan elemen keliaran ke dalam Perry Mason, berbeda dengan E.B. dan asistennya, Della Street (Juliet Rylance) yang menawarkan ketenangan ke dalamnya. Jika kalian memang belum pernah melihat bakat John Lithgow dalam film, maka karakternya di sini bisa menunjukkan bahwa dirinya dapat memegang kendali penuh sebuah cerita, bahkan karakternya bersinar dan menjadi karakter terbaik pada satu episode, yakni episode keempat di mana kehadirannya menambah dinamika dalam cerita yang tidak bisa diberikan karakter lainnya.

robinekariski-tv-series-pencayahaan-di-musim-pertama-perry-mason-yang-indah

Selain mereka, seorang karakter yang kehadirannya juga menambah kedalaman pada cerita adalah Paul Drake (Chris Chalk), seorang polisi berkulit hitam yang selalu bekerja sendiri karena ia percaya kalau karena kulitnya itulah ia tidak pernah mendapatkan partner dalam tugas dan hanya selalu menjadi polisi patroli. Ia percaya untuk berbuat yang benar, tetapi ia tidak bisa melakukannya karena tekanan dari atasannya yang korup serta istrinya yang selalu mengatakan kalau ia beruntung memiliki pekerjaan dan harus selalu patuh dengan atasannya. Kehadirannya di sini menghadirkan polemik dan dilema dalam cerita, yang tentunya menambah kedalaman dalam ceritanya.

Apa yang mendukung karakter di Perry Mason, selain akting dari setiap pemainnya yang sempurna, adalah dialognya yang autentik dan juga pintar. Salah satu perbincangan yang saya gemari karena memiliki makna yang dalam adalah saat Paul Drake sedang berbincang kepada salah satu temannya. “Lagipula, siapa yang kau kejar?” tanya temannya. “Polisi lainnya,” jawab Paul. “Polisi lainnya? Bukankah kau sudah cukup hitam dan biru (melambangkan dua warna polisi)?” tanya balik temannya. “Saya kira sudah waktunya untuk memilih satu atau yang lainnya,” jawab Paul, mengatakan bahwa ia akan memilih antara hitam yang berarti kulitnya atau biru yang berarti kepolisian.

Dan tentu, apa yang sungguh saya sukai dari Perry Mason adalah betapa indahnya serial ini secara visual. Apa yang paling saya kagumi adalah pencayahaan pada seluruh musim pertamanya terutama bagaimana mereka memanfaatkan cahaya matahari yang menyinari masuk ke dalam ruangan lewat jendela, membuat hampir seluruh shot di dalam serial ini sungguh cantik dan menawan meski ditengah ceritanya yang kelam. Tidak hanya itu, serial ini juga begitu mengagumkan dari segi dekorasi dan lingkungan di mana mereka bisa benar-benar membuat suasana kembali ke Los Angeles tahun 1932 dengan kendaraannya yang kuno, pakaiannya yang klasik hingga bangunan di sekitar.

Sebelumnya Perry Mason dikabarkan hanya akan dijadikan sebagai sebuah miniseri, yang berarti hanya akan terdiri dari musim pertama dan tidak akan ada kelanjutannya. Namun saat pertengahan musim pertama, HBO memutuskan untuk mengubah Perry Mason menjadi serial TV dan musim keduanya telah diperbaharui. Saya, tentunya, berharap dapat kembali menonton apa petualangan selanjutnya untuk tokoh utama kita dan kegilaan apalagi yang akan menimpanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s