“Sial, di mana sepatumu?”
“Orang itu buang air besar di atasnya saat dia mati.”
“Oh, Tuhan, kau benar, dia adalah pembunuh”

12 Hour Shift adalah sebuah film yang dengan tepat mengetahui kapan waktunya untuk serius dan kapan untuk bermain-main dengan kekonyolan sinisnya. Jika memang serius maka sebuah adegan dapat menjadi sebuah momen yang menegangkan, namun saat sebuah adegan sudah berlangsung dengan konyol maka momen tersebut dapat dengan mudah menyajikan humor dan mengundang tawa di tengah situasinya yang pelik dan tidak seharusnya lucu.

Di 12 Hour Shift, tidak ada karakter dengan moral yang benar. Semuanya, termasuk tokoh utamanya, selalu memiliki sifat yang gelap. Mandy (Angela Bettis), tokoh utama kita, adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit di Arkansas pada tahun 1999. Dia adalah seorang pecandu obat-obatan dan juga seorang pemarah dengan sifatnya yang ketus dan dingin. Dan dia juga adalah kaki tangan untuk sebuah dagang gelap organ manusia, di mana dia biasanya dibantu oleh seorang admin, Karen( Nikea Gamby-Turner) dan bertransaksi dengan sepupunya, Regina (Chloe Farnworth), yang meski Mandy tidak pernah mengakuinya sebagai sepupu.

Regina adalah orang yang ceroboh dan sering kesulitan untuk menentukan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia adalah seseorang yang dapat dengan mudah melantur saat sedang berbicara, yang sering mengesalkan banyak orang termasuk Mandy. Ia juga adalah orang yang naif serta pelupa, dengan pada satu waktu lupa untuk mengambil ginjal yang diberikan oleh Mandy bersamanya untuk diberikan kepada seorang penjahat bernama Nicholas (diperankan oleh legenda pegulat profesional Mick Foley). Tentu saja Nicholas mengancam akan mengambil ginjal milik Regina dan Regina, di tengah kepanikannya, langsung kembali ke rumah sakit untuk mencari ginjalnya dan terjadilah kekacauan yang melibatkan hilangnya ginjal, pembunuhan, hingga pasien kriminal yang kabur.

Saat beberapa menit awal film berjalan, 12 Hour Shift memang terlihat akan menjadi sebuah film yang lambat dan tidak menarik. Permulaannya yang lambat juga akhirnya membuat saya merasa tidak optimis dengan film ini. Namun saat film sudah berjalan selama 18-20 menit kemudian, barulah film ini dapat menemui ritmenya yang konsisten dan Brea Grant — penulis dan sutradara — dapat memegang kendali penuh bagaimana alur film berjalan dengan kekacauannya yang liar dan alur cerita yang tetap stabil.

Komedi gelapnya di sini adalah apa yang membuat saya sungguh menyukai film ini. Ini adalah jenis film yang benar-benar tidak ragu untuk melontarkan kekonyolannya dan memamerkan kegilaannya, yang membuat komedi gelapnya tidak hanya efektif, namun juga sempurna. Ini adalah jenis film yang bisa menampilkan adegan pengambilan ginjal yang penuh dengan darah dan pembunuhan dan dibarengi dengan adegan seorang suster dan petugas medis bernyanyi “Are You Wased in the Blood?” Ini bukanlah adegan yang lucu, ini adalah adegan yang cukup menyeramkan namun juga dapat menghasilkan humor di tengah kekacauan itu dan itulah inti 12 Hour Shift.

Komedi gelapnya jugalah bertumpu dengan sekumpulan karakter-karakter di dalam 12 Hour Shift yang mungkin saja kata “eksentrik” tidak cukup untuk mendeskripsikan sifat mereka. Bayangkan jika di satu rumah sakit ada Mandy yang selalu murung, Karen yang selalu sinis dengan segala situasi, Regina yang selalu memperparah situasi, seorang polisi (Kit Williamson) yang polos, seorang petugas medis (Thomas Hobson) yang selalu mendengarkan musik di headset miliknya, seorang kriminal (David Arquette) yang telah bebas dari borgolnya, dan seorang pembunuh (Dusty Warren) anak buahnya Nicholas yang mengincar Regina. Kacau. Dan itulah keseruan film ini, untuk melihat apa yang akan terjadi jika kita mencampur segala macam karakter dengan niat yang tidak baik dan benar di satu bangunan.

Namun tentu apresiasi penuh untuk kepada trio Mandy, Karen dan Regina yang selalu dapat menghidupkan sebuah adegan. Interaksi keduanya, atau bahkan ketiganya adalah apa yang membuat film ini hidup. Entah saat Mandy dan Karen saling panik, atau Mandy yang selalu kesal dengan tingkah Regina ataupun Karen yang selalu terkejut dengan Regina, disitulah sebenarnya tambang emas komedi film ini. Seperti Karen yang terkejut mengapa Regina tidak mengenakan sepatu dan mengatakan “Terima kasih” kepada Karen meski ia baru saja memaki-makinya.

12 Hour Shift adalah seperti sebuah kotak dengan beragam kejutan di dalamnya. Semakin film berjalan, semakin banyak kejadian-kejadian tidak terduga yang entah lucu ataupun histeris terjadi dan itu adalah salah satunya mengapa film ini selalu seru untuk diikuti. Durasinya yang juga tidaklah panjang, hanya selama 87 menit saja, juga memastikan kalau alur film tidak pernah keluar dari inti cerita sehingga tidak ada momen yang terbuang-buang dan basa-basi yang tidak perlu. Ini adalah komedi gelap serta thriller yang saling bekerja secara harmonis, dan juga adalah pembukaan halus yang tepat untuk musim Halloween.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s