Bagaimana jika pada suatu saat kehidupan kita akan mirip dengan permainan yang sering kita mainkan sehari-hari? Kira-kira seperti itulah konsep dasar dalam Alice in Borderland, seri terbaru di Netflix yang diadaptasi dari manga dengan nama yang sama ini. Berisikan 8 episode, seri Jepang ini adalah salah satu contoh yang mencoba untuk menambahkan beberapa genre yang sudah sering berkeliaran dan mengubahnya menjadi sebuah kisah yang unik dan menarik.

Di Alice in Borderland, kita mengikuti Ryohei Arisu (Kento Yamazaki), seorang pengangguran yang kesehariannya hanya bermain video game dan nongkrong bersama kedua sahabatnya, pria tangguh Karube (Keita Machida) dan pekerja kantoran Chota (Yuki Morinaga). Pada suatu hari, setelah ketiganya mengalami hari yang buruk dan memutuskan untuk berkumpul, mereka membuat ulah yang mengakibatkan ketiganya dikejar polisi dan setelah bersembunyi di toilet umum, kejadian yang tidak terduga terjadi. Semua manusia lenyap. Listriknya padam. Suasana sunyi senyap. Apa yang terjadi?

Apa yang langsung menangkap perhatian saya adalah bagaimana menakjubkannya seri ini membuat sebuah pusat kota di Jepang, yang penuh lalu lalang mobil dan pejalan kaki yang selalu sibuk, menjadi kosong melompong. Kita hanya melihat ketiga anak muda ini di tengah sebuah pusat kota yang kosong tanpa ada suara apapun. Adegan seperti ini mungkin memang sering kita lihat, tetapi saya tetaplah takjub dengan bagaimana mereka membuatnya. CGI? Mungkin saja. Dan selama musim berjalan, kita selalu disuguhkan pemandangan perkotaan Jepang yang kosong dan sunyi, yang entah bagaimana cukup menenangkan.

Ketiganya menyusuri kosongnya perkotaan, mengira-ngira apakah yang sedang terjadi. Apakah ada evakuasi? Atau apakah memang disengaja? Akhirnya mereka menyadari kalau mereka berada di dalam sebuah dunia permainan, di mana untuk tetap hidup mereka harus memenangkan permainan-permainan yang tersebar di kota dan jika kalah atau tidak berpartisipasi dalam permainan maka kematian akan menunggu mereka. Singkat kata, tidak cukup untuk hanya ikut bermain, tetapi juga harus memenangkannya.

Konsep yang diusung Alice in Borderland sungguh mengingatkan saya dengan manga “Gantz”, di mana keduanya berada di sebuah dunia yang sungguh berbeda dari realita meski saja perkotaannya terlihat sama, dan untuk bertahan hidup mereka harus memenangkan tantangan yang diberikannya. Kalah berarti mati, dan menang berarti menunggu tantangan selanjutnya. Sebuah permainan yang terlihat tidak ada ujungnya dan semakin lama semakin menanjak kesulitannya.

Kreativitas dalam tantangan di setiap permainan yang ditunjukkan Alice in Borderland adalah sesuatu yang membuat seri ini selalu seru dan menegangkan untuk ditonton. Dalam dunia ini, tantangan dibagi dalam empat jenis dengan lambang kartu. Sekop berarti tantangan fisik, wajik adalah tantangan kecerdasan, keriting memerlukan kerja sama dan hati merupakan yang tersulit, karena adalah sebuah tantangan yang memainkan emosi peserta dan mengakibatkan perpecahan serta pengkhianatan. Nomor kartu juga melambangkan kesulitan sebuah tantangan.

Cerita seri ini berjalan cukup mantap, dengan dari satu episode ke episode selanjutnya masih dapat mempertahankan setiap momentum yang dimilikinya. Tetapi memang, beberapa adegan terlihat terlalu terbata-bata saat berjalan, terutama biasanya saat dua karakter atau lebih sedang berbincang di tengah keheningan. Mungkin karena keheningannya yang membuat adegan itu berjalan sungguh lambat (iya, saya menyadari keheningan karena Tokyo sedang kosong), tetapi tidak jarang saya merasakan beberapa momen di dalam seri berjalan sungguh lambat.

Namun seperti yang saya katakan sebelumnya, tantangan yang diberikan di sini sungguh kreatif, baik dari segi tantangannya itu sendiri hingga solusi untuk memenangkannya. Selama satu musim pun kita juga selalu disuguhi tantangan-tantangan baru di hampir setiap episode, sehingga perasaan dan nuansa yang mengancam nyawa selalu menyelimuti seluruh musim. Tantangan yang disuguhkannya sungguh gila bahkan saya rasa saya tidak bisa bertahan hidup di tantangan pertama. Setiap tantangannya juga membawa nuansa layaknya sebuah battle royale. Menang untuk hidup atau kalah untuk mati. Di sini, hanyalah insting bertahan hidup yang paling kuat bekerja.

Karena begitu, saya kagum dengan bagaimana Arisu (atau jika di-“Inggris”kan akan menjadi Alice) dapat dengan nyarisnya memecahkan hampir semua teka-teki di setiap tantangan. Entah karena keberuntungan atau tidak, Arisu adalah seseorang yang pintar dan cerdik, tetapi kita tidak pernah benar-benar diberitahu bagaimana ia bisa sepintar itu. Apakah karena ia selalu bermain video game? Mungkin tidak begitu realistis, tetapi begitulah Arisu, dan karenanya dia bisa bertahan selama 8 episode.

Kumpulan karakter yang dimiliki Alice in Borderland juga sangat menarik untuk ditemui karena memiliki sifat yang beragam. Selama Arisu dan kawan-kawannya menyusuri Tokyo yang hening dan melewati rintangan demi rintangan, mereka menemui beragam karakter seperti wanita misterius Shibuki (Ayame Miraki), wanita atletik yang bisa memanjat bangunan dengan lincah Yuzuha Usagi (Tao Tsuchiya), hingga pria yang berbadan besar dan hanya mengenakan singlet dan terlihat mahir bela diri Aguni (Sho Ayagi). Kehadiran-kehadiran karakter ini juga tetap membuat seri ini segar dalam ceritanya.

Saya memang tidak membaca manga untuk sumber seri ini, tetapi Alice in Borderland menunjukkan sebuah seri yang menjanjikan. Memang cukup sulit rasanya untuk melihat bagaimana mereka akan melanjutkan musim keduanya, karena salah sedikit dan segala keseruan yang kita rasakan selama satu musim dapat runtuh seketika. Tetapi saya optimis. Saya masih yakin mereka dapat memberikan hiburan yang seru lagi di selanjutnya (jika memang ada musim kedua). Dan tidak, saya tidak akan membaca manga-nya karena ingin menikmati seri ini secara penuh (dan takut akan bocoran cerita).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s