“Ada Apa di MUBI” adalah sebuah kolom di mana saya akan menulis mengenai film yang sedang tayang di layanan streaming MUBI.

Saya telah sampai titik di mana saya tidak tahu ingin menulis apa lagi. Semakin hari berlalu, semakin sedikit film dan serial televisi yang dirilis yang memang menarik perhatian saya. Hingga akhirnya saya membuat “Ada Apa di MUBI”, sebuah kolom baru di mana saya akan menulis mengenai film yang sedang tayang di layanan streaming MUBI, yang untungnya saya juga langganan. Ini bukanlah kolom mingguan atau bulanan, ini adalah kolom yang akan saya tulis jika saya memang sedang mood untuk menulisnya. Dan untuk film pertama dalam kolom “Ada Apa di MUBI” adalah film 2015 Burn Burn Burn.

Burn Burn Burn adalah film pertamanya Chanya Button sebagai sutradara, dan ia berhasil membuat sebuah film road trip yang sungguh baik dengan soundtrack yang menenangkan, karakter yang menarik dan eksentrik di sepanjang perjalanan, pemandangan yang sangat indah di sepanjang Britania Raya, dan juga adalah sebuah perjalanan untuk menemukan jati diri yang menyentuh persahabatan, percintaan dan keluarga. Mungkin memang terdengar klise untuk sebuah film road trip, tetapi jika dibuat dengan baik maka film tersebut akan menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan.

FIlm ini menceritakan sebuah kisah mengenai sepasang teman yang menyusuri luasnya Britania Raya untuk menyebarkan abu kremasi jenazah teman mereka. Keduanya adalah Seph (Laura Carmichael) dan Alex (Chloe Pirrie), sementara abu yang mereka bawa adalah milik Dan (Jack Farthing). Saat mengetahui dirinya tidak akan hidup untuk waktu yang lebih lama, Dan merekam sekumpulan video yang akan menuntun Seph dan Alex ke beberapa lokasi di mana Dan ingin abunya disebarkan. Beberapa ada di Inggris, ada juga yang di Wales dan di Skotlandia.

Apa sih yang dibutuhkan untuk membuat sebuah film road trip itu bekerja dan sempurna? Tentunya yang pertama adalah karakter yang harus selalu berhasil menarik perhatian penonton, karena selama film berjalan kita akan mengikuti karakter yang sama ke mana pun ia pergi. Di sini, kita mengikuti Seph dan Alex. Seph adalah seseorang yang terbuka, dengan mudah diajak bergaul dengan orang baru sementara Alex lebih tertutup dan lebih memilih untuk “Tidak ingin membicarakannya” jika ada masalah yang dialaminya.

robinekariski-film-chloe-pirrie-dan-laura-carmichael-di-burn-burn-burn

Kedua sifat yang berbeda itu menghasilkan sebuah hubungan yang dinamis antara keduanya, dan itu bekerja karena bagaimana Laura Carmichael dan Chloe Pirrie berhasil memainkan karakter mereka dengan realistis layaknya dua sahabat yang memang sudah kenal sejak lama. Percakapan terjadi dengan mulus dan mudah terpercaya, tidak ada ke-“kikuk”-an yang terjadi saat keduanya sedang berinteraksi dan juga memang ada chemistry antara keduanya yang membuat perjalanan ini tidaklah membosankan. Film ini berjalan dan bekerja mayoritas karena keduanya. Tidak, bukan hanya karena keduanya. Tetapi juga karena ketiganya, termasuk Dan.

Kita juga mengikuti Dan, meski dalam bentuk abu dan juga sekumpulan video dalam laptop. Meski selama film kita tidak pernah melihat bagaimana ia saat masih hidup, tetapi dengan video-video itu kita dapat mengetahui seperti apa Dan itu. Mengetahui ia tidak akan selamat, Dan masih saja sering melontarkan lelucon yang masih dapat membuat Seph dan Alex tersenyum maupun tersentuh, dengan salah satu guyonannya adalah mengatakan perjalanan ini adalah seperti “Thelma and Louise ditambah Casper the Friendly Ghost.” Memang kehadirannya tidak secara fisik, tetapi kehadirannya selalu terasa sepanjang perjalanan dan itu salah satu yang membuat perjalanan dalam film ini selalu terasa hidup.

Hal kedua yang dibutuhkan untuk sebuah film road trip adalah kejadian-kejadian yang tidak terduga dan karakter eksentrik yang ditemui sepanjang perjalanan. Di Burn Burn Burn, Seph dan Alex bertemu dengan orang asing bernama Adam (Julian Rhind-Tutt) yang mengajak mereka pesta yang layaknya sebuah ritual dari film Midsommar, diakhiri dengan mereka membakar sebuah kulit binatang dan mengenakan mahkota bunga atau tanduk rusa di kepala. Film ini tidaklah melupakan elemen menyenangkan, dan mereka telah berkali-kali memberikan sebuah kejadian-kejadian tidak terduga dan ini adalah salah satu yang paling kocak. Apalagi mengetahui kalau saat mabuk mereka mengajak Adam dan kedua kawannya untuk ikut ke dalam mobil dan pergi bersama-sama, hanya untuk menyesalkannya di pagi hari, dengan mereka mengatakan Adam memiliki karisma seperti Charles Manson (Bagi yang tidak mengetahuinya, cari saja di internet. Tokoh populer).

Kemudian hal ketiga adalah dialog yang pintar serta komedi yang dapat melancarkan serangannya tanpa blak-blakkan. Film ini bukanlah film komedi penuh, melainkan sebuah film yang mengandalkan dialognya yang dalam pada satu saat dan jenaka pada saat lainnya. Film ini memang banyak menghabiskan momennya di dialog, tetapi dengan dialog dan percakapan itulah kita sebagai penonton dan para karakternya sama-sama mencoba untuk mencari jati diri sekaligus membahas mengenai masalah sehari-hari kita serta rahasia yang takut untuk kita ungkapkan. Dengan Burn Burn Burn, Charlie Covell yang sebagai penulis ingin memberitahu kalau percakapan selalu menjadi cara terbaik untuk menyelesaikan masalah dan memaafkan diri.

robinekariski-film-pesta-di-burn-burn-burn

Salah satu dialog yang sangat saya sukai adalah percakapan yang terjadi antara Seph dan Alex dengan ibunya Alex, Shelle (Melanie Walters). Saat sedang menceritakan mengenai kenalannya yang sukses memiliki toko karpet, ibunya Alex dengan aksennya yang kental mengatakan “Making a killing (yang berarti menghasilkan banyak uang). Actually, more like a genocide, in terms of numbers, apparently.” Mungkin itu memang ditujukan sebagai lelucon, mungkin juga tidak, tetapi saya ingat saya tertawa saat mendengar itu karena saya tidak pernah mendengarnya. Dan Burn Burn Burn memiliki banyak sekali kalimat-kalimat yang pintar dan juga baru.

Dan hal terakhir yang tidak kalah penting dalam sebuah film road trip dan sepertinya wajib untuk ada adalah pemandangan yang indah dan musik yang menyegarkan untuk sebuah perjalanan yang tidak terlupakan. Dari mengunjungi Glastonbury Abbey di mana sang legenda King Arthur dimakamkan dan Dan kencingi pada salah satu reruntuhannya saat ia masih kecil, sebuah klab malam di mana Dan menghilangkan perjakanya saat masih remaja hingga danau Ben Lomond di Skotlandia dan salah satu tempat favorit Dan bersama ayah tirinya, Burn Burn Burn tidak pernah kehabisan pemandangan dan lokasi yang menawan yang ditemani dengan soundtrack yang memang dapat membuat masalah lenyap seketika.

Burn Burn Burn, meski namanya yang terdengar sinis, adalah sebuah film yang memang mengingatkan kita kalau film dengan genre road trip belumlah mati. Chanya Button berhasil menyeimbangkan nada serius dan gelap dengan keringanan dan kekonyolan yang kita butuhkan dan sering kita temui dalam perjalanan jarak jauh, dan itulah mengapa Burn Burn Burn adalah film road trip yang sempurna. Lucu, menyentuh dan juga menyegarkan. Dan ini juga adalah film yang sempurna untuk memulai kolom “Ada Apa di MUBI”, yang semoga saja dapat bertahan lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s