“Musim Halloween” adalah kolom di mana dalam beberapa hari ke depan hingga Oktober 31 adalah untuk menulis mengenai film-film horror yang tentunya untuk merayakan datangnya Halloween.

Setiap saya membuka Netflix, Rosemary’s Baby selalu muncul dalam halaman depan atau setidaknya pada deretan film di bagian teratas halaman depan. Saya pun juga tidak tahu mengapa saya belum menontonnya, hingga akhirnya datanglah Oktober yang berarti datangnya Halloween dan saya, seperti kebanyakan orang, akan menonton beberapa film horror dengan Rosemary’s Baby akhirnya menjadi salah satu daftar menonton saya. Dan bung, bisa saya katakan ini bukanlah film yang menyenangkan.

Rosemary’s Baby adalah film yang pintar, mampu membalut beragam tema seperti kehamilan dan paranoia yang mengikutinya, pernikahan dan kehidupan yang baru kepada sepasang suami istri, dan peran wanita dalam usahanya mencari kebenaran dengan genre horror secara psikologi serta elemen sebuah sekte setan yang sangat memengaruhi cerita. Ini bukanlah film yang cepat, melainkan sebuah film yang benar-benar dalam setiap detiknya membangun tensi dan ketegangan yang sangat perlahan hingga pada akhirnya seluruh ketegangan dengan cepat mengalir pada puncak film.

Apa yang unik adalah pada 40 menit awal, film tidaklah terasa horror sama sekali. Bahkan jika mengambil 40 menit pertama, Rosemary’s Baby terasa seperti sebuah film mengenai sepasang suami istri yang baru saja pindahan ke tempat tinggal baru. Di sini, kita diceritakan sepasang suami istri bernama Rosemary (Mia Farrow) dan suaminya, Guy Woodhouse (John Cassavetes). Rosemary adalah wanita muda yang kesehariannya diam dan membersihkan seisi rumah, sementara Guy adalah seorang aktor yang namanya masih tidak terkenal. Tidak ada yang mengenalnya saat ia memperkenalkan diri, dan Rosemary selalu berusaha menyebut beberapa nama film yang pernah dibintanginya dan tidak ada yang mengenalnya.

Saat sedang mencari tempat tinggal baru, mereka menemukan sebuah apartemen kosong di bangunan besar bernama Bramford. Pemilik sebelumnya adalah seorang lansia yang jatuh koma dan meninggal, dan banyak sekali kejanggalan yang terjadi di apartemen itu seperti sebuah kloset di dalam apartemen ditutupi oleh lemari besar (tidak misterius sama sekali, ya kan)?, banyak kabar dan rumor mengenai bagaimana banyak aktivitas yang berkaitan dengan pemujaan setan terjadi di Bramford dan bahkan teman mereka, Butch (Maurice Evans), memperingati mengenai banyaknya pembunuhan dan ritual gelap yang terjadi dan tentunya Rosemary dan Guy, seperti kebanyakan orang, mengeyahkan gosip-gosip itu dan tetap memutuskan untuk memilih apartemen itu dan memiliki bayi bersama.

Biasanya menonton film horror dan tidak ada apa-apa yang terjadi selama 40 menit akan membuat pengalaman menonton memfrustasikan, tetapi tidak dengan Rosemary’s Baby. Di sini, kita benar-benar secara seksama diperlihatkan seperti apa kehidupan Rosemary dan suaminya. Kita juga semakin mengenal tetangganya, Minnie (Ruth Gordon) dan Roman Castevet (Sidney Blackmer) yang terkadang dapat terdengar teriakan dari kamar tidurnya Rosemary dan juga terkadang terdengar nyanyian-nyanyian misterius (dan lagi, tidak misterius sama sekali kan?).

Tidak butuh waktu lama untuk meyakinkan saya kalau ada yang tidak benar dengan apartemennya Rosemary. Petunjuk-petunjuk yang sudah terjadi bukanlah hanya kebetulan yang terjadi begitu saja, tetapi memang ada sesuatu yang berbau sinis dan kelam yang terjadi di sekitar Rosemary. Dan itu mungkin bagaimana pintarnya Roman Polanski — penulis dan sutradara — dalam mengungkapkan misteri horror-nya di Rosemary’s Baby.

Semakin lama film berjalan dan semakin lama kita mengikuti Rosemary dengan perutnya yang membesar, semakin yakin saya kalau memang ada yang tidak benar. Dan saat saya sudah sangat yakin kalau ada sekte setan yang mengambil alih kehidupan Rosemary, Polanski masih enggan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi sehingga bahkan saya yang sebelumnya percaya kalau memang ada yang mempermainkan Rosemary kembali merasa tidak yakin kalau memang itu yang terjadi dan ini mungkin saja hanyalah paranoia di dalam benak Rosemary. Inilah salah satu hal terbesar mengapa saya selalu mengikuti film ini hingga akhir karena saya, sama seperti Rosemary, ingin benar-benar yakin dengan apa yang terjadi dengan melihatnya secara langsung dengan mata saya sendiri.

Tetapi terkadang itu juga yang memfrustasikan dari cerita ini. Karena bagaimana dibutuhkan waktu yang sangat lama bagi Rosemary untuk menyadari kejanggalan yang terjadi. Atau mungkin karena pada masa itu tidak banyak cerita mengenai kultus pemuja setan, sehingga sulit untuk terpikirkan mengenai kejadian seperti itu akan terjadi untuk dirinya, namun tetap saja meski saya memang tidak menyalahkan Rosemary tetapi terkadang saya merasa kesal. Rasa kesal juga terkadang mencuat untuk suaminya, Guy, yang bahkan membela orang-orang tua tetangganya daripada istrinya meski mengetahui kalau Rosemary sering merasa kesakitan baik secara batin maupun fisik.

Dan dari sekian film mengenai kultus yang saya tonton, kultus di Rosemary’s Baby yang paling berhasil membuat saya naik darah. Naik darah dalam artian bagaimana sekelompok kakek-nenek dapat menyembunyikan niat yang sangat jahat dibalik senyum dan keramahannya yang bahkan Rosemary mengakui terlalu dipaksakan dan “sangat ikut campur.” Mungkin tingkah laku mereka memang tidak berbeda dengan kultus di… Midsommar, sebagai contoh. Namun saya merasa lebih tertegun melihat kultus di Midsommar daripada kultus di Rosemary’s Baby yang berhasil membuat saya benar-benar bersimpati dengan Rosemary.

Bagaimana saya bahkan bisa sampai seperti itu? Salah satu alasan adalah Mia Farrow, yang memerankan Rosemary. Sebagai Rosemary, Mia Farrow berhasil mengucurkan segala emosi dan perasaan layaknya seorang ibu yang benar-benar menanti kedatangan anak pertamanya. Ia adalah seorang karakter yang periang, ceria, dan selalu tersenyum terutama ketika mulai membicarakan mengenai kehamilannya. Ia memang adalah pemain termuda di film ini, dengan pemeran lainnya yang berumur 30 tahun ke atas, namun Mia Farrow — yang berumur 23 saat Rosemary’s Baby keluar — berhasil selalu mencuri perhatian di setiap adegan dengan aktingnya yang memang sangat alami bahkan berhasil melampaui pemain film lainnya yang sudah lebih lama di dunia perfilman. Dengan Rosemary, Mia Farrow berhasil menarik simpati sehingga emosi saya juga mengikutinya dengan sangat kuat hingga titik merasa kesal jika ada sesuatu yang buruk menimpanya.

Semua itu akhirnya kembali ke pertanyaan terpenting untuk sebuah film horror, apakah ini adalah film yang menyeramkan? Mungkin ini bukanlah film yang menyeramkan dalam artian sering mengagetkan penonton dalam setiap adegannya, melainkan ini lebih menyeramkan dalam artian akan selalu membuat penonton kepikiran jauh setelah selesai menontonnya. Bukan perasaan takut yang lebih terbangun, melainkan perasaan seperti gelisah, tidak enak dan tidak nyaman akan tercampur dalam satu saat selesai menonton Rosemary’s Baby, terutama dengan konklusinya yang cukup membuat penonton trauma dan berpikir dua kali untuk menontonnya lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s