Saya ingat baru beberapa hari yang lalu menyelesaikan Alice in Borderland, sebuah seri di Netflix yang diadaptasi dari manga atau buku komik. Alice in Borderland menceritakan mengenai sebuah dunia di mana kita diterjunkan di dalam sebuah permainan dan satu-satunya cara untuk hidup adalah memenangkan permainan itu. Seri dengan latar fantasi mengerikan itu selalu terpikir oleh saya setiap menonton Sweet Home, seri Netflix terbarunya dari Korea Selatan yang juga diadaptasi dari komik.

Keduanya juga memiliki kemiripan yang cukup dekat. Selain dengan tanggal rilisnya yang berdekatan, keduanya memiliki tokoh utama seorang lelaki muda dengan rambut yang berantakan dan suka bermain video game. Jika di Alice in Borderland ada Arisu, di Sweet Home ada Cha Hyun-soo (Song Kang), seseorang yang baru pindah ke sebuah apartemen karena kehilangan keluarganya yang terlibat kecelakaan. Keduanya juga memiliki masalah pribadi, dengan Hyun-soo yang selalu berniat untuk bunuh diri dan hanya menghabiskan kesehariannya bermain video game serta memakan mie instan secara terus-menerus. Persis seperti anak kuliah kebanyakan.

Pada suatu hari, ia menyadari kotak mie yang biasa ia pesan dan diantar ke depan kamarnya sudah terbuka dan berantakan. Kucing? Anjing? Siapapun itu mereka tidaklah sopan, benar? Tetapi bukan. Rupanya saat ia mengikuti remah-remah mie yang terbuang di lantai, ia melihat tetangganya, badan penuh darah dan mata yang menghitam secara penuh, sedang mencabik dan memakan sesuatu. Rupanya wanita itu telah terinfeksi sesuatu dan berubah menjadi sebuah monster yang mirip dengan zombie. Sama seperti Alice in BorderlandSweet Home juga mengusung konsep bertahan hidup dan siapa lemah ia mati.

Di episode pertama, saya jujur merasa pesimis dengan seri ini. Sebelum elemen monster masuk dan sebelum seluruh penghuni bersiap tempur, Sweet Home berlalu begitu cepat dengan setiap karakternya. Tidak hanya dimborbardir berbagai karakter baru yang kehadiran dan aktivitasnya juga membingungkan (seperti seorang satpam yang tiba-tiba dimarahi karena punya kasur dan diberikan ikan busuk oleh salah satu penghuninya, adegan yang muncul tiba-tiba dan membuat saya bingung). Tidak hanya itu, kita juga langsung ditunjukkan Hyun-soo yang ingin lompat dari atap. “Hei, tunggu dulu!” pikir saya.

Tetapi apa yang sebelumnya membuat saya pesimis, rupanya adalah kumpulan karakternya yang membuat Sweet Home sebuah seri yang cukup seru. Semakin episode berjalan, seri ini memberikan waktu yang cukup untuk menonjolkan serta memberikan latar belakang dari setiap karakternya, sehingga kita benar-benar dapat mengenali para penghuni apartemen itu yang semakin lama semakin memiliki peran yang penting untuk ceritanya.

Yang membuat seri ini cukup pintar adalah bagaimana realistisnya karakter ini digambarkan. Tentu saja serangan monster memang tidak ada di dunia nyata (atau mungkin saja belum?), tetapi di dalam situasi yang ganas itu setiap karakternya bertingkah seperti apa yang akan orang lakukan di dalam sebuah pandemi. Bagaimana saya mengetahui tingkah lakunya realistis? Karena saya membayangkan pandemi COVID-19 dengan pandemi monster di dalam seri. Melihat tingkah laku manusia di dunia nyata yang menghadapi COVID-19 dengan para penghuni yang menghadapi monster, terdapat beberapa kemiripan yang membuat saya tersadar bagaimana pintarnya mereka membuat para karakter.

Ada Lee Eun-hyuk (Lee Do-hyun) yang menjadi pemimpin dan harus mengambil keputusan yang dingin demi bertahan hidup, ada Kim Seok-Hyeon (Woo Hyeon) yang merupakan seorang pemilik toko di dalam apartemen dan memiliki kepribadian yang licik, pelit dan sungkan menolong. Ada juga yang siap membantu tanpa pamrih, dan ada yang selalu menyinyir penghuni lainnya. Ada yang curang, ada yang selalu melanggar aturan yang diterapkan, dan juga ada yang bertingkah senonoh. Terkadang saya melihat karakter-karakter seperti itu saya berpikir “Kok mereka tega ya?” atau “Kok mereka bodoh ya?”, tetapi pandemi COVID-19 menyadarkan saya kalau manusia memanglah beragam dan memang seperti itulah manusia. Tidak semua, tetapi ada saja yang bersifat antagonis.

Tidak hanya beragamnya karakter saja yang membuat Sweet Home terasa seru, tetapi juga beragamnya monster yang muncul di sini yang selalu membuat saya terkagum-kagum, terutama pada pertengahan awal seri ini. Pada awalnya saya hanya mengira bahwa monster di film ini akan mirip dengan zombie, tetapi semakin lama justru saya terpukau dengan banyaknya jenis monster dengan desainnya yang beragam, unik dan juga menyeramkan. Ada yang bermata raksasa dan berleher panjang, ada yang berbadan raksasa layaknya The Thing dari Fantastic Four, ada yang hanya mengandalkan pendengaran saja karena kepalanya yang terpotong setengah. Desain para monster di sini sungguh unik dan keren, dan juga tidak pernah saya duga.

Dan karena itu jugalah saya ingin memberitahu sesuatu yang membuat saya sering terganggu karena sungguh disayangkan: CGI yang dimilikinya. Jangan salah, desain monster sudah sangat fantastis dan menyeramkan, itu betul. Tetapi ada beberapa adegan yang saat menampilkan para monster itu yang terlihat tidak hanya tidak alami dengan sekitarnya, tetapi juga bagaimana mereka terlihat bergerak di depan kamera. Sungguh disayangkan, karena adegannya memang saya rasa sudah baik tetapi karena CGI miliknya yang tidak sempurna, ada saat di mana saya merasa teralihkan perhatian saya dari monster menjadi CGI yang dimilikinya.

Hal lainnya yang membuat saya terganggu saat adegan bertarung antara manusia dengan monster adalah penggunaan musik “Warriors” oleh Imagine Dragons yang berlebihan. Saya paham kalau musik itu memanglah keren dan memang cocok, tetapi cukup sering musik itu terputar saat sebuah pertarungan sudah mencapai klimaks, meskipun sebenarnya score yang dimiliki Sweet Home cukuplah keren. Entah bagaimana, saat musik terputar dan “As a child, you would wait…” sudah terdengar, lagi-lagi saya teralihkan perhatiannya. Apalagi penggunaan musik itu biasanya menandakan situasi yang sama akan terjadi, saat kegilaan monster akan meledak dan seorang karakter akan melakukan sesuatu yang heroik. Ulangi saja setiap musik itu dimulai.

Musim pertama memang berakhir dengan cliffhanger, yang menandakan akan ada musim selanjutnya. Banyak pertanyaan yang muncul dan tidak pernah terjawab di musim pertama, yang terkadang mudah membuat saya bingung. Tetapi musim pertama juga dengan mudah menarik saya ke dalam dunianya yang brutal, sadis dan tidak pernah terduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Sama seperti Alice in Borderland, saya juga memiliki harapan dan optimisme yang baik dengan musim keduanya yang diharapkan akan terjadi dan juga akan menjawab segala pertanyaan yang muncul di musim pertama.

2 thoughts on “Musim Pertama SWEET HOME dan Tempat Tinggalnya yang Tidaklah Manis

    1. Untuk saat ini, asal-usul monster masih belum dijelaskan secara jelas. Semoga akan ada penjelasan yang lebih lengkap di musim kedua, biar kita juga bisa ngerti dari mana asal monsternya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s