Iya, muncul lagi sebuah film yang mungkin memerlukan kemampuan kita untuk berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi. Penuh dengan adegan yang selalu terasa membingungkan dan tidak masuk akal layaknya sebuah mimpi, biasanya saya tidak terlalu menyukai film sejenis itu. Tetapi entah mengapa setelah menonton I’m Thinking of Ending Things, film terbaru Netflix, saya merasa sungguh penasaran dan selalu tertarik untuk menggali lebih dalam apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Charlie Kaufman.

Sepertinya apa yang selalu berhasil menggaet saya ke dalam adalah karakternya. Seluruh karakter di dalamnya, terutama keempat karakter di dalamnya, telah menghasilkan sebuah penampilan yang energetik, intens dan juga liar. Sungguh liar, hingga bahkan terkuras energi saya untuk melihat keempatnya berinteraksi satu sama lain karena betapa dahsyatnya momen yang mereka hasilkan.

Seorang wanita muda (Jessie Buckley) dan pacarnya, Jake (Jesse Plemons) pergi menuju rumah orang tuanya Jake yang berada jauh dari kota. Musim salju sudah tiba dan sudah terlihat tanda-tanda akan turunnya salju yang amat besar, sehingga wanita muda ini selalu mengingatkan Jake untuk pulang sebelum terlalu malam dan badai salju tiba, dan Jake yang selalu menjawabnya dengan “Aku punya rantai untuk roda di bagasi.” Selama perjalanan kita sudah bisa melihat betapa kikuk keduanya, dengan percakapan mereka bicarakan.

Wantia muda ini tidak memiliki nama. Sepanjang film ia dipanggil dengan nama Yvonne. Apakah ia bernama Yvonne? Kemudian ia dipanggil dengan nama Lucy. Apakah ia bernama Lucy? Ia juga dipanggil dengan nama Louisa pada satu waktu. Apakah Louisa adalah nama sebenarnya? Siapa nama sebenarnya? Atau apakah wanita muda ini memang ada atau hanya satu bagian dari beragam momen surealisme yang ditampilkan oleh Charlie Kaufman? Bahkan kejanggalan sudah kita rasakan saat berada di mobil dan ia melihat sebuah ayunan yang sungguh indah di depan rumah yang hancur, dan hanya dia yang melihatnya, tidak dengan Jake.

robinekariski-film-badai-salju-di-im-thinking-of-ending-things

Selama perjalanan ia selalu mengatakan di dalam pikirannya untuk mengakhiri sesuatu. Mengakhiri apakah, tepatnya? Apakah mengakhiri hubungannya dengan Jake meski ia sendiri mengetahui kalau Jake adalah orang yang baik? Atau mungkin ada sesuatu hal lain yang ingin ia akhiri? Dengan I’m Thinking of Ending Things, Charlie Kaufman memang tidaklah memberikan jawaban yang mudah kepada penonton. Ia hanya bertindak sebagai perantara antara novel yang didasarkan oleh film ini dengan judul yang sama dan imajinasi yang dimilikinya kepada penonton, dan meski saya masih kebingungan mengenai banyak hal tetapi saya selalu tertarik dan film ini selalu bekerja tidak peduli seberapa tidak masuk akalnya sebuah adegan berlalu-lalang.

Kemudian saat mereka sudah sampai di rumah kedua orang tua adalah bagian terbaik film ini, seperti apa tujuan semula Charlie Kaufman dalam film ini dengan sempurna terealisasi dalam satu adegan yang menurut saya adalah salah satu adegan terbaik tahun ini: makan malam bersama keempatnya. Kedua orang tua Jake diperankan dengan sungguh sempurna oleh Toni Collette dan David Thewlis. Toni Collette tentu saya sudah tidak asing melihat dirinya memainkan peran yang eksentrik seperti di Hereditary dan David Thewlis tentunya akan mengingatkan saya dengan perannya di Fargo yang tidak kalah aneh dalam artian yang sungguh baik.

Makan malam bersama mereka sangatlah menarik. Berlangsung dengan konyol dengan humor gelapnya yang berhasil membuat saya juga merasa kikuk dan tertawa, dan juga sangatlah gila. Percakapan dan interaksi keempatnya tidak dapat terduga-duga, satu orang bisa tertawa sembari satu orang hanya senyum-senyum saja, satu orang lainnya bercerita dan satu orang lainnya diam dan terlihat tidak nyaman. Mulai dari membahas foto hingga permainan trivia yang dimainkan Jake dulu, makan malam ini berhasil mendirikan kecanggungan yang akan kita rasakan dalam situasi itu dan disitulah letak utama film ini.

Apa yang saya tangkap dari I’m Thinking of Ending Things adalah bagaimana seseorang harus menghadapi kecemasan dan kegelisahannya untuk menghadapi orang tua dari pasangan kita. Wanita muda itu adalah kita, makanya ia tidak memiliki nama yang pasti karena ia adalah kita semua dan kita semua bisa menjadi dia. Setidaknya itu yang saya tangkap, dan adegan makan malam itu dengan sempurna merealisasi seluruh teror dan ketakutan kita saat bertemu orang tua pasangan. Kita merasa tidak nyaman, kikuk, dan hanya bisa pasrah dengan situasi yang mereka buat. Entah situasi itu memang kocak, menyeramkan atau canggung, kita hanya bisa pasrah dan menghadapinya secara langsung.

robinekariski-film-toni-collette-jessie-buckley-dan-david-thewlis-di-im-thinking-of-ending-things

Transisi dan editing dalam film ini juga membantu membangun perasaan yang menjanggal, seperti saat kedua orang tua mengajak wanita muda itu untuk makan malam. Jake dan kedua orang tuanya memasuki ruang makan, dengan wanita muda yang masih terdiam. Saat ia menoleh ke meja makan, warna film berubah dari yang awalnya biru gelap menjadi warna jingga yang hangat dan ketiganya sudah duduk dengan rapi dan menoleh ke wanita muda itu, meja sudah penuh dengan makanan, dan rambut ayahnya berubah dari putih menjadi coklat gelap. Adegan ini terasa seperti permainan surealisme yang ingin Charlie Kaufman bangun untuk penontonnya dan memberikan mereka perasaan kegelisahan yang juga dirasakan oleh wanita muda tersebut, dan itu berhasil.

Aspect ratio 4:3 yang digunakan oleh sinematografer Łukasz Żal (Cold War) — yang menghasilkan film menjadi berbentuk kotak seperti The Lighthouse — juga memberikan kesan klaustrofobia, mengurung karakternya di dalam situasi dan kegelishan yang ia hadapi serta kecemasan yang selalu ia pikirkan di dalam kepalanya. Perasaan terkurung itulah juga memainkan peranan penting dalam film, karena dengan situasi yang dihadapinya kita bisa melihat dinamika antara keempat karakternya dengan lebih dekat dan juga lebih intens.

Memang tidaklah mudah untuk menonton I’m Thinking of Ending Things dan saya rasa ini bukanlah film yang hanya ditonton sekali saja. Mungkin jika waktu sudah berlalu sekian lamanya dan kita kembali menontonnya, kita akan mendapati makna yang lagi berbeda dari yang sudah kita dapatkan sebelumnya. Mungkin saja sekarang saya berpikir ini adalah film mengenai kecemasan, tetapi di masa depan saat menonton ulang (belum tahu kapan, tetapi akan ada saatnya) saya akan mendapatkan pencerahan mengenai sesuatu yang belum saya sadari saat ini, dan itulah mengapa saya yakin ini adalah contoh film yang dapat bertahan bertahun-tahun lamanya, dan Netflix patut bangga dengan itu.

Dan tidak hanya adegan makan malamnya, tetapi 20 menit terakhir film ini juga sangatlah indah dan memiliki perasaan mengenai sebuah makna yang sangat kuat, meski saya masih belum bisa memahaminya secara penuh. Sungguh indah!

I’m Thinking of Ending Things sudah bisa ditonton di Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s