“Musim Halloween” adalah kolom di mana dalam beberapa hari ke depan hingga Oktober 31 adalah untuk menulis mengenai film-film horror yang tentunya untuk merayakan datangnya Halloween.

Relic dibuka dengan sebuah keran yang memenuhi bak mandi. Air di dalam bak tersebut menguap dan mengalir ke luar ruangan, menuruni tangga menuju lantai pertama, dan menuju sebuah ruangan gelap yang penuh dengan pohon hias natal yang menyala terang dengan lampu dekorasinya. Di pintu, terdapat sebuah nenek tua yang hanya memegang handuk dan membelakangi kamera. Saat kita mendekati nenek itu, kita melihat sebuah sosok gelap terbangun tepat di balik pintu di sebelah kanan, dan nenek ini secara perlahan menoleh ke kamera dan… boom! Layar hitam, judul film muncul di tengahnya.

Relic adalah jenis film horror yang lebih mengandalkan nuansa untuk menyeramkan penontonnya daripada menakutkan dengan jumpscare yang berlebihan. Di sini, film memang berjalan dengan perlahan. Tidak banyak yang terjadi. Tetapi jika diperhatikan secara seksama, setiap adegan-adegan ini membantu untuk membangun nuansa misterius sekaligus membangun perasaan kalau ada sesuatu yang mengganjal sedang terjadi. Mungkin saja tidak sedikit yang akan merasakan film ini terlalu lambat, tetapi jika bertahan maka film ini dapat mengungkapkan jati diri sebenarnya yang cukup membuat merinding.

Nenek tua yang kita lihat di awal film itu adalah Edna (Robyn Nevin), yang mengidap demensia di rumahnya yang kosong. Suatu saat ia menghilang, dan datanglah Kay (Emily Mortimer) dan Sam (Bella Heathcote), anak dan cucu dari Edna ke rumahnya. Kay menyadari kalau rumah ibunya ada sesuatu yang mengganjal. Rumah terkunci dari dalam, posisi kursi yang berubah dan menghadap ke jendela dan sesuatu yang berwarna hitam dan mirip seperti jamur merayap di tembok dengan ukuran yang cukup besar. Tidak sampai situ, pada malam hari terdengar suara berderit yang cukup nyaring dari balik tembok.

Paginya, Kay melihat kalau Edna sudah balik dan sedang berada di dapur. Ia tidak mengingat apa yang terjadi, ia tidak mengenakan alas kaki dan terdapat sebuah lebam di dadanya. Dokternya mengatakan ia mengidap demensia dan menganjurkan untuk selalu berada di rumah, yang ditentang Edna dengan mengatakan “Tahanan rumah” tetapi disetujui oleh Kay. Bahkan Kay sudah mencari rumah lansia untuk ibunya di Melbourne karena khawatir kejadian serupa akan terulang. Semakin lama Kay dan Sam di rumah itu, semakin banyak kejadian-kejadian aneh terjadi dan semakin agresif Edna terhadap keduanya.

Relic mengingatkan saya dengan film horror tahun lalu Girl on the Third Floor, di mana keduanya juga sama-sama menjadikan rumah sebagai subjek teror untuk karakter di dalam film. Keduanya pun juga sama-sama menjadikan keluarga sebagai tema utama konflik di dalam cerita. Jika Girl on the Third Floor adalah bagaimana seorang suami yang harus melawan aura jahat karena tindakannya, di Relic adalah seorang ibu dan anaknya yang harus mencari jalan keluar dan mengetahui apa yang telah dilakukan neneknya.

Relic mungkin berjalan dengan alur yang tidak cepat, tetapi saya tidak mengada-ada kalau film ini adalah sebuah film yang mengerikan. Justru di tengah keheningan, dengan pergerakan kamera yang perlahan untuk mengungkapkan setiap sudut ruangan, sutradara Natalie Erika James benar-benar memanfaatkan ketidaktahuan penonton dan mengubahnya menjadi rasa penasaran untuk mengetahui “Ada apa di situ?” atau “Apa yang akan terjadi?”, dan dapat mengecohkan penonton meski saja sudah mengantisipasi apa yang akan terjadi.

Dalam sebuah film yang semakin lama menggali rasa teror sedalam mungkin, adalah pemeran film ini yang tetap membuat Relic masih manusiawi dan hidup. Ketiganya — Emily Mortimer, Robyn Nevin dan Bella Heathcote — dalam karakternya masing-masing dapat menemukan momen-momen yang menyentuh di tengah keseraman yang sedang terjadi. Memang Edna semakin lama semakin berubah menjadi sesuatu yang bahkan mereka tidak kenali, tetapi Kay dan Sam tetap mengetahui kalau ia adalah keluarga, apapun yang terjadi. Ada beberapa momen yang bahkan cukup memilukan, mengetahui apapun yang terjadi tidak lagi bisa dihindari dan mungkin momen itu akan meninggalkan perasaan yang lebih dalam dan lebih lama dari momen-momen menyeramkan lainnya.

Pada akhirnya, Relic adalah sebuah pengalaman yang cukup mengerikan. Memang film ini tidaklah bergerak dengan cepat, dan memang mudah membuat kita kehilangan konsenstrasi di tengah keheningannya. Tetapi jika setiap keheningan, setiap adegan diperhatikan secara seksama, maka hasil akhirnya adalah sebuah pengalaman yang layak diikuti dengan nuansanya yang mencekam, perasaan menghantui yang selalu membuntuti kemana pun kita berjalan di dalam rumah, dan penutupnya — yang bersifat terbuka dan tidak konklusif — yang grotesque, memilukan namun juga indah dan menyentuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s