Iblis tidaklah datang dalam wujud hantu atau monster. Di The Devil All the Time, Iblis hadir dalam sosok manusia sehari-hari yang penampilannya tidaklah berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Dalam film Netflix ini, sutradara Antonio Campos telah menyusun sekumpulan cerita dari berbagai generasi dan berbagai orang yang sama-sama berhadapan secara langsung dengan iblis dalam jiwa mereka. Beberapa ada yang berusaha melawannya, dan beberapa ada yang menerimanya.

The Devil All the Time adalah sebuah film yang tidak hanya brutal, tetapi juga tanpa hentinya selalu membuat penontonnya merasa tidak nyaman dengan ceritanya yang sadis dan kumpulan karakternya yang terdiri dari yang polos dan kebingungan hingga yang murni jahat dan tidak waras. Dan di tengah sekumpulan karakter itu berdiri Arvin Russell (Tom Holland), seorang anak muda yang kehilangan kedua orang tuanya dan kini tinggal bersama nenek dan saudari angkatnya di sebuah desa kecil di Coal River, Virginia Barat.

Tetapi film tidaklah dimulai dengan Arvin. The Devil All the Time justru dimulai pada tahun 1945 dengan ayahnya, Wilard Russell (Bill Skarsgård) yang baru saja pulang dari mengabdi sebagai tentara dan jatuh cinta dengan seorang pelayan bernama Charlotte (Haley Bennett). Keduanya menikah, memiliki anak laki-laki bernama Arvin dan tinggal di sebuah rumah di Knockemstiff, Ohio. Wilard, yang sebelumnya tidak pernah berdoa, kini ia membuat sebuah salib di dalam hutan dekat rumahnya karena ia selalu teringat dengan sebuah kejadian suram yang ia alami saat masih menjadi tentara.

Kebahagiaan Wilard dan keluarganya suatu saat punah saat Charlotte mengidap kanker yang bahkan dokter sendiri tidak bisa menyelamatkannya. Kini Wilard terobsesi untuk berdoa karena percaya semakin keras ia berdoa, semakin besar kemungkinan istrinya akan sembuh. Ia juga memaksa Arvin untuk berdoa sekencang-kencangnya, bahkan hingga suatu saat Wilard membunuh anjing peliharaan mereka dan mempersembahkannya untuk salib miliknya. Tetapi semua itu sia-sia, Charlotte tetap meninggal dan Wilard, dipenuhi perasaan menyesal dan tenggelam dalam kesedihan, bunuh diri.

robinekariski-film-haley-bennett-dan-bill-skarsgård-di-the-devil-all-the-time

Dengan Wilard, Antonio Compos telah membuat seorang karakter yang tidak henti-hentinya melawan iblis. Pertama ia harus melihat aksi kejam tentara Jepang yang meninggalkan seorang tentara Amerika Serikat disalib hidup-hidup — kejadian yang membuatnya membangun salib di rumahnya — kemudian ia juga adalah orang yang percaya bahwa kekerasan dapat ditumpas dengan kekerasan, di mana ia mengajarkan Arvin kalau jika ada yang mengganggu mereka, maka Arvin harus membalasnya dengan lebih keras.

Kisahnya Wilard sendiri adalah sebuah kisah yang tragis dan cukup berat. Namun The Devil All the Time tidaklah berhenti di situ. Kini, 1965, Arvin sudah beranjak dewasa. Sekarang ia yang menghadapi iblis dalam sosok seorang pendeta bernama Preston Teagardin (Robert Pattinson). Preston, dengan pakaiannya yang rapi dan mobilnya yang mewah, adalah seorang pendeta yang lihai berkotbah namun memiliki satu sifat yang jahat: ia sering menipu wanita untuk “memperlihatkan kulit mereka kepada Tuhan” dan bersetubuh dengan mereka. Salah satunya adalah Lenora (Eliza Scanlen), saudari tiri Arvin.

Apa yang pertama kali menangkap perhatian saya yang sungguh membuat semuanya semakin menarik adalah bagaimana Tom Holland dan Robert Pattinson — dua aktor asal Inggris — memainkan seseorang dari Amerika Serikat Selatan yang memiliki dialek yang cukup kental dan logat yang sangat ciri khas. Arvin adalah karakter tersuram yang pernah Tom Holland mainkan dan mungkin ini adalah kesempatannya yang tepat, terlebih setelah kita sudah berulang kali melihatnya memainkan peran yang ceria sebagai Peter Parker dan superhero Spider-Man, dan dengan Arvin maka Tom Holland telah memperlihatkan kalau dirinya mampu memainkan karakter yang berbanding terbalik dengan Peter Parker.

Tetapi adalah karakter Preston yang paling berhasil menonjol, yang memiliki dialek yang sangat kental mengingatkan saya dengan karakternya Benoit Blanc yang dimainkan oleh Daniel Craig di Knives Out di mana keduanya sama-sama adalah karakter asal Amerika Serikat Selatan dan dimainkan oleh aktor asal Inggris. Sangat kental bahkan Netflix sendiri membuatkan video di mana Robert Pattinson dalam karakternya mengucapkan “delusions” selama 10 menit berturut-turut.

robinekariski-film-robert-pattinson-di-the-devil-all-the-time

Dan mungkin itu justru apa yang membuat karakternya sungguh bersinar dalam film yang dipenuhi dengan bintang film papan atas ini. Dengan caranya berbicara seperti karakternya di Damsel (film komedi western yang dibintangi oleh Robert Pattinson juga, tontonlah), tingkah lakunya yang dingin serta tatapannya yang sinis, tidak susah untuk mengatakan kalau Preston berhasil merebut perhatian kita dalam setiap adegannya. Terutama untuk memainkan karakter yang cukup klise di film dengan tema serupa — pendeta dengan sifat yang mesum dan jahat — adalah akting Robert Pattinson yang membuatnya unik dan berbeda dari karakter lainnya.

Namun disayangkan karena kemunculannya yang tidaklah sering, bahkan cukup jarang memperingati saya kalau banyaknya karakter dan cerita di dalam film ini terlalu ditumpuk hingga akhirnya satu cerita dapat dengan mudah menutupi cerita lainnya karena tidak hanya Arvin dan Preston saja yang diceritakan. Dalam film berdurasi 138 menit ini, selain Wilard, Arvin dan Preston, ada lagi sekumpulan karakter yang masih dipaksakan narasinya untuk masuk ke dalam, terutama ketiga karakter Helen (Mia Wasikowska), Carl (Jason Clarke) dan Sheriff Lee (Sebastian Stan).

Helen awalnya direncanakan oleh Emma (Kristin Griffith) untuk menikahi Wilard. Namun Helen sudah terpikat terlebih dahulu dengan Roy Laferty (Harry Melling), seorang pendeta. Anaknya mereka adalah Lenora, yang nantinya akan menjadi saudari tiri Arvin. Aman untuk mengatakan kalau Helen dan Roy tidaklah memiliki akhir yang bahagia dan meninggalkan Lenora untuk diasuh oleh Emma.

Kalau Carl, bersama istrinya Sandy (Riley Keough) adalah sepasang suami istri yang gemar untuk mengangkut seorang penumpang di pinggir jalan dan mengajaknya untuk mengantarnya ke tempat tujuan penumpang-penumpang itu. Tidak diketahui oleh mereka, Carl dan Sandy menyimpan rencana yang jahat untuk setiap penumpang itu karena mereka adalah pembunuh berantai. Sementara Lee adalah seorang sheriff korup yang merupakan kakaknya Sandy dan selalu khawatir karena pemilu sudah dekat.

robinekariski-film-tom-holland-di-the-devil-all-the-time

Tetapi kisah keduanya tidaklah terlalu penting hingga akhirnya mereka bertemu dengan Arvin. Sebenarnya kisah ketiganya tidaklah terlihat krusial, karena The Devil All the Time terlihat bingung dalam ingin memusatkan perhatiannya ke mana. Apakah film ini memang ingin menjadikan Arvin sebagai tokoh utama atau film ini memang ingin seperti layaknya Pulp Fiction di mana sekumpulan karakter bertemu dalam suatu momen yang menghasilkan satu kisah yang konkrit? Saya sendiri tidak yakin.

Setiap karakter dan setiap kisahnya memiliki kebrutalan masing-masing dan sama-sama bergulat dengan iblis di dalamnya. Tetapi satu kebrutalan sayangnya tidaklah terpadu dengan baik dengan kebrutalan di cerita selanjutnya, sehingga pengalaman menonton The Devil All the Time terasa seperti kita dihajar secara terus-menerus karena seluruh ceritanya malah terkesan sama saja dan kita tidak diberikan waktu untuk benar-benar meresapi ataupun memahami satu cerita sebelum kita akhirnya dihajar kembali dengan cerita selanjutnya dengan kebrutalan dan kesinisan yang sama.

Dan itu disayangkan. Sungguh disayangkan karena setiap karakter di sini memiliki ceritanya tersendiri yang sungguh unik dan menarik, meskipun sama-sama kejam. Apakah lebih baik jika The Devil All the Time dijadikan sebagai sebuah miniseri, di mana setiap karakternya diberikan waktu serta ruang gerak yang lebih untuk menceritakan kisahnya masing-masing? Saya rasa begitu. Dan saya belum membaca novel yang menginspirasi film ini, jadi saya tidak mengetahui sepadat apa kisah yang sesungguhnya, tetapi melihat film ini saya yakin masih banyak cerita yang belum disampaikan dan miniseri sepertinya menjadi solusi yang lebih tepat.

Film thriller arahan Antonio Campos The Devil All the Time telah tayang di Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s