“Musim Halloween” adalah kolom di mana dalam beberapa hari ke depan hingga Oktober 31 adalah untuk menulis mengenai film-film horror yang tentunya untuk merayakan datangnya Halloween.

Saya ingat saat menonton Suspiria yang tahun 1977 kalau itu adalah film yang heboh dengan warna, misteri yang memikat serta ceritanya yang memuaskan di pengujung. Dua tahun lalu, Suspiria kembali diceritakan ulang dengan Luca Guadagnino (Call Me by Your Name) sebagai sutradara dan David Kajganich sebagai penulis naskah. Meski saya sudah tidak bisa mengingat Suspiria yang 1977 dengan sempurna, saya mengetahui kalau kedua film ini terlihat, berjalan, dan berakhir sangat berbeda.

Hanya intinya yang sama. Seorang wanita muda, di sini adalah Susie (Dakota Johnson), diajak untuk bergabung ke dalam sebuah akademi dansa, hanya untuk menyadarinya kalau akademi itu adalah sebuah perkumpulan penyihir. Dan hanya itu. Sisanya sangatlah berbeda, dan saya akhirnya memiliki reaksi yang bercampur dengan film ini. Yang pertama karena saya merasa film ini adalah seperti versi Suspiria yang tahun 1977 dijadikan lebih ekstrim lagi, dengan kesadisan dan kebrutalan diperbanyak. Yang kedua adalah karena film ini dirasa terlalu memaksa untuk memperpanjang alur cerita film. Dengan 2 jam dan 30 menit, film ini akhirnya dirasa terlalu mencoba untuk menambahkan elemen-elemen baru untuk membedakan dirinya dengan Suspiria yang terdahulu.

Satu hal yang mungkin untuk saya pribadi kurang menyukainya adalah bagaimana warna di film ini lebih bisu dari yang sebelumnya. Jika di Suspiria (1977) warna dengan mudah meledak di setiap adegan dan dapat menghipnotis mata dengan warna merah yang mendominasi bangunan atau biru saat pada beberapa adegan di malam hari, berbeda dengan Suspiria (2018) di mana warna menjadi lebih dominan krem yang mungkin bertujuan untuk menunjukkan sisi misterius film tetapi tidak bisa membawa sisi magis seperti Suspiria (1977).

Kemudian berbicara mengenai Suspiria tidak bisa lepas dari kesadisan yang dimilikinya. Saya ingat Suspiria (1977) tidak memiliki kebrutalan sebesar film buatan ulangnya. Di Suspiria (2018), horror yang dimilikinya lebih menjerumus kepada body horror yang memperbanyak darah dan tulang untuk diperlihatkan. Semua akhirnya berpuncak pada adegan terakhir, yang akan memaksa penonton untuk menerima apakah yang diperlihatkan ini memang adalah sebuah seni atau hanya kesadisan yang kosong.

Suspiria (2018) juga mulai menambahkan elemen baru yang tidak ada sebelumnya, dengan yang paling terbesar adalah untuk lebih memusatkan perang yang terjadi di Jerman dan menghadirkan karakter baru, seorang psikoterapis bernama Josef Klemperer (Lutz Ebersdorf, yang sebenarnya adalah Tilda Swinton). Kedua elemen tersebut juga sangat memengaruhi cerita dan membantu untuk memisahkan dirinya dengan Suspiria (1977). Di satu sisi, memang menambah daya tarik serta misteri yang mengambang di cerita, tetapi di sisi lain juga memperpanjang durasi serta membuat narasi film secara keseluruhan menjadi lebih berantakan.

Tetapi yang saya sukai adalah saat mereka sudah mulai berdansa. Di setiap adegan dansa atau saat latihan, Luca Guadagnino dapat membuat setiap gerakan terasa memukul atau menendang dengan keras dengan pergerakan kamera, cut yang tepat di setiap shot. Saya juga terpukau dengan bagaimana setiap pemeran di film, terutama dengan Dakota Johnson yang bergerak secara luwes atau Elena Fokina sebagai karakter Olga yang terpental dengan sendirinya karena gerakan Susie di ruangan sebelah (ilmu gaib, semuanya normal). Bahkan saya pernah membaca untuk menyempurnakan tariannya, Dakota latihan di sela-sela syuting Fifty Shades Freed, menunjukkan dedikasinya untuk menari sesempurna mungkin di film, dan ia berhasil!

Kemudian saya juga menyukai peran yang dimainkan oleh Mia Goth sebagai Sara Simms, teman dekat Susie di film yang berhasil mencuri perhatian dengan sifatnya yang seperti sebuah cahaya di tengah kegelapan. Sara mungkin adalah salah satu karakter di dalam film yang memiliki moral yang tidak ambigu, mengetahui kalau ada sesuatu yang mengganjal terjadi di dalam akademi. Dengannya, ia berhasil membawakan elemen thriller dan misteri ke dalam cerita dan membuat nuansa film menjadi lebih misterius serta menegangkan, mencoba untuk berharap kalau ia akan berhasil mengemukakan rahasia gelap di dalamnya.

Selain Mia Goth, tentu yang membuat saya terkejut adalah Tilda Swinton yang memerankan tiga peran sekaligus, dengan ketiganya tidak memiliki kemiripan sama sekali entah karena efek dari dandanannya yang sangat besar atau tingkah lakunya serta gaya bicaranya yang sangat berbeda. Di sini, ia bermain sebagai guru koreografi Madame Blanc, penemu akademi dan pemimpin kelompok penyihir Mother Markos, serta yang paling mengejutkan saya adalah sebagai psikoterapis kakek tua Josef Klemperer. Jika saya tidak membacanya di internet, maka saya tidak akan menyadari kalau itu diperankan oleh Tilda Swinton, yang juga menunjukkan bakatnya untuk memerankan beragam macam karakter yang berbeda, bahkan di satu film yang sama.

Bagaimanapun juga Suspiria adalah contoh sempurna untuk menunjukkan sebuah arthouse horror. Entah jika kalian akan menganggap ini sebagai sebuah remake yang sia-sia atau penggambaran ulang yang jenius, satu hal yang pasti. Setiap adegannya, tidak peduli sebrutal apapun, akan selalu menarik perhatian kalian dan membuat kalian menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini adalah film yang sungguh mengerikan di tema maupun cerita, dan salah satu film yang bisa membangkitkan nuansa Halloween.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s