Saya sangat menyukai Wonder Woman (yang dirilis pada 2017). Tidak hanya itu menjadi film pertama yang memberikan harapan kepada DC Extended Universe (DCEU) setelah beberapa rilisan sebelumnya seperti Batman v Superman hingga Suicide Squad yang gagal meraih ekspetasi, tetapi juga Wonder Woman dengan sendirinya adalah sebuah film yang memang benar-benar menyenangkan dan mampu menangkap keseruan sebuah komik sekaligus tidak terlalu mencoba untuk menjadi sebuah film yang terlalu kelam dan dark seperti film DCEU sebelumnya. Film itu jugalah menjadi film favorit DCEU saya sejauh ini (yang hampir tersaingi oleh Birds of Prey).

Maka sudah pasti saya penasaran bagaimana baik sutradara dan penulis Patty Jenkins serta pemeran utama kita Gal Gadot dapat kembali menghidupkan pahlawan super dari Themyscira ini. Terlebih Wonder Woman 1984 berlatar di salah satu era paling populer untuk dunia pop culture, sebuah waktu yang masih sangat jarang ditemui di film pahlawan super. Apakah film ini akan memanfaatkan banyaknya referensi pop culture di dalamnya? Atau apakah film ini akan kembali memberikan kita sebuah petualangan yang sungguh seru seperti film pertamanya? Banyak pertanyaan yang muncul.

Wonder Woman 1984 berdurasi 2 jam 30 menit, durasi yang cukup lama untuk sebuah film. Dan meski hanya lebih lama 10 menit lebih lama dari film pertamanya, film ini terasa jauh lebih panjang dari sebelumnya karena banyaknya adegan yang terseret sangat jauh dan juga betapa lambatnya narasi film berjalan. Bahkan setelah berjalan 30 menit hingga 45 menit, film hanyalah memperkenalkan beberapa karakternya saja tanpa benar-benar menunjukkan apa inti cerita dan masalah yang akan dihadapi Diana Prince (nama aslinya Wonder Woman, bagi yang masih tidak menyadarinya, meski tidak mungkin).

Film dimulai di pulau Themyscira, di mana penduduk Amazon terlihat sedang mengadakan sebuah perlombaan atletik. Selama 10 menit kita disuguhkan betapa atletiknya para wanita Amazon hanya untuk Diana yang masih kecil (diperankan oleh Lilly Aspell) diceramahi oleh sang tante sekaligus mentor Antiope (Robin Wright) karena curang saat berlomba dan mengatakan kalau tidak ada pahlawan yang terlahir dari kebohongan, sebuah kalimat yang akan diulang-ulang selama film berjalan nantinya.

Lanjut ke tahun 1984 dan kita melihat Diana, kini sudah menjadi Wonder Woman yang lengkap dengan pakaian dan perlengkapan andalannya, lasso of truth. Kita berada di sebuah mall, dan sekelompok pencuri yang baru saja merampok barang antik telah diringkus oleh Diana hanya dalam hitungan menit, tetapi adegan berantem antara Diana dan para penjahat itu terkesan tidak hanya tidak penting, tetapi juga mencoba ingin menjadi humoris tetapi tidak lucu, ringan tetapi menjadi cringe. Konyol sepertinya adalah kata yang tepat. Dan sayangnya, banyak adegan berantem yang akan muncul nantinya juga mereplika perasaan yang sama.

Dan itu disayangkan karena inti cerita yang dimiliki Wonder Woman 1984 menawarkan harapan dan menunjukkan keserakahan manusia memiliki konsekuensi panjang yang harus selalu diperhatikan, sesuatu yang sepertinya sangat mencerminkan tahun 2020 dan juga yang kita perlukan saat ini. Tetapi rasanya mereka terlalu mencoba membuat sebuah cerita yang seharusnya dapat diceritakan dan diselesaikan lebih cepat menjadi sebuah film yang lebih dari seharusnya, sehingga banyak sekali saat di mana saya merasakan kejanggalan dalam menyampaikan narasinya.

Film barulah benar-benar masuk ke inti masalah pada sektiar 40 menit film berjalan, saat sebuah batu misterius jatuh ke tangan seorang pebisnis yang sedang mengalami kesulitan, Maxwell Lord (Pedro Pascal tanpa kumis ciri khas miliknya yang disayangkan), di mana batu tersebut rupanya memiliki kekuatan untuk mengabulkan permintaan apapun, termasuk Diana yang sebelumnya pernah berharap kembalinya Steve (yang tewas pada film pertama dan diperankan oleh Chris Pine) dan ternyata terkabul! Ia hadir, meski berada di dalam tubuh seseorang yang hanya diberi nama “Handsome Man” (Kristoffer Polaha) di credit.

Kehadiran Steve sendiri adalah sebuah kejanggalan yang masih terasa sangat aneh dan tidak tepat bagi saya. Memang kehadirannya menciptakan beberapa momen manis di dalam film, tetapi kehadirannya juga mengundang beberapa adegan klise yang pernah terjadi di film sebelumnya, dan juga bagaimana ia bisa tiba-tiba berada di dalam tubuh “Handsome Man”? Di saat adegan di mana Diana tidur dengan Steve, apakah ia juga tidur dengan “Handsome Man” meski si “Handsome Man” tidak menyadari karena dirinya sedang dirasuki Steve? Banyak pertanyaan, banyak pertanyaan.

Tetapi batu magis itu, meski menawarkan untuk mengabulkan segala macam permintaan, juga memiliki konsekuensi. Dan karena keserakahannya, Maxwell justru memanfaatkan batu itu untuk selalu mengincar kekuatan dan kekuasaan, hingga akhirnya menjadi antagonis yang cukup besar untuk Diana dan Wonder Woman 1984. Pedro Pascal memang tidaklah asing untuk bermain sebagai antagonis — seperti di Kingsman: The Golden Circle dan juga sangat disesalkan karena saya menyukainya dan ingin mendukungnya — dan sebagai Maxwell, kita diberikan kesempatan untuk melihatnya memainkan peran sebagai seorang pebisnis yang tidak kenal kata berhenti dengan karisma khasnya yang mungkin jarang kita lihat sebelumnya.

Barbara Minerva (Kristen Wiig), teman kerja Diana di Institusi Smithsonian, juga memberikan humor yang diperlukan Wonder Woman 1984, setidaknya di awal film. Kepribadiannya yang kikuk dan tingkah lakunya yang lugu terasa cocok dengan Diana yang memiliki kepribadian yang selalu to the point dan tidak pernah berbasa-basi, sehingga hubungan keduanya terasa menarik. Makanya sayang saat karakternya menjadi berubah selama film berjalan, sehingga menjadi antagonis yang akhirnya justru terasa terlupakan karena memiliki peran yang terasa terpaksakan selama film mulai menyentuh akhir.

Tentu saja adalah Gal Gadot sebagai Diana Prince atau Wonder Woman yang berhasil mengikat seluruh ketidakseimbangan nada film, dengan sifatnya yang memang terasa sangat mudah memberikan perasaan membangkitkan semangat serta menawarkan harapan tidak hanya kepada karakter di sekitarnya tetapi juga kita sebagai penonton. Memang aksinya tidaklah sekeren di film pertama, dan banyak adegan berantem penuh CGI yang terasa canggung, tetapi pada akhirnya Gal Gadot masihlah dapat menaruh perawakannya yang mempesona, anggun dan juga tangguh sebagai seorang pahlawan super wanita bernama Wonder Woman.

Dan berbicara mengenai tahun 1984, sangat sedikit bagaimana film ini terasa seperti di tahun 1984 atau era 1980-an. Ayah saya yang ikut menonton semenjak seperempat akhir film bahkan tidak menyadari ini adalah film yang seharusnya berlatar di tahun 1984. Memang warna-warni yang terkadang muncul di layar — seperti saat di sebuah adegan di gym di mana banyak peralatan serta orang yang mengenakan pakaian beragam warna — menteriakkan tahun 1980-an, tetapi sedikit sekali suasana memang hidup di tahun 1984. Tidak ada musik dari tahun 1980-an, tidak ada referensi yang merujuk ke dunia pop culture pada tahun 1980-an, tidak ada kejadian dalam sejarah yang muncul di film. Sebuah kesempatan emas yang dapat membuat film ini sungguh unik dan hidup terbuang sia-sia, menurut saya.

Wonder Woman 1984 memang adalah sebuah film pahlawan super yang sangat jauh dari film prekuel miliknya. Keceriannya masih antara terlalu dipaksakan dan tidak terasa sama sekali, adegan berantemnya juga sering membuat kita teralihkan perhatiannya, durasinya juga sangatlah panjang dengan ceritanya yang sering terbata-bata saat berjalan. Masih beruntung Gal Gadot masih dapat memainkan perannya dengan cukup menarik serta Pedro Pascal yang memiliki peran yang terkesan klise tetapi masih berhasil berkat karisma unik miliknya.

Jika Wonder Woman 1984 yang sudah berjalan selama 2 jam 30 menit saja terlihat seperti ini, bagaimana dengan “Snyder Cut” Justice League yang katanya akan mencapai 4 jam? Bagaimanapun juga, “Snyder Cut”, saya akan datang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s