Sudah berapa kali saya menemui nama film Citizen Kane di kebanyakan daftar film terbaik sepanjang masa di beberapa situs di internet? Uniknya, justru karena begitu sering menemui nama film tersebut membuat saya tidak terlalu ingin untuk mengunjunginya. Hingga pada akhirnya saya membaca berita kalau David Fincher, sutradara yang sudah bertahun-tahun tidak membuat film dengan Gone Girl menjadi karya terakhirnya pada enam tahun yang lalu, akan membuat film mengenai Citizen Kane. Akhirnya setelah bertahun-tahun bertemu, barulah saya mulai menontonnya, hanya untuk Mank.

Citizen Kane mungkin lebih dikenal dengan sosok sang produser-penulis-sutradara-bintang utama Orson Welles, namun di Mank bukanlah dirinya yang berada di sorotan cahaya. Adalah penulis naskah lagi satunya yang menjadi pilar dalam film kesebelas David Fincher ini, Herman J. Mankiewicz yang diperankan oleh Gary Oldman. Nama dirinya memang tidaklah populer, apalagi jika disandingkan dengan nama Orson Welles yang bahkan hingga sekarang masih menggema cukup kuat, tetapi di Mank, David Fincher memperlihatkan kepada kita kalau sebenarnya yang berhasil mengusung seluruh ide film Citizen Kane adalah Herman J. Mankiewicz atau yang biasa dipanggil Mank.

Struktur film Mank jugalah menyerupai Citizen Kane. Ditulis oleh Jack Fincher, ayah dari David Fincher, Mank memiliki kesamaan dengan Citizen Kane, di mana keduanya sama-sama menceritakan kebangkitan dan usaha seseorang untuk bertahan, keduanya sama-sama melompat secara lincah dari masa lalu hingga masa sekarang dan sebaliknya, dan keduanya memiliki tokoh utama yang terobsesi untuk mencapai sesuatu yang sepertinya sangat sulit bagi mereka dapati: kesuksesan. Jika di Citizen Kane ada Charles Foster Kane sebagai seorang pengusaha koran, di Mank ada Herman J. Mankiewicz atau Mank sebagai seorang penulis naskah yang ditengah menyelesaikan naskahnya selalu mendapati masalah.

Film dimulai dengan kita melihat Mank yang sedang mengalami cedera pada kakinya setelah sempat mengalami kecelakaan sebelumnya. Itu masalah pertama. Kemudian kita mempelajari kalau ia telah diajak berkolaborasi oleh seseorang yang sangat muda, Orson Welles (diperankan dengan cukup mirip oleh Tom Burke) untuk membuat sebuah naskah, dan yang sebelumnya diberikan waktu selama 90 hari kini menjadi 60 hari. Itu masalah kedua. Ia juga rupanya sedang berseteru dengan beberapa petinggi dalam industri perfilman. Itu masalah ketiga. Dan ia sedang melawan kecanduannya dengan alkohol di tengah cedera dan kesibukan menulis naskah. Itu masalah keempat.

robinekariski-film-gary-oldman-sebagai-mank-di-mank

Banyak yang saya temui di sosial media yang mengatakan kalau Mank tidaklah terlihat seperti film David Fincher. Saya pun menjadi berpikir, memangnya seperti apasih film David Fincher itu? Memang ini terlihat cukup berbeda dari filmnya seperti Fight Club, Zodiac ataupun The Social Network. Tetapi semuanya masih memiliki sentuhan khas Fincher yang menceritakan mengenai obsesi seseorang di tengah sebuah dunia yang menawan secara visual namun memiliki kebusukan di dalamnya.

Di Mank, David Fincher tidaklah hanya membuat dunianya hitam putih secara warna saja, tetapi juga dengan dunianya Mank sendiri, yang selalu dipenuhi dengan keambiguan moralitas yang menghajarnya secara beruntun dan tidak pernah berhenti. Hitam putih dalam artian, di dunia yang ia kenali, ia selalu harus memilih. Apapun yang ingin ia lakukan, ia harus memilih dan semua pilihannya selalu memiliki keburukan yang cukup besar. “Sepertinya aku makin mirip tikus dalam jebakan yang kubuat sendiri, jebakan yang sering kuperbaiki setiap kali ada bahaya lubang yang memungkinkan aku untuk kabur.”

Mank juga adalah film yang mungkin saja memiliki cerita yang begitu lurus, tetapi saya juga menyadari kalau ada saat di mana tiba-tiba saya merasa hilang dalam cerita. Hilang dalam artian bukan berarti merasa bosan (dan saya tidak pernah merasakan rasa bosan sedikitpun di sini), tetapi bagaimana cerita film yang maju-mundur ini membuat saya bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Mungkin karena sudah lama tidak menonton film seberat seperti ini, tetapi ada saat di mana saya harus memundurkan film (untungya ini di Netflix) dan kembali menyimak secera teliti, karena di sini ada banyak sekali karakter dan juga kisah yang muncul secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba.

Apa yang mengikat semuanya secara sempurna adalah Gary Oldman sebagai Mank. Selama dua jam kita melihat dirinya memainkan karakter yang mungkin terlihat terlalu riang, tidak pernah terlalu mengambil pusing dalam hal apapun, tetapi di balik semua tingkah lakunya itu terdapat seseorang yang kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Ia menutup segala rasa penatnya dengan tingkah lakunya yang terkesan cuek serta kecanduannya dalam alkohol. Dan bung, karakternya di sini sungguhlah menyenangkan untuk dilihat.

robinekariski-film-gary-oldman-dan-amanda-seyfried-di-mank

Yang sebetulnya menjadi kekuatan utama di Mank bukanlah ceritanya, atau bagaimana film ini berwarna hitam putih, tetapi adalah setiap karakternya. Salah satu adegan yang benar-benar membuat film ini sungguh hidup dan salah momen yang saya sukai dari film ini adalah saat acara ulang tahun produser dan salah satu pendiri perusahaan MGM, Louis Mayer (Arliss Howard) di mana energi film terasa meledak dan menggebu-gebu saat seluruh tamu acara mulai bertukar cerita mengenai Nazi dan perang yang sedang melanda, komunisme dan sosialisme, hingga politik. Perbincangannya mungkinlah sampah, tetapi adalah bagaimana adegan ini selalu terasa hidup yang membuat saya terkesima dengan Mank.

Dan di tengah percakapan penuh energi itu serta banyaknya adegan menarik lainnya di dalam film adalah Mank yang diperankan oleh Gary Oldman. Sebagai Mank, ia mampu memainkan seorang karakter 20 tahun lebih muda dari usianya dengan kemampuannya untuk selalu mencuri perhatian tidak hanya penonton tetapi juga karakter di sekitarnya dengan tingkah lakunya yang liar, omongannya yang seperti tidak pernah di-filter, dan optimismenya yang selalu tinggi kalau semuanya adalah baik-baik saja. Dengan Mank, Gary Oldman menunjukkan kalau dirinya masihlah salah satu aktor dengan bakat yang luar biasa dan mungkin saja menjadi salah satu aktor terbaik tahun ini, dengan energi menggebu-gebu yang dimilikinya.

Saya juga mengapresiasi bagaimana David Fincher semampu mungkin membuat Mank secara teknis dan visual menjadi seperti sebuah film yang diproduksi pada tahun 1940-an. Dengan Erik Messerschmidt di balik kamera, Donald Graham Burt sebagai dekorator set dan Ren Klyce di posisi sound mixerMank memang benar-benar menghidupkan kembali nyawa film dari zaman berpuluh-puluh tahun yang lalu. Lihatlah bagaimana kameranya bergerak, bagaimana transisi dari satu adegan ke adegan lainnya, bagaimana sound effect yang digunakan jika ada sesuatu yang terjadi di layar. Ini mungkin saja bisa dijadikan sebagai sebuah double feature untuk Citizen Kane itu sendiri.

Semua itu, dengan segala kerumitan yang ditunjukkan dari cerita dan juga segi teknis, akhirnya membuahkan pertanyaan. Apakah yang ada di film ini memang benar-benar terjadi dengan Herman J. Mankiewicz? Ia memang sosok nyata, tetapi apakah kehidupannya memang seliar seperti yang digambarkan di film ini? Meski ini adalah sebuah film biografi mengenai seseorang yang sudah tercantum dalam sejarah, namun apakah akurat secara sejarah atau tidak tidaklah terlalu saya pikirkan. Dengan Mank, Jack dan David Fincher telah menyuguhkan sebuah kisah yang sungguh ambisius dan luar biasa mengenai seseorang yang terobsesi untuk menyelesaikan sesuatu yang telah ia mulai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s