Teror di His House tidaklah datang semena-mena dari satu sisi saja. Di film Netflix ini, teror menjumpai dari masa lalu serta masa depan sekaligus, menjadikan horror di dalam film cukup mencekam. Remi Weekes, dalam film pertamanya sebagai sutradara, memastikan intensitas cerita tidak pernah mereda dan selalu meningkat seiring dengan adegan yang berjalan dengan mulus serta cerita berjalan semakin merayap ke sekujur tubuh penonton.

Rial (Wunmi Mosaku) dan Bol (Sope Dirisu) adalah sepasang pengungsi yang kabur dari Sudan Selatan karena dilanda perang dan kini berakhir di Inggris setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami musibah di tengah laut. Meski mereka selamat, sayangnya putri mereka meninggal dalam kejadian itu. Kini, setelah ditahan dalam kurun waktu yang tidak sebentar, Rial dan Bol diberikan sebuah tempat tinggal dalam masa percobaan di mana mereka diberikan aturan yang cukup banyak dan diberikan uang setiap minggunya.

Selama beberapa saat, kita dapat melihat perbedaan yang mencolok dari keduanya. Bol dengan cepat berusaha untuk berbaur dengan masyarakat sekitar di mana ia bernyanyi mengenai pemain bola Peter Crouch di sebuah bar, dan menyuruh Rial untuk berbicara Bahasa Inggris saat sedang berdebat, sementara Rial masih berpegang teguh dengan adatnya. Bahkan saat makan kita melihat perbedaan di mana Rial memakan dengan tangan sementara Bol menggunakan alat makan, meski terlihat masih tidak terbiasa.

Tetapi isu terbesar untuk keduanya bukanlah seberapa cepat mereka akan beradaptasi, tetapi bagaimana mereka akan menghadapi masa depan di kehidupan baru mereka dengan masa lalunya yang sangat kelam. Ironisnya, mereka kehilangan putri mereka untuk bertahan hidup dan kabur dari negara mereka. Kehilangan putri mereka juga akhirnya yang menghantui keduanya di rumah baru mereka. Dan menghantui yang saya katakan bukan hanya menghantui hati mereka, tetapi benar-benar menghantui mereka dengan kejadian-kejadian janggal yang terjadi di dalam rumah.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, horror di sini datang dari masa lalu dan masa depan. Masa lalu datang dari kematian putri mereka, dan masa depan datang dari rumah baru mereka, di mana keduanya berada di sebuah tempat yang benar-benar asing untuk mereka, di tengah daerah dengan orang-orang asing yang bersifat lumayan antagonistik terhadap keduanya, dan mereka kini harus tinggal di situ untuk masa depan mereka.

His House tidaklah ragu untuk menunjukkan kejadian-kejadian supernatural yang langsung memprovokasi tidak hanya karakternya tetapi juga penontonnya, yang pada cukup awal film saat Bol sedang mengecek lubang rumah, film ini dengan cepat langsung memperlihatkan sosok gaib di belakangnya, tidak lagi menunggu pemanasan di dalam ceritanya. Dengan menakutkan penonton pada awal film, Remi Weekes tidak lagi meninggalkan misteri mengenai apa yang akan menghantui Bol dan Rial, tetapi apa yang menyebabkan sosok gaib itu mendatangi rumah mereka.

Genre rumah hantu mungkin memang menjadi sebuah genre yang sudah sangat populer di dalam horror, seperti Relic atau Girl on the Third Floor, tetapi cerita yang diusung oleh His House berhasil membuatnya menjadi sebuah film dengan kisah unik yang memilukan, karena semakin lama film berjalan dan semakin mendekat kita dengan akhirnya, semakin banyak kisah dan misteri yang terungkap mengenai Rial dan Bol. Tidak akan saya ceritakan bagaimana, saya bisa mengatakan kisah keduanya terungkap dan tertutup dengan sempurna dan juga menyentuh sekaligus menyedihkan, menjadikan His House bukanlah hanya film yang bertujuan untuk menyeramkan penontonnya saja.

Pengungsian juga menjadi tema utama film ini, di mana teror tidak hanya datang dari kejadian gaib di dalam rumah baru Rial dan Bol, tetapi juga datang pengalaman masa lalu yang pahit mereka, untuk harus kabur dari negara yang telah mereka tinggali begitu lamanya karena perang sipil yang sadis dan mematikan. Untuk melihat banyaknya orang yang berusaha kabur dan gagal, melihat banyaknya yang terbunuh karena perang yang tidak mereka ikuti, untuk melihat anak yang harus terpisah dari orang tuanya. Iya, His House bukan hanya untuk menakutkan penonton, tetapi juga untuk membantu penonton melihat lebih dekat bagaimana dampak sebuah perang.

Di tengahnya, adalah Rial dan Bol yang dengan baiknya diperankan oleh Wunmi Mosaku dan Sope Dirisu. Keduanya memainkan karakter yang telah sama-sama melewati pengalaman yang traumatis dan memberikan karakternya sentuhan yang cukup untuk membuat karakter keduanya lebih hidup dalam beberapa momen dan berbeda dari yang satunya karena memiliki kepribadian yang cukup berbeda. Peran Rial juga terlihat cukup menjanjikan untuk Wunmi Mosaku, yang sebelumnya juga tampil memukau sebagai Ruby di Lovecraft Country.

His House mengingatkan kita kalau apapun yang akan kita lakukan, ke mana pun kita akan pergi, masa lalu bukanlah sesuatu yang bisa kita abaikan begitu saja, karena dengan mengabaikannya maka masa lalu itu akan selalu menghantui kita dan satu-satunya cara untuk menyelesaikan segala sesuatu yang mengusik kita terhadap masa lalu adalah untuk menghadapinya secara langsung.

His House, film horror terbaru di Netflix, bisa langsung disaksikan di layanan streaming tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s