Kata kasar memiliki peran yang menarik di kosakata sehari-hari kita. Fleksibilitas sebuah kata kasar — entah dalam bahasa Indonesia atau Inggris — menjadikannya sebuah kata yang sering kita ucapkan, meski saja mengetahui kalau menggunakannya masih cukup tabu di hadapan publik. Bisa digunakan saat marah, bisa digunakan saat senang, bisa digunakan saat sedih, bisa digunakan saat sedih, bisa digunakan saat terkejut, tidak ada habisnya amunisi kata kasar kita gunakan dalam bahasa kita.

Tetapi pernahkah kita berpikir mengapa kata kasar bisa muncul dalam sejarah bahasa kita? Siapa yang sebetulnya mendikte kalau kata kasar itu adalah kasar? Bagaimana perbedaan peran sebuah kata kasar dari masa lalu dengan masa sekarang? Begitulah yang ingin didalami di dalam History of Swear Words, sebuah dokumenter komedi berisi enam episode yang sudah tayang di Netflix. Kawan-kawan, saatnya kita belajar bagaimana kata “Fuck” bisa terbentuk.

Anda kira kita hanya belajar “Fuck” saja? Tentu tidak. Setiap episode kita mendalami setiap kata kasar, dan “Fuck” membawa saudara-saudarinya: “Shit”, “Bitch”, “Dick”, “Pussy” dan “Damn”. Betul saya tidak menyensor setiap kata karena saya merasa tidak ada untungya untuk menutup kata-kata itu karena kita juga pasti sudah tahu apa kata itu, dan juga setiap kata itulah yang menjadi judul untuk setiap episode. Memang, hanya kata kasar bahasa Inggris saja yang dijadikan sebagai topik, dan hingga ada seri Netflix yang menjelaskan kata kasar bahasa Indonesia, kita belajar ini dulu saja.

Dikemas hanya dalam 20 menit saja per episodenya, kalian bisa langsung menonton seluruh 6 episode sekaligus dan menganggapnya sebagai perkuliahan literatur berdurasi 120 menit. Setiap episodenya kita melihat wawancara dari beberapa pakar bahasa (seperti Benjamin K. Bergen hingga Anne H. Charity Hudley) yang menjelaskan mengenai sejarah dan evolusi sebuah kata kasar dari beratus-ratus tahun yang lalu hingga pelawak dan aktor (dari Nick Offerman hingga London Hughes) yang menjelaskan bagaimana pandangan mereka terhadap suatu kata kasar.

Tetapi persinggungan antara edukasi dan komedi di setiap episode akhirnya membuat mereka menyisihkan waktu untuk benar-benar menjelaskan sejarah sebuah kata kasar menjadi lebih sedikit, dan lebih banyak menghabiskan waktu mengungkapkan lelucon atau menjelaskan situasi sebuah kata kasar saat ini. Bagi saya, yang menonton sebuah seri yang judulnya saja sudah berarti “Sejarah Kata Kasar” dan ingin benar-benar belajar mengetahui secara detail bagaimana bisa kata seperti “Pussy” berevolusi menjadi sekarang atau bagaimana kata “Shit” berarti seperti zaman sekarang ini, sering teralihkan dengan beragam lelucon yang dicoba mereka lontarkan.

Namun bukan berarti setiap episodenya tidaklah mengajarkan kita apa-apa. Kata kasar memiliki sejarah yang tidak hanya unik tetapi juga masih tercampur aduk antara fakta dan mitos. Meski tidak benar-benar diberi penjelasan yang padat dan selengkap-lengkapnya, setidaknya saya mengetahui bagaimana sebuah kata “Pussy” bisa berubah dari yang awalnya merujuk kepada hewan kucing menjadi nama panggilan untuk istri hingga akhirnya menjadi organ vital wanita.

Atau bagaimana “Dick”, yang awalnya hanyalah menjadi nama panggilan untuk nama Richard, menjadi sebuah kata kasar yang juga dapat merujuk pada organ vital pria. Setidaknya History of Swear Words mengajarkan untuk lebih berhati-hati dalam memberi nama, karena kita tidak akan mengetahui bagaimana sebuah makna dalam nama dapat berubah dalam masa depan. Bukankah buruk jika anak atau hewan peliharaan kita diolok-olok karena memiliki nama yang dapat menjelma sebagai sebuah kata kasar? Begitulah nasib orang yang bernama atau memiliki nama panggilan Dick.

Di setiap episode juga kita diberikan pencerahan mengenai bagaimana status kata kasar tersebut saat ini. Apakah “Damn”, sebuah kata kasar yang paling jinak dan mungkin sudah tidak dianggap sebagai kata kasar, akan memiliki masa depan di kamus kata kasar? Saya pun juga menyadari bagaimana “Damn” mungkin terdengar jinak, tetapi jika menjadi “Goddamn” maka kata tersebut menjadi jauh lebih berat dan menjadi lebih serius, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh saya tetapi sangatlah menarik jika dipikir dan jika mengetahui sejarahnya. History of Swear Words juga mengajari dan menyadarkan saya bagaimana setiap kata kasar memiliki statusnya yang unik masing-masing, meski saja mereka sama-sama adalah kata kasar.

Dan apa yang benar-benar menggendong seluruh enam episode seri dokumenter komedi ini adalah Nicolas Cage sebagai sang pembawa acara. Dengan pakaian jas serta brewok miliknya yang rapi dan keren, dekorasi set di sekitarnya yang memberikan kesan elite dan pintar dengan rak buku serta perapian di belakangnya, Nic Cage benar-benar terlihat seperti seorang profesor yang memiliki satu tujuan dalam hidupnya: Mempelajari dan mengajari sejarah dalam kata kasar.

Tidak ada yang lebih seru dari melihat Nicolas Cage dengan anggunnya mengatakan secara perlahan “Sugar. Honey. Iced. Tea. Mhmmm.” yang merujuk dengan artinya adalah “Shit” jika disingkat (paham? (S)ugar, (H)oney, (I)ced, (T)ea). Atau bagaimana saat ia menjelaskan mengapa orang sangat menyukai untuk menggambar penis hingga ia menyadari kalau ia jugalah baru saja menggambar penis dengan detail yang sungguh presisi. Atau mungkin hanya untuk melihatnya berdiri dan berteriak “Fuuuuucccckkkkkkk” sekencang-kencangnya.

Nicolas Cage adalah salah satu aktor paling meledak-ledak di generasi kita. Semakin eksentrik perannya, semakin luar biasa akting yang diberikannya. Maka dari itu, untuk melihatnya memainkan seseorang yang harus tetap berwibawa tetapi juga harus menjelaskan bagaimana kata “Pussy” jika dilihat dalam satu sisi adalah seekor kucing yang lembut, tetapi di sisi lain adalah… “Oh, my” dengan wajahnya yang tertegun sembari melukis sebuah karya seni, adalah sebuah keseruan yang tidak terkalahkan. Nicolas Cage sangatlah sempurna dalam perannya yang komedik ini. Mungkin saja History of Swear Words tidak akan semenyenangkan seperti saat saya menontonnya jika tidak ada keberadaannya. Keberadaannya juga membuktikan kalau History of Swear Words adalah dokumenter terpenting untuk kita, karena ayo jujur saja, kata kasar tidak pernah lepas dari kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s