“Musim Halloween” adalah kolom di mana dalam beberapa hari ke depan hingga Oktober 31 adalah untuk menulis mengenai film-film horror yang tentunya untuk merayakan datangnya Halloween.

Sebut namanya lima kali di depan kaca dan ia akan muncul dan membunuhmu dengan kail di lengan kanannya. Kira-kira begitulah mitos dan legenda dari sebuah sosok bernama “Candyman” yang diceritakan di film dengan judul yang sama dan dirilis pada 1992 ini. Dan itulah apa yang saya sukai dari film Candyman yang juga membuatnya unik, yaitu bagaimana film ini menggunakan sebuah konsep legenda urban — sebuah konsep yang sering kita dengar di masyarakat — dan menjadikannya sebagai pendorong horror.

Film dimulai dengan seorang wanita menceritakan ulang kepada tokoh utama kita mengenai sebuah kejadian menyeramkan yang menimpa kenalan dari pacar teman sekamarnya (cukup panjang) bernama Billy, yang kini jatuh gila karena ia melihat pacarnya terbunuh dengan sadis di kamar mandi setelah menyebut nama “Candyman” lima kali di depan kamar mandi. Tokoh utama kita, Helen (Virginia Madsen), adalah seorang wanita yang sedang mengerjakan sebuah tesis mengenai legenda “Candyman” dan bersama dengan temannya, Bernadette (Kasi Lemmons), mulai menginvestigasi mengenai legenda tersebut untuk tesis milik mereka.

Selama penyelidikan mereka, Helen dan Bernadette mulai mengusut kasus-kasus lama mengenai pembunuhan sadis dan brutal yang dipercayai dilakukan oleh “Candyman”, subjek tesis mereka. Perjalanan investigasi mereka tidak memuat bukti yang konklusif kalau “Candyman” adalah sosok gaib, dan bahkan pada satu momen percaya kalau “Candyman” hanya sebuah julukan untuk seorang berandal yang sering membawa kail bersamanya. Skeptis dengan legenda itu, Helen dan Bernadette sama-sama menyebut “Candyman” di depan kaca kamar mandi, meski hanya Helen yang menyebutnya sampai lima kali.

robinekariski-film-virginia-madsen-sebagai-helen-di-candyman

Mari saya katakan dari sekarang kalau Candyman adalah film yang menyeramkan. Menyeramkan di konsepnya, menyeramkan saat membangun suasananya, dan menyeramkan saat kekacauan sudah mulai terjadi. Candyman memang adalah film yang cukup gore, dengan tidak pernah ragu untuk menunjukkan darah merah yang banjir menggenangi lantai di setiap adegan atau bagaimana setiap korban dari “Candyman” selalu terbunuh dengan cara yang brutal. Tetapi gore yang dimilikinya tidaklah semena-mena gore sampah yang ada hanya untuk membuat penonton mual. Gore di sini memiliki tujuan, dengan konsep yang membelakanginya.

Legenda urban adalah sesuatu yang sering kita dengar. Apalagi kita berada di Indonesia, di mana banyak sekali takhayul dan mitos yang berkeliaran di masyarakat dengan setiap pulau dan daerah memiliki takhayul yang berbeda-beda. Dan tentu pertanyaan yang terpenting untuk setiap takhayul itu adalah… apakah itu memang benar nyata? Atau hanya sebuah cerita untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak nakal dan keluar rumah saat hari sudah menjelang malam? Meski banyak yang akan mengatakan mereka tidak percaya, tetapi tidak sedikit juga yang diam-diam masih memercayai mitos-mitos itu. Entah memang benar atau hanya cerita belaka, takhayul berhasil dan masih menakut-nakuti kita, dan begitu juga dengan “Candyman” di dalam Candyman.

Apa yang membuatnya menyeramkan adalah dari awal film, “Candyman” sudah dinyatakan sebagai takhayul yang dipercayai karakter-karakter di dalam film. Tidak seperti Halloween atau Saw di mana masyarakatnya tidak pernah mendengar atau tidak pernah memiliki takhayul mengenai Michael Myers atau John Kramer. Di Candyman, semuanya sudah pernah mendengar mengenai sosok misterius “Candyman”, dan karena hanya menganggap sebagai takhayul belaka, Helena dan Bernadette tidak benar-benar memercayainya. Dan justru itulah yang membuat perasaan menyeramkan lebih bangkit, untuk mengetahui sebuah mitos dapat benar-benar hidup dan mengancam hidup seseorang. Dan bukankah itu yang kita takuti, jika mitos dan takhayul yang sering kita dengar saat masih kecil rupanya dapat terjadi pada kita hanya karena kita tidak memercayainya?

robinekariski-film-tony-todd-sebagai-candyman-di-candyman

Selain dengan konsepnya dan bagaimana mereka membangun suasana yang cukup mengerikan, adalah penampilan Tony Todd sebagai “Candyman” yang bisa saya katakan cukup menggertakkan meski dirinya tidak muncul cukup sering. Memang tidak sering, tetapi setiap ia muncul, dengan kail di tangan kanan; jubah yang menutupi seluruh tubuh hingga ujung kaki yang cukup keren; perawakannya yang dingin dan suaranya yang menggema dan mengintimidasi, dapat membuat sebuah adegan dengan cepat berubah menjadi kelam serta menggigil. Tidaklah sulit rasanya untuk melihat mengapa karakternya sering masuk ke dalam daftar tokoh-tokoh slasher paling ikonik di berbagai situs film.

Kemudian musiknya! Disusun oleh Philip Glass (MishimaKundunThe Truman Show), musik yang dimiliki Candyman dengan “It Was Always You, Helen” sungguh ikonik dan cukup memisahkan dirinya dengan musik horror pada umumnya dan dapat menandingi musik ikonik seperti yang dimiliki Halloween dengan keduanya sama-sama menggunakan piano untuk memberikan sebuah musik yang mengerikan dan juga tersangkut di kepala, bahkan saya mencarinya di Spotify dan berusaha untuk mempelajarinya untuk memainkannya di piano. Cukup dengar dua detik dan dapat dengan mudah mengetahui ini adalah musik Candyman, yang memang mengerikan tetapi juga menyentuh dan… sedih? Yang pasti adalah terdengar sederhana namun juga berdampak cukup kompleks dan dalam kepada kisah di dalam film.

Musiknya, bersama dengan akhir dari Candyman, memberikan sebuah konklusi yang cukup unik untuk sebuah film horror, yang menyeramkan namun juga cukup ironis dan prihatin. Jika kita biasanya merasa puas setelah menonton film horror atau takut, berbeda dengan Candyman yang seperti memberikan perasaan yang terbuka. Kita bisa takut, atau kita juga bisa prihatin dengan bagaimana cerita ini mengakhiri karakternya. Bagaimanapun juga, ini adalah film yang sempurna untuk ditonton di Halloween, dan saya sungguh menyukainya. Sekarang hanya menunggu Candyman yang akan keluar pada tahun depan dan juga menjadi sebuah sekuel untuk film ini, melompati dua sekuel yang sudah keluar terlebih dahulu pada 1995 dan 1999, sepertinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s