“Janganlah mencoba untuk memahaminya. Cobalah untuk merasakannya.”

Berapa lama sudah saya menunggu ini. Saya ingat bahkan dari tahun lalu kalau saya dan teman saya bersiap-siap akan menanti film kesebelas Christopher Nolan dengan penuh hati. Iya, COVID-19 mencegah saya untuk menonton bersama teman saya dan juga mematikan harapan saya untuk menontonnya di bioskop dengan layar selebar IMAX, tetapi meski hanya di televisi, Tenet masihlah suatu pengalaman menonton yang menurut saya paling unik pada tahun ini. Bahkan hingga sekarang saya masih mendebatkan bagaimana reaksi saya dengannya.

Waktu memanglah menjadi tema yang mungkin sudah sangat sering kita jumpai di filmografi milik Christopher Nolan. Mulai dari film Memento pada 20 tahun yang lalu di mana urutan film berjalan dari akhir cerita, Inception yang memainkan konsep mimpi dan bagaimana waktu berjalan berbeda di setiap lapisan, hingga Interstellar yang mencoba untuk mengunjungi dan menggabungkan konsep luar angkasa dan bagaimana waktu bereaksi dengannya. Tenet tidaklah berbeda dengan bagaimana Nolan masih terus berusaha untuk memecahkan sebuah konsep yang masih misterius bernama waktu. Hanya saja, Tenet masih jauh lebih rumit dari yang saya bayangkan.

Tenet tidaklah membuang waktunya untuk memulai kisah miliknya, dengan film dimulai pada sebuah gedung opera di Ukraina yang sedang disergap oleh sekelompok orang bersenjata. Kita kemudian bertemu tokoh utama kita, yang hanya bernama Protagonis (John David Washington) yang merupakan satu dari sekian banyaknya pasukan yang akan mengamankan gedung opera dari penjahat yang sudah mendudukinya. Di sinilah kita untuk pertama kalinya melihat bagaimana Nolan memainkan waktu di dalam film, saat seseorang membunuh musuhnya dengan peluru yang berjalan terbalik. Dan terbalik berarti pelurunya kembali berjalan dari tembok ke dalam pistol.

Bayangkan bagaimana luar biasa semangatnya saya melihat itu. Di saat saya sedang memproses apa yang sedang terjadi di tengah baku tembak itu, rupanya ada sesuatu lagi yang berhasil membuat saya baik terkesima dan juga bingung. Bagaimana bisa peluru itu berjalan mundur? Tetapi di saat film semakin berjalan dan saya semakin ingin mempelajari bagaimana bisa waktu berjalan mundur hanya untuk beberapa barang atau manusia saja, semakin bingung saya dengan penjelasan yang diberikan oleh Nolan dan juga Tenet. Kerumitannya bahkan melampaui dari apa yang saya rasakan saat pertama kali menonton Inception. Sangat jauh.

robinekariski-film-john-david-washington-dan-elizabeth-debicki-di-tenet

Dari 150 menit film ini berjalan, saya hanya dapat menangkap mungkin setengah dari inti ceritanya saja. Atau bahkan kurang dari setengah. Si Protagonis (benar, kita tidak pernah mempelajari siapa nama sebenarnya) adalah salah satu agen dari sebuah kesatuan yang berencana untuk mencari seorang pebisnis kaya Rusia bernama Andrei Sator (Kenneth Branagh) karena Sator diduga yang menciptakan benda-benda yang bisa berjalan mundur. Sator juga diduga telah berkomunikasi dengan masa depan dan berencana untuk melakukan Perang Dunia dengan teknologi yang dimilikinya. Itu adalah esensi cerita yang bisa saya tangkap dari Tenet.

Sisanya masih berusaha saya pecahkan, karena di Tenet banyak sekali yang terjadi. Di saat saya masih tidak memahami sebuah informasi yang baru saja saya tangkap, lagi-lagi kita dibombardir dengan beragam informasi baru yang tidak membantu sama sekali dengan informasi sebelumnya. Nolan memanglah salah satu pembuat film paling berani yang pernah saya temui, dan sifatnya itulah yang berhasil membuat beragam film-film paling imajinatif dan seru yang pernah saya tonton, tetapi di sini ia terlihat terlalu menantang dirinya dan juga penontonnya. Hasilnya adalah pengalaman yang memang seru dan unik, tetapi juga harus mengorbankan pemahaman cerita dan sisi emosionalnya.

Tenet mungkin saja adalah film dengan ketertarikan emosional paling rendah yang pernah dimiliki Nolan. Seluruh karakternya terasa berlalu lalang tanpa benar-benar menapaki dirinya di dalam cerita. Banyak karakter yang terasa terlalu satu dimensi dan tidak sehidup karakter dari film Nolan seperti sebelumnya, seperti Neil (Robert Pattinson), seorang agen yang membantu Protagonis dalam menjalankan tugasnya, atau Katherine Barton (Elizabeth Debicki), istri dari Andrei yang biasa dipanggil Kat. Keduanya memang seringlah muncul, tetapi keduanya juga tidak terlalu menambah daya emosi yang signifikan ke dalam cerita. Apalagi jika karakter yang hanya muncul sekali atau dua kali saja, seperti Sir Michael Crosby (Michael Caine) yang kehadirannya hanya sekali saja dan juga sedikit membingungkan.

Selain karena banyaknya informasi yang masih belum terpecahkan yang membuat saya kesulitan menilainya, Tenet juga mungkin saja adalah film paling terburu-buru milik Christopher Nolan. Bayangkan, meski sudah berjalan selama 150 menit, saya masih mendapati kesan kalau ada beberapa adegan yang di-cut terlalu cepat sehingga ada beberapa adegan yang terasa berpindah tidak alami, yang juga membantu informasi yang baru saya terima semakin sulit untuk dicerna. Apalagi banyak sekali sepertinya ide dan cerita yang dimasukkan ke dalam Tenet sehingga tidaklah mudah untuk mencerna semuanya dalam sekali tonton.

Tetapi meski segala kekacauan yang terjadi selama saya menontonnya, saya masih menemukan pengalaman sinematik yang sungguh luar biasa dari ini. Di tengah keambiguan dan ketidakpahaman saya dengan ceritanya, Tenet memastikan kalau akan selalu menyerbu saya dengan beragam atraksi, adegan dan juga visual yang spektakuler selama film berjalan dari awal dan akhir. Inilah yang membuat Tenet menjadi sebuah film yang sungguh baru, unik dan juga menyegarkan.

robinekariski-film-robert-pattinson-di-tenet

Konsep dibalik permainan waktu yang diusung Nolan memang mungkin masih sangat sulit untuk dipahami, tetapi konsep itu pula juga membuka banyak sekali kesempatan bagi dirinya untuk menyuguhkan beragam adegan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Seperti saat sang Protagonis sedang berjibaku dengan musuhnya, di mana Protagonis bergerak seperti biasa tetapi musuhnya yang bergerak layaknya waktu sedang mundur, menghasilkan sebuah koreografi yang penuh atraksi jungkir balik yang juga bergerak mundur pada satu orang sementara orang lainnya harus beradaptasi dengan gerakannya. Sungguh unik dan menarik!

Dan itu tidak hanyalah terjadi sekali atau dua kali. Di Tenet, Nolan terlihat kalau dirinya sudah menguasai pembuatan film dengan elemen yang sungguh radikal, seperti memainkan alur waktu di saat yang bersamaan. Hingga akhirnya menghasilkan sebuah film yang dari awal hingga akhir selalu menyuguhkan sebuah pertunjukkan mengenai segala ide yang dimiliki Nolan, ide mengenai bagaimana menghasilkan sebuah film action jika waktu tidaklah bergerak seperti biasanya. Kejar-kejaran mobil dengan permainan waktu, baku hantam dengan permainan waktu, tembak-tembakkan dengan permainan waktu. Nolan tidaklah ragu dalam menghabiskan waktu film untuk menyajikan dari adegan demi adegan yang sungguh luar biasa, dan untuk itu saya sangat menikmatinya.

Selama 11 film miliknya, Tenet terlihat seperti sebuah film yang paling mendekati untuk menyerupai sebuah video game. Penuh dengan ledakan yang dahsyat, penuh adegan yang menegangkan dengan musik yang menggema di setiap saat, dan juga momen-momen yang sangat unik. Apalagi dengan mengusung teknologi IMAX yang menghasilkan sebuah adegan dengan visual yang sungguh lebar dan visual yang memukau, ini tentu adalah sebuah film yang sangat menggoda para pengunjungnya untuk mengunjungi bioskop dan menyaksikannya dengan layar sebesar mungkin! Sungguh disayangkan hanya bisa menyaksikan untuk pertama kalinya di televisi.

Menikmati sebuah film tanpa memahami apa yang sedang terjadi mungkinlah terdengar sungguh bodoh. Bagaimana bisa saya menyukai sebuah film jika tidak mengerti apa yang diceritakannya? Tetapi itulah yang saya rasakan dengan filmnya Nolan ini. Untuk tidak memahami sebagian besar apa yang dikatakan dan apa yang telah terjadi, tetapi tetap mendapatkan sensasi adrenalin yang selalu memuncak seiring adegan yang penuh energi dan atraksi yang luar biasa selalu muncul, itulah sulap yang dimiliki Nolan. Film yang mungkin hanya bisa dibuat olehnya.

Mungkin memang benar kata salah satu ilmuwan di dalam Tenet. Janganlah terlalu berusaha untuk memahami apa yang terjadi, tetapi cukup rasakanlah apa yang sedang dan akan terjadi. Dan mungkin saya akan mengistirahatkan diri untuk bersiap-siap kembali menonton Tenet dan memecahkan apa yang sebenarnya terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s