Musim pertama The Boys menunjukkan bagaimana label “superhero” hanyalah semata-mata sebuah merek untuk sekumpulan orang dengan kekuatan super yang dipercayai adalah pahlawan. Kan di namanya saja sudah ada hero di dalamnya. Tetapi “superhero” yang masyarakat percayai itu tidak berbeda dengan para penjahat yang telah mereka sumpahi untuk dihabisi. Brutal, tidak mengenal moral baik dan benar, dan egois. Di musim kedua, tidak ada lagi yang namanya pahlawan super. Semuanya hanyalah orang berkekuatan super. Bukan pahlawan, hanya orang licik yang berkekuatan super.

Apa yang saya sukai dari The Boys adalah bagaimana serial ini mampu menangkap pertanyaan dan kemungkinan yang kita miliki saat menonton film-film superhero dari Marvel ataupun DC. Seperti pertanyaan “Bagaimana jika Superman pada suatu saat berubah menjadi jahat?” Pertanyaan yang sederhana tapi tidak pernah terealisasi itu adalah esensi dari The Boys, di mana serial ini memiliki sekumpulan pahlawan super yang dinamai “The Seven” dan bagian dari sebuah perusahaan raksasa bernama Vought, di mana setiap anggotanya bukanlah pahlawan super yang masyarakat percayai.

Melanjuti dari musim pertama, kini cerita semakin rumit dan liar dengan sekumpulan manusia normal dengan panggilan “The Boys” yang dikepalai oleh pria tangguh dan tidak pernah basa-basi William “Billy” Butcher (Karl Urban) yang sebelumnya menentang “The Seven” dicap sebagai kriminal oleh pemerintah. Tidak hanya itu,  namun Billy juga mengetahui kalau rupanya istrinya, Becca (Shantel VanSanten) masih hidup dan tinggal bersama anak dari hasil pemerkosaan oleh salah satu pahlawan dan pemimpin “The Seven”, Homelander (Antony Starr). Dan itu baru satu masalah, sementara musim kedua ini memiliki banyak sekali masalah.

Di musim kedua, kita tidaklah hanya diceritakan mengenai “The Boys”. Kitapun juga diberikan waktu yang cukup untuk mendalami perusahaan Vought dan kelompok “The Seven” yang kini tengah dalam situasi genting karena bocornya rahasia mengenai komponen “Compound V” yang digunakan untuk memberikan kekuatan super kepada manusia biasa. Tidak hanya itu, tetapi “The Seven” juga mendapati pahlawan super baru bernama Stormfront (Aya Cash) yang mengisi posisi kosong yang ditinggalkan oleh Transluscent di musim pertama.

robinekariski-tv-series-karl-urban-sebagai-billy-butcher-di-musim-kedua-the-boys

Tetapi apa yang saya sukai dari musim kedua ini adalah meski The Boys mulai memberikan banyak kisah yang berbeda-beda dengan setiap karakternya, tidak pernah sekalipun terasa berantakan dalam hal menceritakannya. Semuanya terceritakan secara rapi meski satu musim hanya memiliki 8 episode, setiap kisah juga memiliki koneksi yang menarik dengan kisah karakter lainnya dan juga setiap kisah memiliki entah penutup yang tepat dan tidak terkesan bertele-tele atau ruang yang cukup untuk membangun antisipasi penonton di musim ketiga yang masih belum tahu kapan akan dirilis.

Satu episode di musim kedua bisa menceritakan berbagai kisah yang berbeda-beda dan biasanya akan sangat mudah untuk melupakan apa yang terjadi. Tetapi tidak dengan musim ini. Meski kita bisa saja diceritakan mengenai keluh kesah Billy dan anak buahnya, Homelander yang kesulitan untuk mengendalikan otoritasnya di “The Seven”, kehadiran Stormfront, Deep (Chace Crawford) yang kesulitan untuk memaafkan tindakan masa lalunya, Hughie (Jack Quaid) dan Starlight (Erin Moriarty) yang sering berkelompok untuk menyelesaikan misi “The Boys” dan masih banyak lagi kisah-kisah kecil sepanjang perjalanan yang muncul. Dan semuanya terasa penting. Tidak ada yang terasa membuang-buang waktu, meski setiap episode berdurasi sekitar satu jam.

Menonton musim pertama The Boys, kita mengetahui bagaimana sinisnya serial ini. Sebuah serial yang mungkin juga bekerja sebagai sebuah karya satir, serial ini tidaklah sungkan untuk membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dan karena itulah setiap kejutan terasa segar dan bekerja. Di sini, tidak ada garis batas yang mengekang kebebasan kreativitas untuk bekerja. Mencemooh pahlawan super yang biasa kita lihat di film-film superhero? Tentu saja. Membangkitkan Nazi untuk memperpedas cerita? Siapa takut. Justru semakin gila, semakin serulah The Boys untuk diikuti.

Salah satu kehadiran baru yang memperkeruh dan menambah intensitas suasana adalah Stormfront. Ia adalah seseorang yang narsis, pintar berbicara (atau memanipulasi lebih tepatnya) dan juga haus akan perhatian ia selalu melakukan livestream di Instagram di setiap kesempatan. Sifatnya tentu mirip dengan Homelander, dan bagi Homelander kehadiran Stormfront adalah sebuah ancaman untuk posisinya di “The Seven”. Dirinya sudah kesulitan untuk mengendalikan opini masyarakat yang semakin lama semakin tajam dengan kehadiran “The Seven”, dan Stormfront adalah seperti sebuah minyak yang disiram ke api yang sudah membara dengan ganas.

robinekariski-tv-series-antony-starr-sebagai-homelander-di-musim-kedua-the-boys

Konfik internal yang disuguhi The Boys juga menambah dinamika dalam setiap hubungan pahlawan super, tidak lupa dengan hubungan yang sudah rentang antara Homelander dengan pimpinan Vought, Stan Edgar (Giancarlo Esposito). Meningkatnya konflik juga berarti meningkatnya darah, pembunuhan yang brutal dan sadis. Ingin melihat bagaimana jika orang dengan kekuatan super yang dapat menembak laser dari mata dapat membunuh manusia? The Boys punya jawabannya. Di musim kedua, kesadisan juga terasa semakin meningkat dan menunjukkan kalau mereka tidaklah main-main untuk menunjukkan sedikit orang tubuh (tidak sedikit, tetapi seluruh tubuh lebih tepatnya).

Satu hal yang menarik yang saya sukai dan saya harapkan akan datang dalam jumlah yang lebih banyak pada musim selanjutnya adalah menambahnya orang-orang dengan kekuatan super. Tidak hanya pahlawan super, tetapi ancaman di Amerika Serikat juga adalah “supe terrorist” atau “supervillain” jika Homelander lebih memilihnya, yang merupakan penjahat dengan kekuatan super. Menambahnya orang berkekuatan super berarti menambahnya kemungkinan kita melihat lebih banyak orang memiliki kekuatan unik, dan itu adalah sesuatu yang seru untuk dilihat. Jahat atau baik, melihat satu orang dengan kekuatan super beradu kekuatan dengan orang dengan kekuatan super lainnya adalah sebuah adegan berantem yang cukup menegangkan karena siapa saja bisa kalah secepat jentikkan jari.

Di musim kedua, The Boys adalah sebuah kelanjutan yang sempurna untuk serial yang gelap, brutal dan tidak basa-basi. Musim ini juga menemukan tempo yang tepat untuk menceritakan dan mendalami setiap karakter di dalamnya, memberikan penerangan kepada penontonnya dan juga masih tetap meninggalkan misteri untuk membuat penonton penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. The Boys memang adalah sebuah tontonan yang tepat setelah lama tidak munculnya film-film superhero, dengan Birds of Prey adalah film pahlawan super terakhir. Serial ini mengingatkan, tidak semua orang berkekuatan super adalah orang yang baik.

Musim terbaru dari serial yang diproduseri oleh Seth Rogen ini sudah keluar di Amazon Prime Video.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s