Meski terdapat “Wolves” di dalam namanya, tetapi tidak ada serigala yang terlihat sepanjang satu musim. “Wolves” yang disebut mengacu kepada kedua android dalam seri ini. Ridley Scott — yang mungkin sudah tidak perlu diberitahu ia siapa tetapi jika yang masih asing adalah sutradara Alien dan Blade Runner — kembali berkecimpung ke dalam dunia science fiction dengan android sebagai salah satu karakternya. Di Raised by Wolves, Ridley Scott berperan sebagai sutradara di dua episode awal dan menjadi produser eksekutif dan kita bisa merasakan sentuhan-sentuhan dari dirinya sepanjang musim yang mengingatkan kita dengan film-film sebelumnya.

Raised by Wolves mengambil latar pada masa depan, di mana Bumi sedang dilanda perang dan terpecah-belah antara kubu “Atheist” dan “Mithraic” yang pada intinya adalah perang mengenai agama dan kepercayaan. Dua android, Mother (Amanda Collin) dan Father (Abubakar Salim), pergi meninggalkan Bumi menuju sebuah planet yang sangat jauh dengan nama Kepler-22b (planet asli dengan jarak yang dikatakan mencapai 587.1 tahun cahaya) sembari membawa beberapa embrio manusia yang beku untuk memulai koloni manusia baru.

Tentu saja pertanyaan muncul, apa yang sebenarnya terjadi di bumi? Siapakah Mother dan Father ini? Seperti apakah “Atheist” dan “Mithraic” itu? Dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong rasa penasaran saya untuk terus menonton serial ini. Dan jujur saja, saya menjadi lebih tertarik dengan masa lalu dunia Raised by Wolves daripada masa kini, karena saya merasa ada banyak sekali cerita yang terkubur di masa lalunya.

12 tahun kemudian setelah Mother dan Father mendarat di Kepler-22b dan setelah membesarkan manusia-manusia dari embrio yang mereka bawa, hanya ada satu saja yang masih selamat setelah yang lainnya meninggal karena sakit. Dia adalah Campion (Winta McGrath), yang saat lahir dikira tidak selamat dan dinamai Campion setelah pembuat kedua android tersebut. Di saat ini jugalah sekelompok tentara Mithraic datang yang bertujuan untuk menculik Campion karena percaya dia adalah anak yang disebut di dalam sebuah ramalan yang dipercaya dapat membawa keberkahaan kepada seluruh Mithraic.

robinekariski-tv-series-mother-di-musim-pertama-raised-by-wolves

Teknologi dan agama menjadi dua tema utama dan penggerak dalam Raised by Wolves. Dan uniknya, kedua hal yang biasanya sangat sulit untuk digabung tersebut dapat saling menopang satu dengan yang lainnya. Di sini, tidak ada yang agamanya setengah-setengah. Percaya dengan agama atau tidak. Dan keduanya juga bukanlah sisi yang baik, jika dilihat secara norma. Atheist adalah kubu yang bahkan rela mengerjakan anak kecil untuk perang mereka, sementara Mithraic adalah kubu yang buta akan realita, naif dan selalu menganggap apapun yang terjadi adalah kehendak “Sol”, sesuatu yang mereka anggap sebagai Dewa ataupun Tuhan. Mereka selalu mengatakan mereka mengenakan mantel pelindung cahaya Sol saat menghadapi bahaya, meskipun sekali tembak saja dapat membunuh mereka.

Perbedaan keduanya itu juga menjadi hal yang memainkan penonton, karena untuk siapakah kita akan mendukung. Siapakah yang sebenarnya baik dan jahat? Jawaban itu selalu bergantian seiring episode berjalan. Mungkin saja sekarang kita melihat Mother sebagai antagonis yang selalu ingin dirinya dalam kendali penuh, tetapi bisa juga kita melihat dirinya sebagai salah satu yang baik di kemudian episode. Begitu juga dengan karakter lain seperti Marcus (Travis Fimmel) yang merupakan tentara Mithraic yang bisa saja kita lihat sebagai yang jahat di satu episode dan kita dukung di episode selanjutnya. Kebimbangan ini yang salah satu hal yang menarik yang saya temui di Raised by Wolves karena dengannya saya selalu penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya menyukai bagaimana mereka bisa mengkolaborasikan teknologi dengan kepercayaan. Seperti pakaian tentara Mithraic dengan dominan warna putih dan lambang di dada dan juga jubah yang dikenakannya yang mengingatkan saya dengan Kesatria Templar di abad 12 dan 13, tetapi juga mengenakan pelindung tambahan di beberapa tubuh serta membawakan senjata yang terlihat cukup canggih. Imajinasi seperti inilah, yang berhasil menggabungkan ide lama dengan baru, menghasilkan sesuatu yang unik dan juga menarik untuk dilihat.

Hal yang terbaik di Raised by Wolves, tetapi, adalah karakternya. Tunggu, akan saya ubah. Hal yang terbaik adalah karakter utamanya. Dan beberapa karakter lainnya. Terutama Mother, yang diperankan dengan sangat baik oleh aktris asal Denmark Amanda Collin. Dengan Mother, Amanda Collin dengan sempurna menyeimbangkan sebuah karakter yang robotik seperti Terminator di awal seri film Terminator dan sifat manusiawi layaknya memang seorang manusia. Ia juga dengan ahli dapat meyakinkan penonton dengan perubahan sifatnya yang secepat kilat seperti bagaimana ia dapat berubah dari yang penyayang layaknya seorang ibu menjadi seorang pembunuh tanpa belas kasih. Tidaklah sulit untuk menyebut Mother sebagai karakter terbaik di musim pertamanya.

robinekariski-tv-series-amanda-collin-sebagai-mother-di-musim-pertama-raised-by-wolves

Masa lalunya Mother juga sangatlah menarik untuk diikuti, dengan setiap episodenya kita mulai mempelajari tidak hanya masa lalu Mother tetapi juga apa yang sebenarnya terjadi di Bumi sebelum mereka meninggalkannya dan pergi menuju Kepler-22b. Kita mengetahui kalau Mother sebelumnya adalah android untuk Mithraic dengan sebutan “Necromancer” yang tujuannya hanya untuk membunuh. Tetapi ada seseorang di Atheist yang menangkap dan mengubah program di dalamnya sehingga ia akhirnya terpogram untuk menjadi seorang ibu kepada anak-anak yang ia bawa.

Mengatakan itu juga mengingatkan saya dengan kekurangan dari musim pertama ini. Yang pertama adalah saya menjadi jauh lebih tertarik dengan masa lalu daripada masa kini, dan sayangnya selama musim pertama sangat sedikit pertanyaan yang terjawab. Dan terlebih bukannya menjawab pertanyaan, setiap episode malah seakan-akan menambah lagi pertanyan dengan teori-teori baru yang bermunculan. Mungkin mereka memang ingin menyiapkan seluruh pertanyaan itu untuk musim berikutnya, tetapi dengan 10 episode di dalam satu musim, semakin cepat rasa penasaran dan antusiasme saya berkurang seiring setiap episode berlalu.

Dua episode awal memang selalu berhasil membuat saya terkagum. Mulai dari saat Mother dan Father, mengetahui kalau mereka adalah android, membesarkan dan melahirkan bayi-bayi dari sebuah kotak embrio yang bahkan saya sangat terkagum-kagum karena bagaimana bisa konsep ini bekerja. Kemudian juga saat mengetahui kalau Mother juga adalah seorang pembunuh di akhir episode pertama, “Raised by Wolves” di mana ia bisa membunuh manusia hanya dengan teriakannya. Dua episode awal, yang di mana keduanya disutradarai oleh Ridley Scott, memang adalah titik tertinggi dalam serial ini, dan setelahnya tidak lagi mampu mengejutkan saya ataupun membuat saya pensaran sebesar dua episode tersebut

robinekariski-tv-series-ledakan-bahtera-mithraic-di-musim-pertama-raised-by-wolves

Dan kemudian anak-anak di dalam Raised by Wolves sungguh menjengkelkan. Tidak semuanya, seperti Vita (Ivy Wong) yang selalu manis mengikuti Mother atau Tempest (Jordan Loughran) yang merupakan wanita muda yang teguh karena mengandung anak setelah dirinya diperkosa saat diperjalanan menuju Kepler-22b. Tetapi yang lainnya, seperti Campion atau Paul (Felix Jamieson) ataupun juga Hunter (Ethan Hazzard) yang selalu saja menemui cara untuk menggagalkan sebuah rencana ataupun bersikap menjengkelkan dengan selalu ingin tidak patuh dengan Mother ataupun Father. Mungkin karena mereka memang masih kecil, dan pengalaman hidup mereka masih belum banyak, tetapi saya juga tidak bisa menolong diri saya selain berkata “Ya ampun” setiap salah satunya berulah.

Secara visual, Raised by Wolves adalah sebuah seri sci-fi yang cukup mengagumkan terutama pada dua episode awal (iya, saya memang menyukai dua episode awalnya). Dari saat Mother dan Father membuat sebuah tenda yang berwarna kuning-jingga dari dalam, saat Mother menyerang bahtera milik Mithraic ataupun saat bahtera tersebut jatuh dan menghasilkan ledakan yang layaknya seperti sebuah aurora di gelapnya langit. Untuk serial yang ambisius seperti ini, maka visualnya juga tidak kalah ambisius.

Memang cukup sulit rasanya menilai apakah Raised by Wolves adalah serial yang bagus atau tidak. Oke, ini memang adalah serial yang cukup baik. Tetapi mengetahui bagaimana besarnya ambisi dan potensial yang dimiliki, saya merasakan kekurangan yang cukup besar semenjak pertengahan musim. Semakin lama semakin jarang saya merasakan sesuatu yang benar-benar tidak terduga atau sesuatu yang membuat saya terkagum dan penasaran seperti di awal. Jika saja musim pertama ini memang hanya berperan sebagai makanan pembuka, maka saya berharap makanan utama di musim berikutnya bisa memuaskan harapan dan imajinasi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s