Awal bulan ini, Netflix memasukkan film Indonesia Ave Maryam yang pertama kali mendapatkan penayangan di Festival Film Internasional Hanoi dua tahun yang lalu dan di Indonesia sendiri di festival Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada November 2018. Film ini mungkin memang tidak terlalu sering terdengar karena hanya ditayangkan di 30 bioskop saja di seluruh Indonesia pada tahun lalu, mungkin karena masih sulitnya masyarakat menerima film yang menyinggung tema agama secara langsung seperti film ini.

Ceritanya Ave Maryam tidaklah rumit. Durasinya pun juga tidaklah panjang, hanya 72 menit. Meski dari apa yang saya baca di internet dan di sosial media kalau ada versi film yang lebih panjang atau uncut, Netflix hanya menyediakan yang versi yang sudah dipotong dan sebagai pelanggan setia dan penonton, tidak ada yang bisa saya lakukan selain menerimanya. Mungkin suatu saat sang sutradara Ertanto Robby Soediskam akan merilis yang versi uncut, tetapi sekarang kita diharuskan puas terlebih dahulu dengan versi yang sudah ada.

Ave Maryam berlatar pada Semarang, 1980 di Kesusteran Mitra Sepuh. Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) adalah salah satu suster dan juga perawat suster sepuh di rumah biarawati tersebut. Kesehariannya juga sangatlah sederhana: berdoa, mengurus suster sepuh seperti memandikannya, mengurus pesanan susu botol, menyiapkan makanan hingga membersihkan gereja. Kesehariannya penuh dengan ketenangan dan ketentraman.

Hingga pada suatu hari saat gereja akan dipimpin oleh seorang pastor baru yang bernama Romo Yosef (Chicco Jerikho), kehidupan Maryam juga mulai mengalami perubahan. Yosef, dengan bakatnya sebagai guru orkestra dan juga penampilannya yang tampan (rambutnya yang panjang dan berjanggut memang sebetulnya lebih ke berantakan, tetapi bekerja untuk dia) membuat Maryam semakin lama semakin tertarik dengannya, dan begitu juga dengan Yosef yang secara terang-terangan terus berusaha mengajak Maryam untuk pergi jalan-jalan.

robinekariski-film-maryam-melihat-ke-laut-di-ave-maryam

Dengan premis yang sederhana seperti itu, terbilang sudah tepat untuk memiliki durasi yang tidak mencapai 90 menit. Film jadi terasa tidak terlalu menyia-nyiakan untuk adegan yang tidak penting dan selalu berusaha untuk tetap dengan kisah utamanya. Dari awal hingga akhir, Ave Maryam memang selalu berusaha untuk berpegang teguh dengan tiga tema utamanya, yakni konflik antara agama, cinta dan juga dosa karena baik Maryam dan Yosef mengetahui apa yang berpotensi akan terjadi, dan meski memiliki konsekuensi mereka tetap melakukan apa yang hendak mereka lakukan.

Tetapi meski begitu, film terasa tidak terlalu berjalan mulus. Tidak jarang saya merasa hilang di tengah film, dan mungkin karena beberapa adegan terasa tidak konsisten dengan bagian sebelum atau sesudahnya. Terkadang saya yang sudah penuh konsentrasi menonton tiba-tiba merasa lepas dan hilang selama beberapa saat sebelum akhirnya saya lagi berusaha menonton yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Apakah karena sayanya yang sering hilang konsentrasi atau karena memang film terasa tidak terlalu konsisten, saya masih mendebatkan dan mungkin akan menontonnya lagi suatu saat (itupun kalau masih ada di Netflix).

Mungkin apa yang menyebabkan itu adalah bagaimana kurang mendalamnya karakter di Ave Maryam. Mereka seperti tidak diberikan banyak ruang dan waktu untuk bergerak dan memberikan sesuatu yang dapat menambah intensitas ke dalam cerita. Meski tema yang diusungnya sudah sangat berat, mengingat bagaimana tabunya masalah mengenai agama, cinta dan dosa bahkan hingga kini, namun film ini terasa kurang terlalu memanfaatkan tensi antara ketiga tema yang mereka ambil itu, sehingga kalau film ini masih terasa kurang kuat kalau tujuannya ingin membuat penonton berpikir.

Kemudian apa yang membuat film ini juga terasa kurang “nendang” adalah bagaimana dialog di dalam film berjalan. Tidak terasa alami, bahkan seperti setiap dialog itu bagaikana sebuah kutipan-kutipan yang mereka ambil dari berbagai sumber sehingga percakapan tidak berjalan dengan irama yang tepat. Terlebih karena ini adalah film yang minim dialog, sehingga dialog dirasa bukanlah penggerak utama cerita melainkan hanya sebagai pemulus untuk membantu kisahnya bergerak.

robinekariski-film-maudy-koesnaedi-sebagai-maryam-di-ave-maryam

“Ada apa Romo?” Maryam berkata saat menemui Yosef pada malam hari. “Saya ingin mengajakmu keluar mencari hujan di tengah kemarau,” jawab Yosef. “Maaf, sudah malam,” balas Maryam yang kemudian menutup pintu. Percakapan seperti itu juga terasa tidak alami, tidak seperti bagaimana dua orang seharusnya berbicara satu dengan yang lain, dan akhirnya membuat setiap karakter di Ave Maryam terkesan terlalu “buatan” sehingga saya tidak mendapati emosional yang seharusnya saya dapatkan saat melihat mereka bertingkah atau berbicara.

Tetapi meski begitu, apresiasi tetap perlu diberikan kepada setiap aktor yang bermain di sini. Dengan minimnya dialog yang muncul, setiap pemain lebih mengandalkan gerak-gerik dan raut wajah untuk mengekspresikan diri, dan di sini setiap karakter memang masih lebih hidup, meski dengan keterbatasan yang saya sebut sebelumnya. Mulai dari Maudy Koesnaedi, Chicco Jerikho hingga sutradara Joko Anwar yang mendapatkan peran sebagai Romo Martin, semuanya masih mampu menghidupkan karakter sebisa mungkin mereka dan membuat film tidak benar-benar bisu. Bahkan di tengah dialog yang penuh dengan kata kutipan, ada satu kalimat yang diucapkan dengan sungguh dingin dan sangat dalam yang membuat saya berpikir saat mendengarnya.

“Jika surga belum pasti untuk saya, buat apa saya mengurusi nerakamu?”

Dan visualnya! Sungguh menakjubkan. Dengan posisi kamera yang selalu diam, Ical Tanjung selaku sinematografer dengan indahnya dapat menghidupkan sebuah adegan dengan peletakannya yang simetris, warnanya yang hangat serta lokasi sekitar yang indah dengan bangungan dan dekorasi yang menteriakkan ciri-khas Indonesia di tahun 1980, terutama saat pada satu adegan saat Maryam berkunjung ke sebuah toko kecil untuk membeli buku, di mana toko itu menjual beragam barang yang sungguh menarik dan juga unik.

Film ini juga memiliki momen manisnya, terutama yang saya gemari adalah saat setiap pagi di mana anak kecil berjilbab selalu menjual susu botolnya kepada rumah biarawati itu, dengan Maryam yang selalu menerimanya di dapur. Momen yang singkat ini seperti sebuah pernyataan oleh sang sutradara Ertanto Robby Soediskam kalau agama bukanlah sebuah hal yang sangat rumit, karena banyak momen yang bisa menunjukkan kalau meskipun berbeda agama, tidaklah perlu untuk sebuah konfrontasi atau batasan yang tidak diperlukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s