Terkadang saat saya sedang menonton film yang menggambarkan sebuah kejadian nyata, saya suka berpikir “Apakah kejadian nyatanya memang sedramatis yang digambarkan di sini?” Pertanyaan itu kembali terulang di dalam pikiran saat menonton The Trial of the Chicago 7, film dari sutradara dan penulis Aaron Sorkin dan tayang di layanan streaming Netflix dari akhir bulan lalu. Di sini terdapat sebuah pengadilan yang begitu meresahkan, menjengkelkan, berkepanjangan hingga berbulan-bulan, mengintimidasi dan tidak adil. Apakah pada kejadian nyatanya, pengadilan yang digambarkan memang berjalan seperti itu?

Dan saat menonton ataupun saat selesai, saya merasa tidak terlalu terganggu dengan pertanyaan itu. Di sini, sebuah pengadilan digembar-gemborkan sebagai sesuatu yang heboh, penuh dengan karakter yang eksentrik, seorang penuntun yang mengalami dilema, seorang hakim yang selalu berprasangka buruk, sekelompok terdakwa yang memiliki sifat yang beragam dan penuh dengan cacian-maki serta perlawanan di dalamnya. Dan saya menikmatinya. Saya menikmati bagaimana energi dari setiap karakter terasa, setiap cercaan dan setiap dakwaan selalu dilantangkan dengan penuh tekanan dan bagaimana setiap orang berusaha mengalahkan lawannya dengan segala cara.

The Trial of the Chicago 7 menceritakan mengenai sebuah pengadilan yang terjadi pada tahun 1969, dengan angka 7 diambil dari ketujuh terdakwa yang dihakimi. Tetapi pada awalnya, bukan tujuh melainkan delapan terdakwa yang dihakimi di dalamnya, dengan Bobby Seal (Yahya Abdul-Mateen II), ketua dari kelompok “Black Panther Party” ikut di dalamnya dan setelah penuh perjuangan akhirnya dibebaskan karena diketahui tidak terlibat dalam aksi yang dilakukan ketujuh lainnya. Apa sebenarnya aksi yang mereka lakukan sehingga harus menjadi terdakwa dalam pengadilan ini? Memprotes peperangan yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Vietnam.

robinekariski-film-terdakwa-di-the-trial-of-the-chicago-7

Pada dasarnya, ketujuh terdakwa adalah sekumpulan orang dari berbagai kelompok yang sama-sama mendatangi Chicago saat Konvensi Nasional partai Demokrat sedang berlangsung untuk melakukan demonstrasi mengenai pemberhentian perang. Apa yang menariknya, di The Trial of the Chicago 7 tidaklah dimulai dengan bagaimana demonstrasi itu berlangsung tetapi langsung melompat lima bulan setelahnya, saat pengadilan untuk ketujuhnya dimulai. Dengan begitu, penonton tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan fakta apa yang sebenarnya terjadi mulai terungkap seiring berjalannya pengadilan, yang membuat film ini tidak pernah terasa bosan karena selalu menarik untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya di pengadilan yang kacau ini.

Di antara ketujuhnya adalah dua anggota dari SDS atau “Students for a Democratic Society” Tom Hayden (Eddie Redmayne) dan Rennie Davis (Alex Sharp), dua tokoh penting untuk organisasi “Youth International Party” atau yang bisa disingkat menjadi “Yippies” Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen) dan Jerry Rubin (Jeremy Strong), pemimpin sebuah demonstran yang patuh dengan aturan dan sudah berkeluarga David Dellinger (John Carroll Lynch), serta Lee Weiner (Noah Robbins) dan John Froines (Daniel Flaherty) yang bahkan tidak terlalu paham mengapa mereka menjadi terdakwa.

Dari awal kita sudah ditunjukkan kalau pengadilan akan berjalan dengan sangat mengintimidasi. Sang hakim, Julius Hoffman (Frank Langella) langsung menunjukka sifatnya yang bermusuhan dengan ketujuh terdakwa dan pengacara mereka, William Kunstler (Mark Rylance), yang akhirnya berpuncak dengan sebuah adegan yang cukup menyeramkan: saat di mana hakim menyuruh salah satu terdakwa, Bobby Seal, untuk dibawa ke ruangan lain dan diborgol serta dibungkam mulutnya dengan sebuah handuk kecil. Saat menonton pengadilan seperti ini, tentu saya berpikir apakah memang berjalan sebrutal ini?

Setelah membaca-baca, rupanya memang benar seperti itu yang terjadi. Dengan The Trial of the Chicago 7, Aaron Sorkin telah kembali membangkitkan sebuah pengadilan, sebuah kejadian secara beruntun yang menunjukkan ketidakadilan nyata yang pernah terjadi, sehingga terkadang kita sebagai penonton menjadi tidak peduli apakah yang terjadi di film itu hanyalah dramatisasi sang sutradara atau memang benar terjadi karena kita pusat konsentrasi kita mengacu kepada bagaimana pada satu saat di dalam sejarah sebuah pengadilan bisa menjadi kotor dan tidak adil seperti itu, dan mungkin itu bukan yang pertama atau yang terakhir kalinya.

robinekariski-film-pemeran-di-the-trial-of-the-chicago-7

Selain dengan temanya yang memang berat dan menarik, tentu saja apa yang menjadi daya tarik film ini adalah pemainnya. Selain dari kedelapan terdakwa dengan pemerannya yang sudah tidak asing lagi, ada Joseph Gordon-Levitt sebagai penuntun Richard Schultz, Kelvin Harrison Jr. sebagai salah satu petinggi “Black Panther Party” Fred Hampton hingga Michael Keaton yang meski hanya memiliki dua adegan saja namun memiliki dampak yang cukup besar dan menambah keseruan sebuah pengadilan sebagai Ramsey Clark, mantan Jaksa Agung yang dipanggil untuk menjadi saksi.

Dengan bergelimpangan bintang di dalamnya, Aaron Sorkin berhasil memberikan waktu dan kesempatan untuk setiap karakter di dalamnya bersinar dan mengambil momen tersendiri. Tidak ada karakter yang terasa terbuang sia-sia, tidak ada pemeran yang terasa tidak cocok dengan karakternya. Tidak hanya menonton bagaimana serunya sebuah pengadilan, tetapi The Trial of the Chicago 7 juga terlihat seperti ajang unjuk gigi untuk setiap pemerannya, yang telah memberikan penampilan yang gemilang di setiap saat.

Selain Michael Keaton yang berhasil menarik perhatian dengan karakternya yang tenang, berani dan juga percaya diri, yang selalu berhasil membuat film ini tidak selalu terasa kelam dan tetap menyenangkan untuk diikuti adalah Sacha Baron Cohen dan Jeremy Strong yang terlihat seperti duo lawak di dalam pengadilan. Keduanya, terutama Sacha Baron Cohen, mampu memainkan karakter yang pada umumnya terlihat konyol namun pada beberapa momen dapat menunjukkan kepintarannya yang tidak terduga oleh orang lain, sehingga karakternya menjadi yang selalu seru untui diikuti.

The Trial of the Chicago 7 adalah film yang intens dan penuh dengan drama yang sengit, entah itu dramatisasi dari sang sutradara atau tidak. Di sini, kebaikan dan kejahatan menyatu dengan satu. Apakah yang diadili dan didakwa sebagai kriminal memang adalah orang jahat? Atau apakah pihak yang mengadili mereka, yang seharusnya berbuat benar adalah orang yang baik? Di sini, tidak ada “penjahat” yang benar-benar jelas, dan itulah yang membuat drama pengadilan ini begitu menarik untuk diikuti hingga selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s