Sekarang adalah tahun 1946, setahun setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia. “Kekerasan yang lebih besar pada perang telah berakhir. Tetapi kekerasan jenis baru telah menggantikan yang lama di Jepang yang tanpa hukum. Adalah setiap orang untuk dirinya sendiri ditengah kekacauan,” narator menjelaskan pada awal film. Semenjak berakhirnya perang, kini ada kriminalitas baru yang tengah melanda Jepang secara besar-besaran: yakuza.

Organisasi kriminal yang untuk sekarang (kembali ke 2020) sudah memiliki mitos dan legenda tersendiri, yakuza adalah sebuah kelompok yang kisahnya sudah diceritakan berkali-kali dan mungkin organisasi kriminal paling terkenal di sini. Lagipula, siapa sih yang tidak pernah mendengar yakuza? Mungkin di Indonesia sendiri, popularitas yakuza jauh melebihi organisasi kriminal lainnya (seperti mafia yang terdiri dari orang Italia-Amerika dan berlokasi di Amerika Serikat) karena banyaknya misteri yang selalu menyelimuti namanya.

Ceritanya yakuza sudah diceritakan sejauh dari 1948, dengan Stray Dog yang disutradarai oleh Akira Kurosawa dan dibintangi oleh Toshiro Mifune. Namun sebelum tahun 1970-an, yakuza biasanya digambarkan sebagai tokoh penjahat yang masih terhormat dan masih memiliki nilai moral dalam mengabdi tugasnya. Dan datanglah Battles Without Honor and Humanity — film pertama dari sebuah seri film yakuza yang panjang — yang disutradarai oleh Kinji Fukasaku (yang juga menyutradarai film favorit saya Battle Royale), yang memopulerkan sebuah genre baru dalam film yakuza bernama “Jitsuroku eiga” yang mendasarkan kisahnya dengan kisah nyata dan menggambarkan yakuza sebagai kriminal yang ganas dan kejam.

Di Battles Without Honor and Humanity, kita berada pada era di mana Jepang masih dalam tahap pemulihan dari perang dunia. Masih banyak kita melihat pria-pria tangguh berseragam tentara bertebaran di publik. Kekalahan Jepang juga mengakibatkan banyaknya tentara asing yang berbuat semena-mena di publik, dengan pada awal film kita melihat sekelompok tentara asing mencoba menangkap dan memerkosa seorang wanita Jepang tanpa ada yang berani menghentikannya. Semua orang, kecuali Shozo Hirono (Bunta Sugawara) dan teman-temannya yang berani menghentikan dan menghajar tentara asing itu sebelum ia sendiri dikejar oleh polisi.

robinekariski-film-bunta-sugawara-di-battles-without-honor-and-humanity

Selama 5 menit pertama, kita sudah langsung diperkenal dengan cepat oleh beberapa tokoh penting dalam film yang nantinya akan memiliki dampak yang besar pada cerita. Saya sendiri kesulitan untuk mengingat satu-satu siapa saja dan apa saja posisi mereka, tetapi saran saya adalah untuk tetaplah bersabar karena semakin lama film berjalan semakin jelas siapa saja setiap karakter dan apa hubungan mereka dengan cerita film. Salah satunya adalah tokoh utama Shozo Hirono.

Shozo Hirono adalah apa yang orang gambarkan sebagai seseorang yang setia kepada temannya dan tidak takut dengan risiko yang akan mengikutinya. Sifatnya itu juga yang berulang kali membuatnya masuk penjara, dengan pada salah satu waktunya di penjara ia berteman dengan seorang yakuza dari keluarga Doi, Hiroshi Wakasugi (Tatsuo Umemiya) dan mereka bersumpah untuk menjadi saudara. Setelah keluar dari penjara, Shozo bersama teman-teman lainnya resmi menjadi seorang yakuza dengan masuk ke dalam keluarga Yamamori setelah ritual meminum sake secara bersamaan.

Battles Without Honor and Humanity menggambarkan yakuza secara gamblang, dengan setiap yakuza di dalamnya adalah sekumpulan orang-orang licik yang mengaburkan garis antara baik dan jahat, yang tentunya membuat dinamika cerita menjadi lebih intens. Menggunakan “keluarga” sebagai nama organisasi kriminal, yakuza memang identik dengan sistem kekeluargaan yang diadopsinya. Namun di sini justru itu yang dimainkan oleh Kinji Fukasaku, dengan dilema dan perselisihan dalam keluarga memantik banyaknya kejadian-kejadian mematikan yang membuntutinya.

Saat Shozo berada di penjara untuk yang kedua kalinya di dalam film, keluarga Yamamori terpecah saat Tetsuya Sakai (Hiroki Matsukata) berselisih dengan Uichi Shinkai (Shinichiro Mikami) karena mengetahui kalau salah satu anak buahnya Shinkai menjual narkoba, sesuatu yang dilarang di dalam yakuza. Sakai kembali terguncang saat mengetahui kalau bos mereka sendiri, Yoshio Yamamori (Nobuo Kaneko) juga menjual narkoba yang ia sita.

robinekariski-film-shozo-hirono-bertemu-yoshio-yamamori-di-battles-without-honor-and-humanity

Dan seperti nama film ini, terpecahlah perang-perang yang tanpa rasa hormat dan kemanusiaan: membunuh di publik, membunuh secara keroyokan, membunuh secara membohongi. Sifat licik yang dimiliki seluruh anggota yakuza membuat kita sebagai penonton kesulitan untuk memandang mereka secara moral karena jika memang ingin melihat mereka dengan moral, maka tidak ada yang baik. Dalam film ini tidak ada yang baik, dan mungkin itu yang membuat film ini menarik. Siapa yang baik dan siapa yang jahat? Jawaban untuk pertanyaan itu selalu berubah tergantung sudah sampai mana kalian menontonnya sehingga panduan kita hanyalah Shozo Hirono yang bahkan ia sendiri juga bukanlah orang baik, tetapi setidaknya ia masih memiliki pedoman hidup yang disiplin.

Sebagai Shozo Hirono, Bunta Sugawara — yang perawakannya menjadi inspirasi untuk karakter Akainu di manga “One Piece” — memang memiliki kepribadian dan raut wajah yang cocok untuk memerankan seseorang yang lebih memilih untuk beraksi menggunakan tindakan daripada menggunakan mulut. Ada aura “keren dan mematikan” yang mengalir dari dirinya, sehingga kehadiran Hirono membawakan intensitas kepada setiap adegannya. Terlebih karakternya yang setia dan tidak takut mati membuat Hirono menjadi karakter yang selalu seru untuk diikuti ditengah dunia yang penuh pengkhianatan ini.

Sering disebut sebagai “Godfather-nya Jepang”, Battles Without Honor and Humanity memang tidaklah semegah ataupun seambisius film yang dirilis setahun sebelumnya itu. Tetapi film yakuza ini juga membawakan tema yang serupa mengenai keluarga dan pengkhianatan dalam satu organisasi kriminal, dan apakah film ini salah satu film terbaik Jepang yang pernah saya tonton? Tentu saja. Apakah ini film yakuza terbaik sejauh ini? Benar sekali! Film ini juga mengingatkan saya dengan serial permainan Yakuza yang di mana saya yakin mengambil inspirasi dari film ini, dan juga itu adalah salah satu serial permainan favorit saya, jadi tentu saya sangat mengidolakan Battles Without Honor and Humanity.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s