“Ada Apa di MUBI” adalah sebuah kolom di mana saya akan menulis mengenai film yang sedang tayang di layanan streaming MUBI.

Whodunnit bukanlah sebuah genre yang sering muncul. Tidak hanya jarang, namun juga terlihat sungguh sulit rasanya untuk melihat sebuah misteri whodunnit yang benar-benar terasa tidak hanya original tetapi juga yang menegangkan. Tetapi whodunnit adalah salah satu genre favorit saya, karena jika memang bagus maka dapat menjadi sebuah pengalaman yang sangat seru. Lihat saja Knives Out yang keluar pada tahun lalu yang menurut saya adalah sebuah film yang sangat pintar, atau The Hateful Eight yang mungkin saja salah satu film terpintar yang saya tonton.

Tetapi saya tidak pernah menonton whodunnit zaman dulu. Hingga akhirnya saya bertemu And Then There Were None di MUBI, yang disutradarai oleh René Clair dan diadaptasi dari novel karya Agatha Christie — penulis novel yang mayoritas karyanya terdiri dari detektif dan misteri — dengan judul yang sama. Saya ingin melihat seperti apa sih whodunnit yang dibuat pada tahun 1940-an, terutama dengan judulnya yang mengisyaratkan kalau tidak ada lagi yang akan tersisa, dan tentunya merujuk kepada setiap karakter di dalamnya.

Sebenarnya cerita film terlihat seperti whodunnit kebanyakan, di mana sekelompok orang terperangkap di suatu gedung dan satu per satu mulai meninggal secara misterius (Iya, tentu saya teringat dengan The Hateful Eight meski filmnya Quentin Tarantino jauh lebih brutal). Di sini, delapan orang diundang ke sebuah pulau terpencil oleh seseorang bernama Mr. Owen. Di pulau tersebut terdapat sebuah rumah yang besar dengan banyak tempat tidur serta dua pembantu, Thomas (Richard Haydn) dan Ethel Rogers (Queenie Leonard).

Sesampai di pulau dan di rumah itu, semuanya memiliki pertanyaan yang sama: Dimanakah Owen dan istrinya? Thomas, salah satu pelayannya, mengatakan Owen sedang pergi menuju ke pulau itu dan akan tiba pada jam makan malam, tetapi tidak juga kunjung datang. Selesai makan malam, Thomas memainkan sebuah piring hitam yang merupakan rekaman suara Owen yang mengatakan setiap penghuni di dalam rumah tersebut — delapan tamu dan dua pembantu — rupanya pernah melakukan pembunuhan, baik secara langsung atau tidak, dan semuanya akan diadili di rumah itu.

Dan benar saja, satu per satu mulai kehilangan nyawanya dengan cara yang mengejutkan. Keracunan, tertusuk, meninggal dalam tidur. Tetapi tidak ada yang pernah melihat pelakunya. Hingga mereka menyadari kalau pembunuhan itu berdasarkan sebuah lagu berjudul “Ten Little Indians” yang juga bertepatan dengan sebuah patung berisi sepuluh orang Indian di mana setiap orang meninggal maka satu patung akan roboh. Di sinilah permainan teka-teki pembunuhan dimulai dan mulai mencari siapa sebenarnya yang melakukan pembunuhan ini sebelum semua patung roboh.

Sebuah film whodunnit memang terlihat memiliki keterbatasan yang cukup besar, karena pada dasarnya adalah mencari pembunuh di tengah orang-orang yang sedang dibunuh. Makanya saya mengatakan sulit rasanya untuk melihat whodunnit yang memang terasa segar karena hampir semuanya memiliki fondasi yang sama, dan apa yang membedakan setiap film ini adalah bagaimana misteri ini terungkap, bagaimana setiap karakter berinteraksi dan bereaksi, dan bagaimana kisah ini akan berakhir. And Then There Were None, yang dirilis lebih dari 70 tahun yang lalu, adalah sebuah film yang masih terlihat segar dan menegangkan, meski sudah banyak film whodunnit setelahnya.

Selain ceritanya yang memang seru dan menegangkan seiring berjalannya waktu dan berkurangnya penghuni, And Then There Were None juga dipenuhi oleh beragam karakter dengan masa lalu, sifat dan reaksi yang unik dan menarik dari setiapnya, dan itu jugalah salah satu hal yang penting yang membuat film ini dapat terus terasa seru. Karena mayoritas waktu film dihabiskan di dalam rumah dan wajah yang kita lihat hanya itu-itu saja, cukup besar risiko bagi para penonton untuk merasa bosan jika karakternya terasa tidak menarik. Untungnya di sini, semua karakter terasa sangat hidup, dengan setiap dari mereka tidak percaya satu dengan lainnya dan menghasilkan tensi yang terus meningkat.

Hal lainnya yang membuat saya menyukai film ini adalah bagaimana mereka mampu menyelipkan momen yang humoris di tengahnya. Mungkin bukan bermaksud untuk membuat penonton tertawa, tetapi cukup untuk meringankan suasana dan membuat setiap karakternya tidak terasa satu dimensi. Seperti pada satu adegan di mana Dr. Armstrong (Walter Huston) sedang menunjukkan salah satu alat pembunuhan dengan mengatakan “Instrumen ini hanya berarti satu hal: pembunuhan!” yang diikuti dengan petir yang besar di jendela di sebelahnya. Itu sangatlah klise dan itu juga yang membuat adegannya bekerja. Atau bagaimana karena dituduh sebagai Owen, Thomas memutuskan untuk meminum salah satu alkoholnya karena diduga telah diracuni dan berakhir bermabuk-mabukan hingga malam hari.

Tetapi tentu saja aspek terbesar dan terpenting dari whodunnit adalah bagaimana film ini akan terus membuat penontonnya menerka-nerka. Dan memang betul, seiring berjalannya film saya juga ikut bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Siapa pembunuhnya? Bagaimana pembunuhan itu bisa terjadi? Dan disaat saya yakin sudah menuduh salah satunya sebagai pembunuh, rupanya ia terbunuh di selanjutnya dan kembali lagi saya menerka-nerka, dan itulah yang membuat saya sangat menggemari genre film ini. Kemampuan mereka untuk terus membuat saya menebak-nebak adalah seperti sebuah atraksi tersendiri, bagaimana mereka membuat saya percaya pada satu teori hanya untuk memecahkannya di momen selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s