Film dibuka dengan sebuah adegan single shot di mana kita berada di kursi belakang sebuah mobil yang sedang menunggu para perampok selesai menyelesaikan rampasan sebuah toko perhiasan. Kemudian salah satu perampoknya berlari menuju mobil dengan supirnya sudah menunggu, dan dua perampok lainnya yang kesulitan untuk berlari menuju mobil. Suara mobil polisi mendekat, perampok yang sudah berada di dalam mobil kembali berlari keluar karena tidak ingin menunggu perampok lainnya, sementara sang supir dengan cepat mengendarai mobilnya. Namun upayanya sia-sia, mobilnya tertabrak dengan mobil lain dan tertangkaplah sang supir.

Semua itu diambil dalam satu shot saja, dan apakah itu memang benar-benar diambil secara satu shot atau ada editing yang sungguh pintar terlibat didalamnya saya tidak tahu. Tetapi, apa yang saya tahu adalah The Fury of a Patient Man — yang kini ada di Netflix dan tidak tahu sampai kapan — merupakan sebuah film yang memiliki energi layaknya film indie dengan pergerakkan kamera yang cepat dan seperti dibuat dengan handheld camera, filmnya yang terasa grainydan juga ceritanya yang cukup intens dan tidak membuang-buang waktu. Tunggu saya ralat, awal film memang terasa seperti membuang-buang waktu tetapi setelah 30 menit berjalan, film baru terasa intensitas yang saya sebut sebelumnya.

Kita mengikuti José (Antonio de la Torre), seorang pendiam yang sering menghabiskan waktunya di sebuah kafe kecil. Pemilik kafe itu adalah Ana (Ruth Diaz), seorang ibu dan istri dari salah satu perampok yang merampok toko perhiasan di awal film. Setelah bertemu beberapa kali, mereka akhirnya menghabiskan satu malam bersama. Tetapi ini rupanya bukanlah tujuan utama José, karena tujuannya adalah suami dari Ana, Curro (Luis Callejo) yang merupakan supir dari perampokan di toko perhiasan itu.

robinekariski-film-antonio-de-la-torre-di-the-fury-of-a-patient-man

Selama 30 menit pertama, film mungkin terasa membingungkan karena banyaknya karakter yang masuk dan keluar cerita, dengan dialog yang tidak terlalu berarti dan adegan yang tidak memiliki dampak apapun ke dalam cerita. 30 menit awal ini jugalah yang membuatnya cukup sulit untuk mengikuti alur cerita, namun seiring berjalannya waktu barulah saya mulai mendapati pencerahan atas apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang akan terjadi.

José memiliki kekasih yang bekerja di toko perhiasan, dan kekasihnya bertepatan sedang bekerja saat tokonya di rampok oleh sekelompok pria bertopeng. Kekasihnya dipukuli berkali-kali hingga José mengatakan “Saya tidak mengenalinya, wajahnya sangat bengkak. Wajahnya rusak karena pukulannya.” Karena lukanya itu, kekasihnya meninggal tepat di depan José di sebuah rumah sakit. Ia pun akhirnya merencanakan sebuah balas dendam untuk para perampoknya, dengan Curro yang akan membantunya untuk mencari sisa perampok lainnya.

Dengan Ana, José bisa memeras informasi dari Curro semaunya. Ia pertama meninggalkan Ana dan anaknya di rumahnya yang jauh dari kota, sementara ia bertemu Curro dan menyuruhnya untuk memberitahu lokasi dari setiap perampok yang merampok bersamanya. Kedua, ia dan Curro mencari satu-satu untuk membalas dendam kematian kekasihnya, dan tidak ada yang bisa Curro lakukan selain mengantarkan José karena khawatir akan keselamatan Ana dan anak mereka.

The Fury of a Patient Man, atau yang dalam versi spanyolnya adalah Tarde para la ira, adalah sebuah film thriller yang cukup impresif, terutama jika mengetahui kalau ini adalah film pertamanya Raúl Arévalo sebagai sutradara. Awalnya film mungkin terasa berantakan, namun saat elemen thriller sudah mulai masuk ke dalam cerita, film ini menjadi lebih hidup dan seperti karakter utamanya, memiliki tujuan. Di sinilah film mulai tidak membuang waktu lagi. Begitu pula dengan José.

robinekaiski-film-luis-callejo-dan-antonio-de-la-torre-di-the-fury-of-a-patient-man

Seperti nama filmnya, José adalah orang yang sabar. Ia juga adalah orang yang pendiam, bahkan saat pertama kali mendekati Ana di sebuah klub malam. Namun begitu juga bagian “Fury” pada The Fury of a Patient Man, ia adalah orang yang memiliki amarah yang sangat besar. Dilengkapi dengan shotgun berlaras ganda miliknya, amarah tersebut diubah menjadi sebuah misi balas dendam. Dengan José, Antonio de la Torre telah menunjukkan kapasitasnya untuk memainkan seseorang yang bisa membunuh hanya dengan tatapannya saja. Tidak perlu berbicara atau bertingkah banyak, José bukanlah orang yang senang membuang waktunya.

Kehadiran Curro dalam perjalanan balas dendam José juga menambah dinamika yang menarik antar kedua karakternya. Curro adalah orang yang liar, ganas dan berbahaya. Ia adalah tipe orang yang cepat emosi dan tidak ragu untuk menghajar orang lain sebelum membicarakannya baik-baik. Berbeda dengan José yang pendiam dan terkadang masih ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Tetapi di sini, justru orang yang pendiam ini yang jauh lebih berbahaya dari orang yang liar.

Raúl Arévalo juga telah membuat film thriller yang masih melekat dengan sisi manusiawi. Ia dengan pandainya membuat seluruh karakter di dalam film ini memiliki sisi manusia yang berhasil menarik simpati, bahkan termasuk target dari José itu sendiri, yang tentunya menambah konflik dalam batin baik secara psikologi dan juga moral. The Fury of a Patient Man adalah tipe film yang mempertanyakan apakah membalas dendam adalah cara terbaik untuk mengenang seseorang yang telah meninggalkan kita, dibalut dengan thriller yang cukup membuat karakter di dalamnya telah menjalani sebuah perjalanan menuju tahap kehidupan selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s