Akhirnya musim keempat Fargo sudah tiba. Sudah berapa lama kita menunggunya? Musim ketiganya dirilis tiga tahun yang lalu, sehingga musim keempatnya terkesan adalah sebuah penantian yang sungguh lama. Dan meski sudah menunggu cukup lama, saya masih tidak melupakan ciri khas yang dimiliki serial yang terinspirasi dari filmnya Coen Bersaudara dengan judul yang sama ini. Kota dipenuhi salju, sekumpulan karakter yang unik dan janggal di setiap musim, rentetan kejadian yang kacau dari satu ke lainnya, dan ceritanya yang memang sungguh menarik.

Di musim keempat, kisah tidaklah lagi bertempatan di musim salju, yang langsung membuat nuansa seri berbeda karena barulah saya sadar betapa ikonik keberadaan salju di dalamnya. Tidak hanya ikonik, tetapi keberadaan salju juga menambah aura “dingin” yang diberikan oleh masing-masing karakter dengan tingkah lakunya yang keji dan “dingin”, sehingga hilangnya keberadaan salju juga dengan anehnya merubah nuansa yang dimiliki Fargo. Tetapi lupakan saljunya, mari kita membahas musim keempatnya saja.

Musim keempat Fargo tidaklah berada di kota Fargo, tetapi di Kota Kansas dan kita diceritakan dua organisasi kriminal pada tahun 1950, Keluarga Fadda yang merupakan organisasi kriminal asal Italia dan Cannon Limited yang merupakan organisasi kriminal berkulit hitam. Sudah merupakan tradisi di kota tersebut bagi dua kubu untuk bertukar anak pemimpin masing-masing grup untuk menjamin keselamatan setiap grup, dan tradisi itulah yang dilakukan Donatello Fadda (Tommaso Ragno) dan Loy Cannon (Chris Rock), yaitu saling menukar anaknya masing-masing.

Tetapi, seperti dua binatang buas yang lapar akan mangsa dan wilayah kekuasaan, perturakan anak sepertinya tidaklah cukup bagi keduanya untuk saling menjaga kedamaian dan tidak membutuhkan waktu yang lama bagi kedua pihak untuk terlibat dalam peperangan yang semakin lama semakin melebar. “Kehidupan hanyalah sebuah kompetisi untuk menjadi seorang kriminal daripada menjadi seorang korban,” sebuah kutipan oleh filsuf Bertrand Russell yang membuka episode 9, “East/West” sangatlah cocok untuk mendiskripsikan kedua belah pihak.

robinekariski-tv-series-jason-schwartzman-sebagai-josto-fadda-di-fargo

Mengejar impian Amerika. Itulah ambisi keduanya dan juga tema utama musim ini. Bagaimana mereka akan melakukan segala upaya untuk mengejar kekuasaan. Tetapi ini bukanlah tema utama di musim keempat Fargo dan begitu juga dengan Donatello dan juga Loy yang bukanlah karakter utama di musim keempatnya. Lebih tepatnya, tidak ada karakter utama di sini. Semuanya hanyalah sekumpulan karakter yang karena “kebetulan” saling bersinggungan satu dengan lainnya, menghasilkan sebuah cerita penuh “kebetulan” dan kejadian dengan dampak yang sungguh besar, suatu ciri khas Fargo.

Masih di Kota Kansas, kita bertemu dengan seorang wanita remaja bernama Ethelrida Pearl Smutny (E’myri Crutchfield). Ia adalah seseorang yang sangat pintar, mampu berbicara dua bahasa dan intelektual dari segi sejarah ataupun merancang rencana. Tetapi ia adalah seorang wanita berkulit hitam. “Di saat kaki kita menginjak tanah Amerika, kita sudah menjadi kriminal,” ia menarasikan di pembukaan episode pertama, “Welcome to the Alternate Economy”. Dan karenanya, ia yang sering menerima hukuman di sekolah meskipun bukanlah dirinya yang melakukan kesalahan. Musim keempat Fargo juga memiliki tema kedua, yaitu rasisme di Amerika Serikat.

Kedua tema itu akhirnya tercampur dan menghasilkan sebuah kisah yang cukup kuat dan juga menarik. Tetapi saya pun akhirnya merasakan sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya di Fargo, apakah musim ini tidaklah sebaik sebelumnya? Ceritanya memanglah kuat, tetapi tidak memiliki kejutan, keliaran maupun kegilaan yang dimiliki musim sebelumnya. Jika kita mengingat Fargo, kita pasti mengingat bagaimana tidak mudahnya cerita yang dimiliki untuk diprediksi, dengan setiap momen berpotensi memiliki kejutan yang cukup liar. Tetapi tidak di sini. Musim keempat terlihat jauh lebih jinak dari sebelumnya.

Apakah karena karakternya? Di sini, kumpulan karakternya tidaklah seunik sebelumnya, dengan semuanya memiliki sifat dan ekspresi yang sama. Entah itu Loy, atau anaknya Donatello, Josto (Jason Schwartzman) yang cepat emosi serta adiknya yang berbadan sungguh besar Gaetano (Salvatore Esposito), semua karakter pentingnya terlihat tidaklah memiliki sifat ataupun tingkah laku se-eksentrik sebelumnya. Lagipula, karakter adalah apa yang membuat Fargo sungguh seru. Dan di sini, karakternya tidaklah sekuat sebelumnya.

robinekariski-tv-series-timothy-olyphant-dan-jack-huston-di-fargo

Mungkin karakter yang unik adalah seorang polisi bernama Odis Weff (Jack Huston) yang sering terkena serangan panik serta memiliki banyak kebiasaan yang unik, seperti mengetuk pintu berulang-ulang sebelum membukanya yang sering membuat orang di sekitarnya kesal. Tetapi acara ini kurang memanfaatkan karakternya. Atau seorang perawat Oraetta Mayflower (Jessie Buckley) yang tinggal di seberang Ethelrida dan memiliki kepribadian yang eksentrik dan juga misterius. Tetapi kisahnya sangatlah independen dan baru benar-benar nyambung dengan keseluruhan cerita musim keempat pada beberapa episode akhir, membuatnya sangat disayangkan.

Jika memang harus memilih karakter siapa yang saya sukai, tentu saja — dan yang mengenal saya tentu akan mengetahuinya — adalah Dick Wickware yang diperankan oleh koboi favorit kita semua Timothy Olyphant. Dick, atau yang biasa dipanggil “Deafy” karena ia akan mendengar apa yang ingin ia dengar, meski Odis pada awalnya mengira ia tuli. Deafy adalah seorang petugas marshal Amerika Serikat yang sedang mengunjungi Kansas untuk menangkap dua narapidana yang kabur dari penjara. Kepribadiannya sangatlah mirip seperti karakternya Timothy di Justified, ia pintar berbicara, percaya diri dan memiliki rasa keadilan yang tinggi. Kehadirannya selalu membuat sebuah adegan cukup seru karena dirinya yang cukup seru, dan sayangnya dirinya juga cukup jarang muncul di musim keempat.

Musim keempatnya memanglah tidak menjadi musim terbaiknya, bahkan bisa dibilang musim terburuknya jika dibandingkan dengan tiga musim sebelumnya yang sungguh brilian, tetapi musim terbarunya ini juga bukanlah musim yang buruk. Tema yang dibawakannya memang terdengar klise, tetapi Noah Hawley selaku pembuat seri dapat membuatnya menjadi sesuatu yang unik. Dengan memainkan moral serta keambiguan dari setiap karakternya, di sini tidak ada yang benar atau salah. Semuanya hanyalah apakah akan menjadi kriminal atau menjadi korban. Di sini, hanya penonton yang dapat menentukan siapa yang sebenarnya benar ataupun siapa yang sebenarnya salah.

Di musim ini kita masih bisa merasakan kekejian yang bisa kita rasakan di sebelumnya, kita masih bisa merasakan betapa dinginnya tingkah laku dan suasana yang dibangun selama musim berjalan (meski tidak sedingin sebelumnya, baik secara makna ataupun harfiah) dan juga masih dengan pintar memainkan emosi penontonnya dengan setiap kejutan yang dimilikinya. Memang tidak terbaik, tetapi musim keempat Fargo masih menjadi salah satu musim sebuah seri yang cukup seru. Sekarang, kita tinggal menunggu lagi berapa tahunkah musim selanjutnya akan tiba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s