“Sihir jauh lebih jazz” – Montrose Freeman

Seperti saat akan membaca cerita-cerita dari H.P. Lovecraft, saya memasuki Lovecraft Country tidak mengetahui apa yang akan saya dapatkan. Apa yang saya ketahui adalah serial ini berlatar di Amerika Serikat pada tahun sekitar 1950-an yang menceritakan mengenai tokoh berkulit hitam yang menghadapi tekanan, ancaman dan bahaya karena segregasi ras yang masih terjadi. Saya bahkan tidak mengetahui kalau sisi fantasi dan gaib akan muncul secara harfiah layaknya cerita Lovecraft, dan rupanya saya salah. Di sini, semua kegilaan yang saya rasakan saat membaca setiap ceritanya H.P. Lovecraft kembali saya temui.

Saya memang adalah penggemar dari karya H.P. Lovecraft, yang mampu membawakan sebuah cerita dengan bahasanya yang rumit dan keliarannya yang selalu muncul di tempat tidak terduga. Bahkan untuk yang bukan penggemar membaca novel, saya memiliki novel yang berisikan cerita-cerita pendek miliknya yang memperkenalkan saya ke banyak sekali sisi fantasi horror yang belum saya temui sebelumnya. Kekaguman saya terhadapnya sebetulnya datang dari permainan Bloodborne yang memperkenalkan saya kepada sebuah genre yang sangat unik: Lovecraftian horror.

Tetapi kekurangan terbesar yang saya temui di beberapa cerita H.P. Lovecraft adalah bagaimana ia menulis ras, terutama orang kulit hitam, yang kini masih menjadi kontroversi terbesar darinya. Dap apa yang uniknya di Lovecraft Country adalah bagaimana serial ini menggunakan aspek itu sebagai penggerak utama ceritanya, menggunakan ras kulit hitam — sesuatu yang sering ditulis dengan kasar oleh H.P. Lovecraft — di dalam sebuah genre yang paling melekat dalam H.P. Lovecraft: Lovecraftian horror.

Saat saya belum menyadari apa yang akan saya dapatkan menonton serial ini, Lovecraft Country dibuka dengan seorang prajurit (Jonathan Majors) berlari dalam parit di tengah medan perang dalam warna hitam dan putih. Ia berlari, memukul dan menusuk setiap musuh yang menghampirinya dengan senapan miliknya. Kemudian ia keluar dari parit itu dan layar berubah dari hitam dan putih menjadi berwarna dengan merah mendominasi akibat ledakan dan api yang berkoar di sekitarnya. Dan datanglah UFO; gurita raksasa layaknya “Cthulhu” dari cerita H.P. Lovecraft yang terbang di atas; sebuah mesin asing yang menembakkan laser ke setiap prajurit di bawahnya; seorang makhluk berkulit merah turun dari UFO, dan Jackie Robinson yang turun untuk memukul makhluk gurita dengan tongkat baseball miliknya dan mengatakan “I got ya, kid” kepada prajurit itu.

robinekariski-tv-series-pembukaan-musim-pertama-lovecraft-country

Semua itu hanyalah mimpi dari prajurit yang kita lihat itu, yang bernama Atticus atau biasa dipanggil “Tic”. Namun meski hanya mimpi, dua menit awal itu memberitahu kalau perjalanan saya dengan serial ini akan menjadi seaneh, seeksentrik, seliar dan sekacau itu. Dua menit pertama itu berhasil, yang meski hanyalah mimpi, berhasil membujuk saya untuk mengikuti Lovecraft Country dan untuk terus mengantisipasi apa yang akan terjadi karena jika dalam dua menit pertama mereka berhasil membuat seperti itu, bagaimana dengan 10 jam di berikutnya dengan satu jam pada setiap episodenya?

Dan memang benar, layaknya membaca kisah dari H.P. Lovecraft, Lovecraft Country penuh dengan petualangan yang gila dan mendebarkan, tidak lebih dengan taburan elemen magis yang menambah serial ini adalah sebuah perjalanan yang sungguh liar. Atticus, mantan tentara di Perang Korea, pulang ke kampungnya di Chicago dan menemukan kalau ayahnya telah hilang dan meninggalkan surat untuk mengajak Atticus untuk mengeksplorasi sejarah keluarganya di sebuah daerah bernama Ardham. Atticus, bersama dengan pamannya yang menulis buku panduan perjalanan untuk orang berkulit hitam, George Freeman (Courtney B. Vance) dan temannya Atticus, Letitia (Jurnee Smollett) atau yang biasa dipanggil “Leti”, sama-sama berangkat menuju Ardham untuk mencari ayahnya Atticus, Montrose (Michael K. Williams).

Lovecraft Country tidak semena-mena langsung menjejalkan seluruh genre dan temanya pada episode pertama. Tetapi dengan perlahan mulai mengeksplorasi setiap motif, dengan rasisme menjadi dasar utama untuk episode pertama, “Sundown”. Di episode pertama, sutradara Yann Demange telah membuat sebuah episode yang menunjukkan bagaimana kacaunya rasisme bekerja di Amerika Serikat dengan sekumpulan adegan yang tidak hanya menegangkan, namun juga membuat kita berpikir. Seperti saat ketiganya sedang ingin makan di sebuah restoran, dan berakhir dengan kejar-kejaran mobil oleh sekumpulan orang kulit putih yang mengejarnya dan menembakinya hanya karena mereka ingin memakan. Atau saat mereka dihentikan oleh polisi dan mengatakan kalau tidak boleh ada orang kulit hitam saat matahari sudah terbenam di daerah itu.

Saat kita sudah melihat bagaimana brutalnya sebuah rasisme yang terjadi, kini kita diperlihatkan brutalnya sebuah sihir dan kejadian-kejadian gaib yang menimpa mereka yang mulai di eksplorasi di akhir episode pertama dan mulai berkembang menjadi salah satu penggerak utama di musim pertama ini. Dan seperti elemen fantasi di cerita H.P. Lovecraft, keanehan dalam elemen fantasi di H.P. Lovecraft juga tidaklah sedikit. Monster? Kumpulan gelap untuk penyihir? Mantera untuk menyihir yang menggunakan Bahasa Adam? Semuanya tergabung dan menghasilkan sebuah petualangan yang unik.

Di sini, Lovecraft Country dengan piawai menggabungkan beberapa tema dan genre sekaligus untuk menghasilkan sebuah serial yang layaknya sebuah mantera, dapat menyihir penontonnya untuk selalu penasaran dengan apa yang akan terjadi. Bahkan mereka dengan pandai juga dapat menggabungkan sihir dan rasisme menjadi satu padu, seperti pada episode kelima “Strange Case” di mana sebuah sihir dapat menukar tubuh seseorang dan pada satu waktu mengubah orang berkulit hitam menjadi kulit putih. Dengan kulit barunya, ia pun mempelajari bagaimana rasanya untuk hidup sebagai kulit putih, mendapatkan hak yang tidak didapatkan orang kulit hitam dan saat ditanya mengapa ia tidak mengamil uang yang telah diberikan, ia menjawab kalau ia sudah memiliki mata uang yang diperlukannya: kulit putih.

robinekariski-tv-series-musim-pertama-lovecraft-country

Lovecraft Country juga pada suatu saat terasa meta dalam penceritaannya, yang sering menyinggung H.P. Lovecraft itu sendiri dan karya-karyanya, dengan salah satu yang terbesarnya adalah Ardham, sebuah kota fiksi yang mirip dengan kota Arkham, sebuah kota fiksi juga yang sering dijadikan sebagai latar untuk ceritanya H.P. Lovecraft. Bahkan Atticus pada awalnya mengira tulisan “Ardham” adalah “Arkham” dan dikatakan kalau itu tidaklah mungkin karena Arkham bukan kota asli, dan sebetulnya bahkan Ardham juga bukanlah daerah asli di Massachusetts.

Selain dari ceritanya yang sungguh dalam dan penuh makna di setiap saat, yang membuat Lovecraft Country menjadi lebih hidup adalah karakternya yang penuh dengan sifat yang beragam, masa lalunya yang padat dan diperankan dengan maksimal oleh setiap pemerannya. Terutama Jonathan Majors yang sebelumnya hanya saya ketahui bermain sebagai tokoh kedua di The Last Black Man in San Francisco, kini ia mampu bermain sebagai tokoh utama di sebuah serial yang liar ini, sebagai Atticus, sebuah karakter yang penuh dengan masa lampau yang seperti sebuah roller coaster.

Berlatar di tahun 1950-an, Lovecraft Country juga tidaklah ragu untuk memasukkan beberapa kejadian nyata yang menggemparkan satu negara serta mengubah sejarah seperti kematian brutal seorang remaja Emmett Till karena rasisme yang radikal dan tidak masuk akal atau pembantaian ras di Tulsa. Dengan memasukkan kejadian-kejadian nyata seperti itu, cerita di film juga akhirnya menjadi lebih mudah dipercayai, sedikit terasa lebih realistis karena kejadian-kejadian itu memang benarlah pernah terjadi di dunia nyata meski saja sihir yang berkeliaran di serial ini tidaklah benar-benar terjadi.

Lovecraft Country memang adalah serial lainnya yang juara dari HBO, tetapi ada satu yang membuat saya sedikit kecewa. Yaitu bagaimana serial ini memperlakukan karakter Ji-Ah (Jamie Chung), seorang suster di Korea yang memiliki hubungan dengan Atticus. Meski saja ia memiliki satu episode penuh untuk menceritakan masa lalunya di episode keenam “Meet Me in Daegu”, tetapi ia terasa tidak terlalu berdampak di keseluruhan musim pertama, bahkan aksinya di episode terakhir yang mungkin cukup vital tetapi dirasa terlalu dipaksakan. Ia tidak terlibat apapun pada cerita kecuali menunjukkan petunjuk-petunjuk kecil yang dan hanya muncul beberapa saat setelah episode keenam. Dengannya, apalagi masa lampaunya yang cukup ekstrim, saya merasakan ia dapat menambah elemen kegilaan dalam sisi fantasi yang dimiliki serial ini. Lagipula, kegilaan adalah apa yang membuat Lovecraft Country unik dan segar dari serial lainnya. Semoga saja ia akan memiliki peran yang lebih besar di musim kedua, jika memang ada musim kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s