Saat menonton musim pertamanya dua setengah tahun yang lalu, Disenchantment memang terlihat masih kesulitan untuk menemukan temponya. Ceritanya yang masih belum memiliki struktur yang kokoh dan lelucon yang masih kurang mengena menjadi kekurangan terbesarnya, apalagi jika mengingat antisipasi saya yang saat itu sedang cukup tinggi karena mengetahui seri komedi kartun ini diciptakan oleh Matt Groening yang dikenal dengan kartunnya The Simpsons dan Futurama.

Tetapi semenjak musim keduanya dan kini yang telah memasuki musim ketiga, Disenchantment menjadi salah satu tontonan favorit saya di layanan streaming Netflix. Dari durasinya yang hanya di bawah 30 menit selalu menjadikan ini sebuah tontonan yang ringan, karakternya yang sudah mulai semakin terasa pengaruhnya untuk keberlangsungan cerita, hingga komedinya yang tetap memiliki pacing yang cepat sama seperti sebelumnya dan lebih mengena, di mana setiap detik dalam episodenya memiliki lelucon yang unik dan juga memang lucu.

Musim ketiga langsung melanjutkan dari akhir musim kedua, di mana Bean (Abbi Jacobson) bersama Elfo (Nat Faxon) dan Luci (Eric Andre) sedang bersiap untuk dieksekusi dengan cara dibakar karena dianggap telah merancanakan pembunuhan ayahnya, Raja Zøg (John DiMaggio) dan juga dianggap sebagai penyihir, yang tentunya pada masa itu semua yang dianggap penyihir akan dibakar secara hidup-hidup. Saat dibakar, mereka terjatuh ke bawah hingga menyentuh sebuah katakombe dan bertemu dengan ibunya Bean, Dagmar (Sharon Horgan), yang menjadi salah satu tokoh penting di musim ketiga. Sekarang, Bean bersama kawan-kawannya mulai menyusun rencana untuk kembali ke Dreamland dan menyelamatkan ayahnya yang terluka sebelumnya.

Narasi yang dimiliki Disenchantment memang terkesan berantakan, di mana cerita utama biasanya melebur dengan berbagai kisah lainnya yang bisa langsung masuk dan keluar di setiap episodenya. Jika dipikir-pikir, apa cerita utamanya Disenchantment? Setiap episode bisa menyajikan petualangan yang baru dan berbeda dari sebelumnya, dan tentunya berimbas dengan ceritanya yang bisa menyimpang dari sebelumnya. Tetapi sebetulnya itulah yang membuat saya selalu tertarik untuk selalu menonton episode selanjutnya, karena alur unik yang dimilikinya mencegah saya untuk merasa bosan. Sebuah cerita tidaklah pernah terasa hambar jika mereka selalu memasukkan elemen-elemen baru di dalamnya.

Hebatnya bagi seri ini adalah bagaimana mereka bisa terus menyajikan episode-episode baru tanpa membuat ceritanya membosankan atau terkesan begitu-begitu saja. Setiap saya menonton episode baru, saya selalu disuguhkan dengan masalah yang baru dan juga menjanjikan petualangan yang baru, namun masih tetap berhubungan dengan inti masalah utama musim ini tanpa membuat episodenya terksean sia-sia atau membuang-buang waktu. Musim ini pun juga terlihat semakin menggali lebih dalam mengenai setiap karakter di dalamnya, sehingga setiap karakter menjadi lebih berasa dan tidak hanya untuk lelucon saja.

Seperti di episode “Last Splash” yang menunjukkan bagaimana ditengah kekonyolan yang dimilikinya, Disenchantment masih mampu untuk membuat sebuah cerita yang menyentuh dan juga berbeda dari lainnya, di mana kita melihat Bean yang setelah menyelamatkan Elfo bertemu dengan putri duyung bernama Mora (Meredith Hagner) dan keduanya mulai menjalin hubungan. Di sini kita melihat bagaimana hubungan Bean dan Mora tidaklah terasa terpaksakan dan berjalan sangat alami. Keduanya juga menambah dinamika antar karakter yang menarik dan jarang ditemui di sini, menunjukkan seri ini mulai berani untuk memasukkan sifat manusia yang lebih realistis ke dalam karakternya, tidak hanya untuk bertingkah bodoh dan tidak masuk akal selama musim ketiga berjalan.

Selain dengan bagaimana mereka selalu memiliki narasi yang fleksibel dan mudah untuk beradaptasi dengan segala elemen baru, lelucon dan komedi di Disenchantment masihlah selucu sebelumnya, atau bahkan mungkin saja tetap lucu. Sarkasme yang dimilikinya tetaplah memiliki humor yang selalu jitu, dan musim ketiga tidak pernah kehabisan lelucon sarkasme dari semua karakternya. Mungkin saja sarkasme adalah lelucon utama seri ini. “Kau sadari, hanya kau milikku,” ucap Dagmar kepada anaknya. “Bu, hanya kau milikku,” balas Bean. “Aku tahu kau berbohong, tetapi semoga kelak kau sungguh-sungguh,” kembali balas Dagmar. Lelucon di sini memanglah sangat cepat, dan terkadang tidak semuanya memiliki dampak apapun, tetapi sering juga banyak lelucon yang cepat dan tidak terduga terjadi yang mengundang tawa.

Disenchantment juga masih memerhatikan detail yang mengagumkan untuk leluconnya, dengan sering menaruh banyak lelucon di background setiap adegan. Mulai dari susunan buku yang di mana setiap judul buku memiliki lelucon tersendiri atau karakter figuran di belakang yang mungkin hanya muncul beberapa detik saja tetapi juga melakukan sesuatu yang konyol dan mudah terlewati jika penonton tidak memerhatikannya. Itulah mengapa menonton seri ini selalu seru karena banyak sekali yang bisa terungkap dan ditemui hanya pada satu adegan saja.

Tentu saja lelucon tidak bekerja jika para pemeran suaranya tidak memumpuni untuk mengantarkan lelucon itu, dan untungnya semua pemeran suara di sini tampil sangat impresif sebagai karakternya masing-masing. Dari karakter utamanya, seperti Bean, Luci dan Elfo yang dapat mengundang tawa dengan bagaimana mereka mengatakan sebuah kalimat yang penuh sarkasme, hingga karakter sepeti Zøg yang mendapati banyak momen kocak di musim ketiga atau karakter sampingan seperti Turbish (Rich Fulcher) yang selalu mengatakan hal yang bodoh hingga The Jester (Billy West), yang di mana dirinya selalu dibuang dari kastil menuju laut dan selalu mengatakan “Oh, no” pada setiap pembuangannya, yang di mana ia mengatakan dua kata itu saja selalu membuat saya tertawa pada setiap kesempatan melihatnya.

Visual musim ketiga juga masihlah sangat cantik, atau bahkan mungkin lebih memukau dari sebelumnya. Selama musim berjalan, kita disuguhi pemandangan kota bertema steampunk Steamland yang penuh dengan cahaya lampu, kita melewati sebuah area bawah tanah yang penuh dengan jamur yang memancarkan warna ungu yang menghipnotis, hingga refleksi lautan dengan awan yang terlihat bagaikan sebuah lukisan yang sangat memesona dan memanjakan mata saat Bean melewatinya dengan kapal. Elemen fantasi yang dimilikinya memang membuka kesempatan yang sangat besar untuk bermain di visualnya, dan Disenchantment tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Selesai menonton musim ketiga Disenchantment, saya menyadari kalau pada akhirnya saya sangatlah mengagumi seri ini, yang semakin beranjak hitungan musimnya semakin matang cerita dan lelucon yang dimilikinya. 10 episodenya terasa kurang, karena saya tidak sabar untuk menanti musim selanjutnya dan menanti kegilaan apa lagi yang akan menimpa Bean dan kerajaannya, mengingat bagaimana musim ini berakhir. Ini adalah salah satu seri kartun terbaik di era layanan streaming.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s