Pada tiga menit pertama di episode pertamanya, kita melihat seseorang yang bergelantungan di puncak sebuah gedung pencakar langit. “Tolong, tolong, jangan!” ia berteriak secara terus-menerus kepada orang yang berdiri di atasnya. Tetapi teriakan bermohonnya itu tidaklah didengar, karena orang yang berdiri di atasnya malah menyiram orang yang terikat di bawahnya dengan bensin dan menyulut tali yang menjadi pengikat kakinya dengan api. Semakin kencanglah orang itu berteriak saat api menyulut dirinya dan terputus tali yang mengikat kakinya, mengakibatkan dirinya terjatuh sejauh beberapa ratus meter di bawahnya.

Tiga menit itu menjadi salah satu titik penting seri yang dibuat oleh sutradara The Raid dan Apostle Gareth Evans serta Matt Flannery ini, karena adegan itu menunjukkan kalau Gangs of London adalah sebuah seri yang tidak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk kebengisan, kekejaman dan kebrutalan kisah miliknya. Entah dalam aksi pertarungan yang spektakuler atau dalam ceritanya yang penuh dengan kejutan gelap di dalamnya, cerita dalam seri ini tidak pernah ragu untuk menunjukkan sifat terburuk seseorang untuk mencapai ambisi miliknya.

Dan itulah yang membuat seri ini sungguh memikat dan selalu menarik di setiap sembilan episode miliknya, karena di sini kita diceritakan berbagai macam karakter sekaligus, yang tentunya memiliki ambisi dan tujuan yang berbeda tetapi sama besarnya. Orang yang berdiri dan membakar di awal episode itu adalah Sean Wallace (Joe Cole), anak dari seorang kriminal terkuat dan tersukses di London, Finn Wallace (Colm Meaney). Selama 20 tahun Finn telah menguasai segala sektor bisnis gelap dan juga pembangunan gedung pencakar langit di London, hingga pada suatu malam saat dirinya dibunuh oleh sepasang dua anak muda yang bukan siapa-siapa dan bahkan tidak mengenal kalau yang dibunuhnya adalah Finn.

Kematian Finn yang mendadak tentu mengirimkan sinyal yang cukup cepat dan heboh kepada tidak hanya keluarga Wallace, tetapi juga kepada semua mitra bisnis yang selama ini selalu bertransaksi melalui Finn. Apalagi karena terbunuh oleh anak muda yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Finn ataupun bisnisnya membuat Sean menaruh rasa tidak percaya yang tinggi kepada semua mitra bisnisnya, menuduh kalau salah satu dari mereka adalah yang merencanakan pembunuhan itu. Taruh Sean, seseorang yang naif dan cepat naik pitam, ke tengah sekumpulan pemimpin kriminal sindikat yang memiliki ambisi yang besar untuk memanfaatkan kematian Finn, dan terjadilah berbagai macam tragedi yang tiada habisnya.

Seperti namanya, Gangs of London adalah sebuah seri mengenai berbagai macam kriminal sindikat di London. Yang membuat setiap organisasi kriminal ini unik dan juga sangat berbeda dari lainnya adalah bagaimana setiap organisasi kriminal ini terdiri dari ras dan suku bangsa yang berbeda-beda. Selain Wallace dan Dumani, keluarga yang menjadi tangan kanan untuk Keluarga Wallace, yang merupakan kelompok kriminal Inggris, kita juga melihat sebuah organisasi kriminal yang berasal dari Albania, Pakistan, Wales hingga Nigeria berkumpul di London untuk menjalankan suatu bisnis.

Apa yang saya gemari dari struktur narasi seri asal Inggris ini adalah bagaimana meski cerita ini berpusat di tengah Keluarga Wallace, kita tidak pernah sekalipun melupakan organisasi kriminal lainnya, dengan setiap episode selalu menyisihkan waktunya untuk para penonton lebih mengenal setiap karakter di dalamnya dan apa masalah serta masa lalu mereka yang membuat mereka melakukan apa yang mereka lakukan sekarang. Hal ini yang membuat kita selalu dapat menaruh simpati ke dalam banyak beragam karakter, sehingga karakter mereka selalu terasa hidup dan “berguna” untuk kelanjutan cerita. Tidak ada karakter yang terasa sia-sia di dalamnya, meski Gangs of London memiliki banyak sekali karakter yang berlalu-lalang di setiap saat.

Hal itulah yang selalu membuat Gangs of London mencekam, karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Lale (Narges Rashidi), seorang pemimpin organisasi kriminal Kurdi, akan menjalankan bisnisnya di belakang Sean? Apakah Luan (Orli Shuka), pemimpin organisasi kriminal Albania dan dituduh melakukan pembunuhan Finn, akan melanjutkan berbisnis dengan Wallace atau membuka peluang bisnis baru? Banyak sekali kemungkinan yang akan terjadi, dan itu yang terus membuat seri ini selalu terasa segar di setiap narasi yang ditempuhnya tanpa berasa membosankan atau klise.

Di tengah segala masalah yang terus terjadi itu adalah Elliot (Sope Dirisu), tukang pukul Wallace yang rupanya adalah seorang polisi yang sedang menyamar dan sedang membangun sebuah kasus dan mengumpulkan bukti untuk menjatuhkan dan menangkap Sean serta seluruh mitra bisnisnya. Perkenalan karakternya sungguh keren, saat ia mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri kepada atasannya dan menghajar sekumpulan geng Albania di sebuah bar hanya dengan menggunakan satu dart di tangannya untuk mencari lokasi supir yang mengendarai bersama Finn malam saat dirinya dibunuh. Darah muncrat, tulang patah, Elliot bukanlah tukang pukul biasa dan ia dengan stabil membuat namanya menjadi lebih terdengar, hingga akhirnya mencapai Sean yang menjadikan Elliot sebagai tangan kanannya.

Setiap adegan berantem di sini bukanlah semena-mena hanya memukul dan menendang tanpa darah saja, tetapi benar-benar brutal layaknya film Gareth Evans sebelumnya, dengan tingkat kesadisan yang mungkin hampir menyamai The Raid. Kita melihat bagaimana tubuh seseorang dapat bereaksi dengan segala aksi yang luar biasa brutal dan dahsyat. Meski tidak semua episode disutradarai oleh Gareth Evans, tetapi jejaknya tetap terasa di setiap pertarungan, dengan semua adegan adu pukul selalu menyajikan sebuah koreografi yang memukau dan juga tidak mengenal ampun. Justru semakin sadis adu pukul itu menjadi, semakin memukau pertarungan itu terlihat.

Dan itulah yang saya kagumi dari Gangs of London. Bagaimana cerita ini dapat dengan sempurna mengimbangi drama mereka yang intens dengan aksi miliknya yang gesit dan sangat keras. Tidak ada drama yang terasa terseret-seret, tidak ada aksi yang terasa dipaksakan, keduanya dengan sempurna tercampur untuk menjadi sebuah kisah yang sangat mencengkram penontonnya di setiap episode. Setiap episode miliknya, entah dengan segala putaran dalam ceritanya atau dengan segala aksi pertarungan yang spektakuler, selalu menyajikan suatu kejutan yang sangat eksplosif. Tidaklah sulit untuk mengatakan ini adalah salah satu seri terbaik tahun 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s