“Jika ada film apapun yang telah dibuat setelah saya mulai membuat film yang saya harapkan dapat saya buat, adalah film ini.” – Quentin Tarantino, saat menyebut Battle Royale sebagai salah satu film terbaik yang pernah ia tonton.

Tidaklah sulit rasanya melihat kembali film yang pada Desember depan akan merayakan ulang tahunnya yang ke-20 dan merasakan apa yang ia rasakan. Sebuah film dengan narasi yang sangat gila dan sulit dipercaya, namun tetap berhasil membuat kita selalu tertarik dan memercayai apapun yang terjadi di layar, tidak peduli segila atau sekacau apapun yang sedang terjadi. 20 tahun kemudian, film Jepang ini masih meninggalkan jejak yang sungguh besar di dunia film dan juga di dunia pop culture.

Diadaptasi dari novel tahun 1999 dengan nama yang sama, Battle Royale berada di masa depan tidak jauh dari sekarang (atau dari 2000). Jepang telah mengesahkan “BR ACT”, sebuah langkah di mana pemerintah dan tentara nasional akan menculik dan membawa satu kelas SMP ke sebuah pulau terpencil dan mengharuskan setiap siswa-siswi untuk saling membunuh hingga meninggalkan satu saja yang selamat. Jika selama tiga hari masih ada yang lebih dari satu masih hidup, semuanya akan dieksekusi di tempat dengan kalung yang mereka kenakan akan meledak. Tujuan “BR ACT”? Untuk menekan jumlah kriminal remaja yang sedang maraknya karena negara Jepang yang sedang dilanda kekacauan.

Ini adalah cerita yang sungguh brutal, namun saya tetap tidak bisa berpaling dari film karena saya penasaran bagaimana yang akan terjadi. Rasa penasaran tidak hanya datang untuk setiap karakter di dalamnya, tetapi juga untuk saya sendiri yang berpikir “Jika ini terjadi kepada saya, apa yang akan saya lakukan?” Ceritanya sungguh luar biasa di luar akal sehat, tetapi karakternya adalah orang sehari-hari yang biasa kita temui, bahkan kita semua juga adalah mantan anak SMP sehingga kita juga pasti ikut berpikir apa yang akan kita lakukan jika kita berada di situasi mereka.

robinekariski-film-kou-shibasaki-sebagai-mitsuko-souma-di-battle-royale

Battle Royale menampung banyak sekali tema dan motif dan mereka berhasil di setiapnya. Ini adalah sebuah film yang menggetarkan sebagai film satir, dengan sutradara Kinji Fukasaku dan penulis naskah Kenta Fukasaku dengan tajamnya mampu membaurkan topik mengenai opresi pemerintah dan menggambarkannya sebagai sebuah permainan yang keji untuk masyarakatnya serta bagaimana masyarakat rela membunuh satu dengan lainnya (secara harfiah di sini) untuk bertahan hidup.

Sebagai film action dan horrorBattle Royale juga adalah sebuah film yang menegangkan sekaligus menyeramkan. Tidak ragu mereka untuk membunuh setiap karakternya dengan cara yang luar biasa sadis dan darah yang mengucur ke mana-mana. Film ini dengan dramatisnya berhasil menggabungkan keseruan yang kita dapatkan dari film action — dengan setiap tembakan, setiap tebasan dari celurit dan setiap ledakan dari granat — dengan perasaan menyeramkan dari film horror melalui perasaan harus bertahan hidup tidak peduli apapun yang terjadi dan taktik siapa-cepat-dia-dapat saat berhasil menemui siswa lainnya yang tengah lengah.

Battle Royale, uniknya, juga adalah sebuah film yang sungguh melekat sebagai film coming-of-age. Berpusat dengan sekumpulan karakter anak SMP, film ini tidak melupakan sifat dan tingkah laku anak muda. Seperti elemen romantik yang cukup kuat di film, dengan setiap karakternya memiliki cara masing-masing untuk menyatakan cinta ataupun melindungi orang yang mereka sukai. Begitu juga dengan persahabatan, yang kian menjadi elemen yang cukup krusial karena itu mampu membantu atau membunuh mereka. Dengan permainan ini, setiap siswa remaja ini memang benar-benar menghadapi tantangan hidup di mana mereka harus berubah dari remaja menjadi dewasa dan berpikir layaknya orang dewasa serta bertindak layaknya orang dewasa juga.

Apa yang mungkin membantu film ini menjadi lebih mudah untuk dipercaya adalah bagaimana mereka memainkan aktor yang umur pada saat itu masih hanya belasan. Dari karakter utama Shuya yang diperankan oleh Tatsuya Fujiwara yang saat itu masih hanyalah berusia 18 tahun atau temannya, Noriko yang diperankan oleh Aki Maeda yang masih berusia 15 tahun. Melihat siswa-siswa yang memang terlihat seperti anak sekolahan memang menambah keaslian dalam film, sehingga film ini memang terasa seperti beneran. Saya juga sungguh salut melihat bagaimana anak-anak muda ini memainkan karakter yang sifatnya beragam, dari sadis dan keji hingga lemah lembut dan polos, yang tentunya tidaklah mudah, tetapi mereka berhasil! Sangat berhasil bahkan Quentin Tarantino berkolaborasi dengan Chiaki Kuriyama, yang berperan sebagai Takako di film ini, sebagai Gogo Yubari di Kill Bill: Volume 1.

robinekariski-film-tarō-yamamoto-aki-maeda-dan-tatsuya-fujiwara-di-battle-royale

Warisan yang ditinggalkan oleh Battle Royale juga tidaklah bisa kita bantah lagi. Sebagai sebuah film ataupun sebuah konsep, film arahan Kinji Fukasaku ini memiliki jejak yang sungguh besar dan menjadi salah satu film paling berpengaruh pada era 2000-an. Sungguh besar, bahkan nama film ini dijadikan sebagai sebuah genre tersendiri di dunia video game, dengan permainan yang super populer seperti PUBG atau Fortnite mengambil tema dan konsep yang sama: menjadi yang paling terakhir bertahan hidup dari berpuluh-puluh hingga ratusan musuh di suatu pulau asing.

Di dunia film sendiri, pengaruh yang ditinggalkan oleh Battle Royale paling bisa dirasakan di film horror di mana sekumpulan orang atau seseorang diharuskan bertahan hidup dari sekumpulan orang lainnya yang berusaha membunuh mereka, seperti film baru-baru ini Ready or Not di mana karakter utamanya harus bertahan hidup dari permainan keji sebuah keluarga kaya raya yang memburunya atau The Hunt, sebuah film satir di mana sekumpulan orang diculik untuk diburu oleh sekumpulan orang-orang kaya. Tentu saja Battle Royale memiliki pengaruh terkuat terhadap film seri The Hunger Games dengan konsep yang identik. Bahkan pengaruh film ini juga bisa dirasakan terhadap film seri The Purge, yang sama-sama menceritakan kisah satir mengenai pemerintah yang memperbolehkan masyarakatnya untuk melakukan tindak kriminal selama satu hari penuh.

20 tahun kemudian, Battle Royale masih menjadi salah satu pengalaman sinematik terbaik. Sukses di setiap tema, menggertakkan di setiap adegan dan menyeramkan saat menghadapi pertanyaan mengenai moral dan kenyataan, Quentin Tarantino memang benar. Battle Royale tidak hanyalah menjadi salah satu film paling berpengaruh, tetapi juga salah satu film terbaik di era 2000-an.

2 thoughts on “Kebrutalan Berumur 20 Tahun: BATTLE ROYALE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s