Black Bear mengingatkan saya dengan Ingrid Goes West. Keduanya adalah film dengan Aubrey Plaza sebagai tokoh utama yang sama-sama berada di dunia di mana garis antara realita dan tidak sangatlah kabur. Keduanya juga menunjukkan bakat Aubrey Plaza sebagai seorang karakter dengan wajah yang datar, tingkah lakunya yang kikuk dan sifatnya yang selalu mengatakan apa yang muncul di pikirannya tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Di sini, Aubrey memainkan seseorang yang bernama Allison. Ia adalah seorang pembuat film yang kini sedang numpang tinggal di sebuah rumah di pelosokan hutan yang dekat dengan danau. Rumah itu dimiliki oleh sepasang suami istri, Gabe (Christopher Abbott, yang sepertinya baru saja saya lihat di Possessor) dan Blair (Sarah Gadon). Aman untuk mengatakan kalau semenjak Allison mendatangi rumah keduanya, situasi langsung berubah menjadi kikuk dan semakin waktu berjalan semakin buruk situasinya berubah.

Bahkan semenjak Allison pertama kali bertemu Blair, kita sudah melihat kalau situasi sudah menjadi sangat canggung. Keduanya saling melontarkan pujian, seperti saling mengatakan mereka cantik dan saling memuji tas dan overall yang dikenakannya, tetapi tidak ada pujian yang terdengar tulus. Keduanya hanyalah tertawa kering setelah dipuji, hingga Allison mengatakan dirinya tidaklah suka pujian yang dibalas dengan Blair kalau dirinya suka pujian. Canggung. Kikuk. Masam.

Situasi seperti itu memanglah sungguh buruk untuk kita dapati, tetapi bukankah situasi itu juga pernah terjadi kepada kita di dunia nyata. Untuk bertemu dengan seseorang yang baru dan setiap kita mencoba untuk membuka percakapan atau mencoba untuk melanjutkan percakapan justru merubah suasana menjadi sangat canggung, tensi di udara sangatlah tebal hingga seperti bisa dipotong dengan pisau. Situasi seperti itu memanglah ada, dan memanglah pernah terjadi, dan kekikukan itulah yang menjadi tumpuan Black Bear.

Malam pun tiba, dan ketiganya akan menyantap makan malam yang disiapkan oleh Gabe. Di sinilah di mana kita mulai melihat apa tujuan sutradara dan penulis Lawrence Michael Levine di Black Bear, karena pada adegan ini barulah energi film benar-benar menendang. Apa yang mulanya hanyalah berbicara mengenai mengapa Gabe dan Blair pindah ke sini dengan cepat berubah menjadi perdebatan mengenai fenisime dan peran masing-masing anggota keluarga, dan akhirnya Allison juga menjadi topik utama perdebatan dan meledaklah perdebatan ini menjadi.

Energi kekacauan yang dimiliki Black Bear memang sungguh luar biasa besarnya, yang dengan cepat dapat meningkat hanya dalam beberapa saat saja. Tetapi di tengah kekacauan yang muncul di sebuah adegan, tidak pernah sebuah adegan terlihat berantakan. Memang benar dialog terlihat sering saling bertumpuk, tetapi setiap adegan masih terlihat rapi berjalan sehingga energi kekacauan yang dimilikinya dengan merata selalu merayap dari satu adegan ke adegan berikutnya, menghasilkan sebuah rangkaian adegan yang sangat hidup dan juga sangat tidak terduga-duga.

Secara struktur juga Black Bear sangatlah menarik. Yang tadi, saat Allison mengunjungi tempat tinggal Gabe dan Blair adalah bagian satu yang bernama “The Bear in The Road”. Setelah kekacauan di bagian satu, film kembali memperkenalkan penonton ke bagian selanjutnya yang bernama “The Bear by The Boat House”. Di bagian kedua inilah film terasa meta, sesuatu yang mungkin tidak saya duga setelah kekacauan yang terjadi di bagian sebelumnya.

Jika di bagian pertama kita melihat Allison yang mengatakan dirinya sedang mencari inspirasi untuk menulis sebuah cerita baru, di bagian kedua kita melihat dirinya sedang membintangi sebuah adegan yang disutradarai oleh suaminya, Gabe (Lagi, diperankan oleh Abbott). Sungguh aneh, bukan? Melihat Gabe, kini menjadi suami sekaligus sutradara untuk Allison, yang di mana pada bagian pertama kita melihat dirinya adalah pasangan Blair dan juga seorang musisi. Situasi meta yang telah diciptakan Lawrence Michael Levine telah membuat dan mendukung konsep yang diusung film ini: menghilangnya garis antara realita dan pengejaran sebuah karya seni.

Black Bear memanglah memiliki struktur yang layaknya sebuah mimpi. Sebuah adegan yang kacau dan berlanjut ke selanjutnya yang sama juga kacau. Seperti mimpi, kita tidak mengetaui bagaimana kita bisa berada di posisi itu. Kita hanya langsung saja terjun ke dalamnya dan bertindak seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi. Terutama di bagian kedua, di mana cerita berjalan seperti sebuah khayalan. Apakah memang ini hanyalah sebuah khayalan belaka? Atau memang benar terjadi?

Bagian kedua jugalah menonjokkan humor gelap yang dimiliki film ini. Memang semuanya yang terjadi sungguh tidak mengenakkan, dan bahkan mungkin bisa dibilang sungguh mengganggu. Tetapi di tengah itu juga terdapat momen-momen cepat yang sungguh kocak, meskipun tidaklah terlalu menonjolkan komedi miliknya. Kecerdikan itulah juga yang membuat film ini sungguh hidup, dan juga sungguh menghibur. Untuk melihat sebuah dunia dipenuhi para seniman yang bahkan untuk mengejar kesempurnaan dalam karyanya rela melakukan apa saja. Untuk melihat kegilaan yang dimiliki para seniman. Itulah Black Bear.

Dan sepertinya memang benar apa yang dikatakan Gabe kepada Allison. “Film ini akan mengubah hidupmu.” Dan sepertinya perkataan itu jugalah tepat untuk Aubrey Plaza, yang meningkatkan perasaan meta di dalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s