Sudah berhari-hari saya tidak menonton film. Artikel sebelumnya di mana saya menulis Swallow, sudah saya tulis dari jauh-jauh hari sebelumnya. Setelah kira-kira seminggu tidak menonton film karena sedang menangani ujian di perkuliahan, saya tertarik untuk menonton sebuah film dari anaknya David Cronenberg (CrashEastern Promises), Brandon Cronenberg. Possessor kembali mengingatkan saya kalau film bisa menjadi sesuatu yang sangat dahsyat dengan kisah yang dimilikinya.

Film ini dimulai dengan seorang wanita menancapkan sesuatu ke dalam kepalanya dari atas. Ia mengotak-atik alat misterius itu sembari menunjukkan beragam emosi di depan sebuah kaca. Kemudian ia berpakaian seragam untuk sebagai penyambut tamu di sebuah pesta dan menghadiri pesta tersebut. Tidak mengucapkan sepatah kata apapun, ia mendekati lelaki misterius dan menusuk lehernya yang diikuti dengan tusukan lainnya. Selesai misinya, ia mengatakan “Keluarkan aku” dan memutuskan untuk bunuh diri, meski tidak berhasil karena ia terlebih dahulu tertembak oleh sekumpulan polisi yang datang.

Itu semua terjadi sekitar tujuh menit pada awal film bermain. Sebuah pembukaan film memang adalah sebuah momen yang krusial untuk bagaimana sisa filmnya berjalan. Dan pembukaan seperti Possessor, yang langsung terkesan sangat heboh ini berpotensi besar untuk membingungkan penontonnya, tetapi tidak. Justru pembukaannya itu berhasil menarik rasa penasaran saya. Siapakah wanita itu? Mengapa ia melakukan itu? Dan mengapa ia mengatakan “Keluarkan aku” saat selesai membunuh pria tersebut?

robinekariski-film-andrea-riseborough-sebagai-tasya-vos-di-possessor

Akhirnya kita mendapati pencerahan setelah pembukaan yang mengejutkan itu. Rupanya adalah Tasya Vos (Andrea Riseborough) yang mengendalikan wanita sebelumnya, layaknya seperti di dalam film The Matrix di mana tubuh aslinya terlentang sementara dirinya memasuki tubuh orang lain, tetapi ini tetap terjadi di dunia nyata dan bukan di dunia virtual. Di sini, Vos adalah seperti seorang agen pembunuh di dalam sebuah organisasi gelap yang tugasnya adalah untuk melancarkan pembunuhan melalui tubuh orang lain.

Bukankah itu adalah konsep yang sungguh keren? Mengerikan, iya, tetapi juga sangatlah mengagumkan dan juga unik. Apa yang Brandon Cronenberg berhasil kreasikan di Possessor adalah bagaimana ia berhasil menyeimbangkan elemen thriller dengan science fiction, yang akhirnya menghasilkan sebuah kisah yang menggertakkan dengan sentuhan elemen teknologi yang terkesan asing tetapi juga sangatlah baru dan menarik untuk dilihat.

Andrea Riseborough, yang memerankan sang tokoh utama, sudah tidak perlu diragukan untuk memberikan sebuah penampilan yang sangat baik sebagai seorang pembunuh berdarah dingin. Sebagai Vos, ia mampu memerankan betapa rumitnya kehidupan yang dimiliki Vos. Ia mampu membuat Vos terlihat seperti orang yang tidak memiliki simpati terhadap apa yang dilakukannya, dengan tatapannya yang kosong dan tingkah lakunya yang dingin, tetapi ia juga mampu memberikan sentuhan “manusiawi” ke dalam Vos, di mana pada beberapa saat terdapat sebuah momen di mana Vos terlihat ragu untuk memisahkan dirinya dengan kehidupan lamanya bersama suami serta anaknya.

Puncak cerita di Possessor adalah saat di mana Vos diberikan tugas untuk memasuki tubuh seorang pria bernama Colin Tate (Christopher Abbott) dan membunuh pacarnya Colin, Ava (Tuppence Middleton); ayahnya Ava, John (Sean Bean) dan kemudian Colin akan bunuh diri. Di dalam Colin, Vos mengalami beberapa hal yang mengganjal dengan dirinya menjadi lebih sering berhalusinasi dengan beragam gambar yang muncul di kepalanya. Tugasnya pun juga terlihat semakin sulit seiring dirinya menjadi kehilangan kendali atas tubuh Colin.

robinekariski-film-christopher-abbott-sebagai-colin-tate-di-possessor

Possessor juga tidak hanya thriller tetapi juga terasa seperti sebuah acara horror di mana Brandon Cronenberg tidak ragu untuk mendorong batas bagaimana para penonton dapat mentoleransi untuk melihat bagaimana tubuh manusia dapat dijadikan sebagai bahan eksperimen. Ada satu adegan yang memang eksentrik tetapi juga menghipnotis, saat di mana Vos akan memasuki tubuh Colin di mana dalam adegan itu badan Vos terlihat mencair layaknya sebuah tanah liat, dan setelah beragam momen yang seperti sebuah ajang seni, tanah liatnya mengeras menjadi Colin. Itu memang adalah adegan yang aneh, tetapi juga saya tidak bisa melepas perhatian saya dari adegan yang mengesankan itu, sebuah momen layaknya sebuah seniman yang sedang memainkan tanah liat miliknya.

Possessor juga adalah film yang sadis, dan dengan sadis maksudnya adalah bagaimana film ini tidak ragu untuk mendekatkan kamera ke setiap tusukan, setiap darah yang meledak dan menggenang dan setiap wajah dari para korban yang berteriak. Memang ini bukanlah film yang mudah untuk ditonton, tetapi di setiap adegan itu kita melihat bagaimana Brandon Cronenberg dengan ahlinya membuat setiap adegan terlihat profesional, terlihat rapi, terlihat seperti sebuah karya seni dan bukannya seseorang yang hanya ingin darah agar terlihat keren. Saya memang menggeliat saat melihatnya, tetapi saya juga mengakui adegan yang disuguhkannya juga terlihat memukau.

Tidak hanya Andrea Riseborough yang tampil gemilang, begitu juga Christopher Abbott yang harus memerankan sebuah karakter yang di dalam dirinya bukanlah dirinya melainkan telah dibajak oleh orang lain. Sebagai Colin yang telah dirasuki Vos, ia bisa terlihat kebingungan di satu momen, kemudian percaya diri di momen selanjutnya, dan kembali “hilang” di selanjutnya. Karakternya juga memberikan dinamika yang menarik di Possessor.

Hal lainnya yang unik di Possessor adalah bagaimana film ini mencoba untuk memainkan perasaan simpati yang kita miliki terhadap karakter di dalamnya. Apakah kita memang mendukung Vos, yang membajak orang untuk membunuh atau Colin, orang yang dibajaknya? Bahkan setelah film selesai, saya masih belum mendapat jawaban yang jelas mengenai siapa yang sebetulnya saya dukung, tetapi saya sangat puas untuk melihat sebuah film yang dengan pintarnya mencoba memainkan perasaan itu, yang juga menjadikan Possessor sebuah film yang tidak hanya unik, namun juga menyegarkan di ranah thrillerscience fiction dan juga horror.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s