Banyak momen yang sungguh saya sukai, tetapi ada satu adegan yang sungguh memukul dan menonjolkan seluruh inti dan makna film ini. Adegan ini berada pada saat awal sekali, saat Martin (Mads Mikkelsen) bertanya kepada istrinya, Anika (Maria Bonnevie), “Apakah aku telah menjadi membosankan?” Sebuah pertanyaan yang cepat atau lambat akan menghampiri. Sebuah pertanyaan yang mungkin akan datang seiring umur terus bertambah, atau juga sering muncul semenjak pandemi COVID-19, saat kita menyadari pada diri kita sendiri dan bertanya apakah kehidupan kita telah menjadi datar dan membosankan?

Martin adalah seorang guru sejarah yang membosankan. Siswanya tidak terlalu memerhatikan pelajarannya dan begitu juga dengan keluarganya, terutama dengan istrinya yang selalu bekerja pada jam malam. Tidak hanya dirinya, tetapi ketiga temannya yang juga merupakan pengajar di sekolah yang sama merasakan kebosanan yang sama ,dan mereka adalah: Tommy (Thomas Bo Larsen), Peter (Lars Ranthe) dan Nikolaj (Magnus Millang). Keempatnya terlihat tidak terlalu bersemangat dalam mengajarkan pelajarannya, dan kehidupan pribadinya juga tidaklah menarik.

Saat merayakan ulang tahun Nikolaj pada suatu malam, mereka akhirnya memutuskan untuk ingin bereksperimen dari teori seorang psikiater bernama Skårderud yang menyatakan kalau manusia memiliki kadar alkohol 0.5% lebih rendah dari yang seharusnya. Berpegang teguh dengan teori itu, mereka akhirnya menyusun rencana untuk selalu meminum alkohol agar kadar alkohol di dalam darah selalu sebanyak 0.5% dan tidak meminum di atas jam 8 malam. Untuk mengetes teori itu, tentunya.

Tetapi teori itu hanyalah sebuah alasan belaka. Keempatnya menyadari kalau teori itu hanyalah sebuah alasan untuk membenarkan rencana yang telah mereka usung itu. Inilah salah satu fondasi dari Another Round, sebuah studi mengenai manusia dan bagaimana mereka akan berusaha untuk mencari katarsis di tengah hidupnya yang seret. Mungkin saja ada sedikit bagian dalam diri mereka yang menyadari kalau alkohol hanyalah untuk kabur dari realita kehidupan mereka yang kurang manis, tetapi sekali menyentuh kebebasan yang ditawarkan alkohol, bagian diri mereka itu langsung tertutup.

Dan alkohol itu bekerja. Setidaknya bekerja untuk kehidupan mereka, bukan untuk mengetes teori mereka. Martin menjadi lebih bersemangat dalam mengajar dan telah menemukan cara untuk memancing perhatian siswanya, sesuatu yang mungkin tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia juga menjadi lebih aktif dalam mengajak keluarganya untuk beraktivitas, seperti pergi menaiki kano dan berkemah. Begitu juga dengan ketiga temannya, yang terlihat lebih berapi-api dalam mengajar. Jika ini bekerja, berarti alkohol itu bukanlah yang buruk, kan? Bagaimana jika ditingkatkan kadar konsumsinya? Untuk mengetes teori, tentu saja.

Tentu saja ini adalah alkohol yang kita bicarakan, dan alkohol dapat mengubah manusia secepat jentikan jari. Dengan alkohol sebagai pusat perhatian pada film ini, Thomas Vinterberg telah membuat sebuah kisah yang berada pada perbatasan antara sadar dan hilang kendali, dan perbatasan itulah yang selalu membuat film ini sungguh mendebarkan. Karena kita menyukai karakternya. Kita mendukung Martin dan teman-temannya untuk mendapatkan cara baru untuk menikmati kehidupan. Tetapi kita juga memiliki perasaan khawatir dan takut bahwa alkohol akan menelan mereka secara utuh.

Saya sungguh menyukai kisah Another Round. Saya menyukai bagaimana ini dapat menjadi film mengenai persahabatan, mengenai empat orang dewasa dan teman dekat yang memutuskan untuk melakukan sesuatu yang baru. Saya menyukai bagaimana ini dapat menjadi sebuah karakter studi, untuk melihat keluh kesah seseorang dan perlawanannya dalam menghadapi “dewasa” karena seperti yang kita dan dia sadari, orang dewasa itu membosankan. Atau juga sebagai sebuah kisah mengenai penebusan, untuk belajar dari pengalaman apa yang sebenarnya salah dan apa yang seharusna dilakukan. Selama dua jam, banyak sekali arti dari kisahnya yang bisa kita dapatkan, yang juga membuat film ini cukup berharga.

Ini bukanlah film komedi yang blak-blakan, tetapi ada beberapa momen yang kocak dan membuat saya tertawa. Ada juga momen di mana film ini juga sangatlah manis, yang membuat saya tersenyum saat menontonnya. Dan juga ada bagian yang memilukan dan menohok, yang cukup menyentuh. Dan itulah mengapa ini adalah film yang sungguh manusiawi, karena manusia memang memiliki serangkaian emosi yang rumit dan beragam, dan karena itu juga mengapa kisah Another Round sungguh mengena dan terasa personal, meskipun kita belum merasakan apa yang karakter di dalam film ini rasakan.

Mads Mikkelsen adalah salah satu alasan terbesar mengapa saya mendukung penuh karakternya. Ia memiliki karisma yang sungguh mengesankan, dapat mengambil alih perhatian penonton secara penuh tetapi juga dapat melakukan apa yang ia lakukan secara alami dan membuat karakternya terasa seperti seseorang yang sudah kita kenal sejak lama. Bakat akting miliknya memanglah sudah tidak pernah diragukan (Valhalla RisingThe Hunt dan Hannibal menjadi karya terbaiknya yang pernah saya tonton), tetapi Another Round mungkin saja adalah penampilan terbaiknya sepanjang karier miliknya, dan ini bukan yang terakhir.

Another Round adalah film yang sangat menarik. Menutup 2020 dengan sebuah film mengenai penebusan, pencarian katarsis dan penyesalan sepertinya adalah sebuah paralel yang menyenangkan untuk ditelusuri. Penutup dari Another Round-pun jugalah sama dengan bagaimana 2020 akan tertutup, dengan sebuah katarsis yang masih diragukan apakah terasa tulus ataupun terlalu dipaksakan. Satu hal yang pasti, ini adalah salah satu film terbaik sepanjang tahun ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s