Siapa yang menyangka The Mandalorian akan menjadi salah satu produk paling populer dari sebuah franchise yang sudah berdiri berpuluh-puluh tahun sebelumnya? Setidaknya itulah yang saya rasakan saat menyelesaikan musim pertamanya pada tahun lalu, di tahun tepat setelah Rise of the Skywalker menyelesaikan trilogi miliknya. Siapa yang menyangka The Mandalorian, sebuah produk untuk layanan streaming Disney+, akan menjadi penyelamat untuk franchise Star Wars setelah respon yang tidak ramah untuk Rise of the Skywalker.

Setidaknya itulah kesan saya — seorang penggemar “casual” Star Wars yang hanya menonton kesembilan film dan memainkan satu permainannya dan tidak membaca novel, komik atau menonton seri kartun miliknya — terhadap seri yang dibuat oleh Jon Favreau ini. Tidaklah membutuhkan pengetahuan yang sangat mendalam terhadap semesta Star Wars untuk menikmati The Mandalorian, sebuah seri yang terlihat sangat berbeda dari filmnya tetapi memiliki style yang sungguh keren dan menyenangkan untuk diikuti, layaknya sebuah dunia western di luar angkasa dengan seorang tokoh jagoan yang berusaha melintasi setiap rintangan yang dihadapinya.

Semesta yang dimiliki Star Wars itu sungguhlah luas. Dari banyaknya planet, karakter, fraksi hingga perang dan kejadian yang sudah berlalu. Dan itulah yang dicoba oleh musim kedua The Mandalorian, untuk mulai tidak hanya memperluas dunia miliknya tetapi juga mulai menyambungkan kisah miliknya terhadap semesta Star Wars, sehingga tentu saja musim kedua ini terasa lebih besar dari musim pertamanya, dengan banyaknya karakter yang sudah pernah muncul sebelumnya di media lain mulai menampakkan dirinya di musim kedua ini.

Setiap episode di musim kedua menyuguhkan petualangan yang unik dan penuh dengan aksi yang besar. Memang terkadang setiap episode terasa tidaklah terlalu terhubung dengan episode sebelum atau sesudahnya dan terkesan seperti sebuah “filler”, tetapi justru itulah kekuatan utama The Mandalorian, memberikan kita kesempatan untuk menyaksikan setiap petualangan dan rintangan yang unik, baru dan juga terasa segar yang harus dihadapi oleh Mandalorian kesayangan kita semua, Mando (Pedro Pascal) beserta teman perjalanannya, The Child atau yang lebih populer dengan sebutan Baby Yoda di kalangan pengguna dunia maya.

Tidak hanya menyuguhkan aksi yang selalu seru, tetapi cerita dengan gaya tersebut juga memberikan kita kesempatan untuk menemui lokasi serta karakter baru di setiap episode, yang tentunya menambah antisipasi kita setiap ingin menonton episode terbaru, karena kita juga dibuat penasaran olehnya, “Siapa lagi yang akan ia temui selanjutnya?”, “Kemana ia akan pergi dan apa yang akan terjadi selanjutnya?” atau “Siapakah yang akan dihadapi olehnya kali ini?” menjadi pertanyaan yang selalu muncul setiap Mando mulai menyalakan Razor Crest, pesawat luar angkasa miliknya dan menjelajahi luasnya semesta Star Wars.

Lihat saja di episode pertamanya, “Chapter 9: The Marshal”, saat Mando dan The Child menuju Mos Pelgo, sebuah kota di planet Tatooine. Di kota itu, ia bertemu dengan seorang marshal (yang menambah kesan western dalam seri ini) bernama Cobb Vanth yang mengenakan pelindung khas Mandalorian. Cobb Vanth, yang diperankan oleh Timothy Olyphant (saya menemukan ini adalah hal yang jenaka, karena tidak peduli sejauh apapun ia pergi, bahkan ke luar angkasa sekalipun, ia selalu mendapatkan peran sebagai seorang penegak keadilan yang keren khas perannya di Justified), adalah seorang karakter yang pernah muncul di novel Star Wars: Aftermath.

Kehadirannya memanglah hanya pada satu episode itu saja (sedih, karena ia adalah teman yang sama kerennya dengan Mando), tetapi kemunculannya menunjukkan musim kedua The Mandalorian berusaha untuk memperluas dunianya dengan mulai menyambungkan dunia miliknya dengan semesta Star Wars lewat karakter-karakter yang akan ditemui di Mando. Saya tidak ingin memberikan bocoran siapa saja yang akan muncul, tetapi setiap episode karakter yang akan kita temui akan memiliki peran yang lebih besar di semesta Star Wars itu sendiri, sehingga tentu saja itu membuat musim kedua ini menjadi lebih vital dari sebelumnya.

Tidak hanya dunianya, tetapi musim kedua The Mandalorian juga terlihat menambah kehebohan aksi dari musim sebelumnya, dengan setiap episode selalu menyuguhkan sebuah aksi yang sangat menggetarkan dari Mando yang berhadapan dengan beragam musuh selama perjalanannya. Tidak hanya kualitas dari segi teknis saja yang terlihat lebih baik, tetapi juga dari dunia sekitarnya yang bahkan memiliki kualitas yang mungkin saja hampir atau sama baiknya dengan film Star Wars. Mengingat ini adalah sebuah seri, tentu saja mengagumkan rasanya bagi mereka untuk membangun dunia serta membuat seluruh spesial efeknya (baik dari pesawat luar angkasa hingga interior setiap kapal terbang dan setiap efek pertarungan) terlihat memiliki kualitas yang sama seperti film miliknya.

Apa yang membuat musim kedua ini berjalan sungguh mulus adalah bagaimana kini cerita film menjadi lebih teratur dari sebelumnya, karena sekarang Mando sudah memiliki satu misi saja selama satu musim berjalan: mengantarkan The Child kembali ke ras miliknya. Dengan satu tujuan itu, cerita musim kedua The Mandalorian menjadi lebih terarah dan tidak pernah sekalipun terkesan keluar dari jalurnya, meski setiap episode terasa tidak terlalu berhubung dengan episode selanjutnya. Planet yang dikunjunginya memang selalu berbeda, tetapi pada akhirnya ia tetaplah memiliki misi yang sama.

Saya pun juga mengapresiasi bagaimana mereka dengan beraninya bermain dengan durasi setiap episodenya. Ada episode yang hanya berjalan selama 30 menit (cukup sebentar!) dan ada yang sampai 40 bahkan 50 menit, tetapi perbedaan dalam durasi itu tidaklah mengurangi keseruan menonton saya. Justru durasi tersebut seperti bagaimana mereka beradaptasi dengan cerita yang mereka dapatkan, sehingga satu episode benar-benar dapat menyampaikan narasi musim kedua tanpa harus membuang-buang waktu untuk sebuah adegan yang basa-basi hanya demi memiliki durasi yang sama rata atau harus terburu-buru dalam menyelesaikan suatu episode.

Musim kedua The Mandalorian juga kembali menunjukkan bagaimana Pedro Pascal — yang selama satu musim harus tertutup rapat oleh pelindung baju serta helm miliknya —  dapat menunjukkan emosi yang cukup kuat dengan karakter yang diperankannya. Hanya dengan gerakan badan, kepala serta suara miliknya, ia dapat menyalurkan emosi di balik helm yang tebal dan dingin miliknya. Kita bisa merasakan ia sedang menggerutu (yang cukup sering ia lakukan), sedih ataupun bersemangat, dan itu tidaklah mudah karena jika tidak lihai maka karakter Mando dapat terasa sangat mati dan kaku. Tetapi tidak di tangan Pascal. Di sini, Mando menjadi sangat hidup dan karena itulah mengapa kita sangat mendukung dirinya dalam setiap petualangan bersama The Child yang harus selalu ia asuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s