Jika saya bisa mengatakan, salah satu hal terbaik yang datang tahun ini (dari segala bencana dan kabar buruk yang terus berdatangan) adalah hadirnya Bioskop Online, layanan streaming menonton film Tanah Air dengan harga yang sangat murah, hanya lima ribu saja untuk menyewa satu film selama 48 jam! Sebelumnya saya mengatakan kalau Bioskop Online berpotensi untuk mengubah cara penonton menonton film dan studio memproduksi film, tetapi kini saya kembali tertegun melihat mereka mampu menghadirkan sebuah hasil restorasi salah satu film paling penting dalam sejarah perfilman Indonesia, Tiga Dara oleh Usmar Ismail.

Film klasik Indonesia memanglah sangat sulit dijangkau masyarakat luas, terutama untuk film-film dari tahun 1950-an seperti Tiga Dara atau film-film karya Usmar Ismail lainnya. Mungkin yang masih dapat dijangkau adalah Lewat Djam Malam, film 1954 yang juga disutradarai oleh Usmar Ismail, yang mendapati restorasi dan kini dapat di pre-order di The Criterion Channel yang telah menjadi satu paket bersama film klasik lainnya di “Martin Scorsese’s World Cinema Project No. 3”.

Tiga Dara adalah sebuah film komedi musikal yang berpusat kepada sepasang tiga bersaudara, atau ya “tiga dara”. Nunung (Chitra Dewi), yang tertua, baru saja berulang tahun untuk yang ke-29. Nenek mereka (Fifi Young) merasakan keresahan karena khawatir ia tidak akan sempat melihat Nunung menikah dan memiliki cucu, sementara kedua adiknya Nunung, Nana (Mieke Wijaya) dan Nenny (Indriati Iskak) masihlah remaja. “Masih anak-anak,” kalau nenek mereka mengatakan.

Tema yang dibawakan Tiga Dara memang masihlah revelan dengan zaman modern, bahkan setelah lebih dari 50 tahun, dan itu salah satu alasan mengapa ini adalah film yang abadi. Wanita diharapkan, bahkan diharuskan untuk menikah oleh orang tuanya sebelum terlalu terlambat, dan untuk mereka umur 30 adalah umur yang sudah terlalu tua untuk menikah. Hingga sekarang, di mana masih banyak orang yang penuh dengan tekanan karena belum menikah di umur mereka yang masih 20-an.

Namun apa yang sungguh saya gemari selain temanya yang masih bisa terasa pada zaman kini adalah bagaimana film ini menggambarkan Jakarta kuno. Jakarta di mana semua pemuda-pemudi masih selalu mengenakan kemeja dan celana panjang serta rambutnya yang tertapa rapi dan kumis tipis yang menemaninya. Tiga Dara adalah sebuah kapsul waktu yang dengan cepat dapat membawa penontonnya kembali ke tahun 1950-an.

Melihat orang-orang bercakap dengan bahasa yang baku, seperti “lekaslah” daripada “cepatlah” dan “tukar pakaian” daripada “ganti pakaian”, memang adalah sesuatu yang menyenangkan dan menenangkan. Mungkin saya akan mulai menggunakan “tukar pakaian”, siapa yang tahu. Dan bernyanyi “lanjut umurnya, lanjut umurnya” saat ulang tahun juga terasa sangat berbeda namun juga sangat menarik. Dialog antar karakter di Tiga Dara memanglah jauh berbeda dengan percakapan kita pada masa kini, namun entah mengapa justru mendengar percakapan mereka terasa lebih autentik. Saya bisa mendengar mereka bercakap-cakap sepanjang hari.

Dan betapa menyegarkannya melihat Jakarta pada zaman dulu! Melihat perumahan di mana jarak antar rumah cukup jauh dan rerumputan yang luas di mana-mana serta bangunan-bangunan yang tidak sepadat, setinggi atau sebanyak sekarang terasa jauh berbeda. Bayangkan dengan sekarang, di mana saya bisa terjebak macet selama dua jam di jalan yang sama di Jakarta. Berbeda dengan dulu di mana jalanan masih kosong melompong dan hanya ada satu atau dua mobil yang lewat atau motor dan sepeda yang berlalu-lalang. Mulai dari perumahan, perkotaan hingga pantai, Tiga Dara dengan serunya mengajak kita berjalan-jalan bersama karakternya.

Menonton pemeran film zaman dulu memang sangat terasa berbeda dengan zaman sekarang. Menonton Tiga Dara mirip seperti sebuah seni teater, di mana tidak ada banyak cut dalam sebuah adegan sehingga adegan itu benar-benar mengandalkan setiap pemain film di dalamnya untuk menghidupkan suasana, entah suasana cerita, serius atau sedih. Dan seluruh pemeran di sini sungguh berhasil, dengan akting mereka yang terasa sangat alami serta pergerakkan mereka yang sangat halus saat bergerak ataupun berdansa dan menyanyi.

Komedi di Tiga Dara juga sangat terasa, terutama dari Ayah ketiga saudarinya, Sukandar (Hassan Sanusi). Ia juga menganggap Nunung masihlah muda, namun tekanan dari mertuanya terus membuatnya kehabisan akal bagaimana cara mencari pasangan untuk anak tertuanya hingga pada suatu saat ia disuruh mengundang teman kerjanya oleh mertuanya untuk diperkenalkan kepada Nunung dan siapa yang dia ajak kerumahnya? Teman-temannya yang juga seumuran dengan dia, sekumpulan orang tua yang membuat sang nenek frustasi, bingung mengapa Sukandar tidak membawa orang yang lebih muda.

Dengan Tiga Dara, Bioskop Online telah melakukan sesuatu yang sungguh penting. Mereka tidak hanya kembali membawa film klasik ke penonton umum, namun mereka juga telah menyelamatkan sebuah peninggalan yang mungkin sudah terlupakan dan mengingatkan kita bagaimana industri film di Indonesia sudah jauh berkembang maupun berbeda dari sebelumnya. Saya hanya bisa berharap Tiga Dara bukanlah film klasik terakhir yang dapat diselamatkan, karena masih banyak sekali film-film tua Indonesia yang tidak hanya penting, namun juga sungguh berharga untuk tidak kembali kita kunjungi dan menontonnya bersama masyarakat umum. Mungkin Bioskop Online adalah salah satu cara bagi kita untuk kembali mengunjungi ke masa lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s