Ironis rasanya menonton Outside the Wire. Namanya memberikan kesan kalau ini adalah sebuah film yang berpikir di luar kotak, atau “outside the box”, tetapi rupanya ini hanyalah sebuah film yang mendaur ulang berbagai macam film dengan tema yang serupa sehingga menghasilkan kisah yang terkesan klise, terutama saat cerita sudah mencapai akhir. Semakin lama film berjalan, semakin klise alur mengalir, yang sayangnya menghasilkan sebuah pengalaman menonton yang kurang memuaskan.

Jika dilihat, film ini sebenarnya dimulai dengan cukup menjanjikan. Kita berada di masa depan, pada tahun 2036. Eropa sedang dilanda perang sipil antara Ukraina dan Rusia . Rusia ingin mengambil alih Ukraina untuk menjadi bagian dari Rusia, tetapi warga sipil Ukraina memilih untuk melawan balik dan ditengah keduanya adalah Amerika Serikat, yang sudah mendirikan markas dan berposisi sebagai penjaga perdamaian, meski sebenarnya mereka juga ikut andil dalam peperangan yang sedang terjadi.

Pengendali drone Thomas Harp (Damson Idris), yang duduk tenang di markasnya di Amerika sembari memakan snack, tidak mematuhi perintah dari atasannya dan memutuskan untuk menembakkan misil ke sebuah truk yang mengancam nyawa 40 tentara Amerika Serikat yang sedang terlibat perang, namun upayanya tidak hanya menghancurkan truk itu tetapi juga mengambil nyawa dua tentara Amerika yang sedang terluka di dekatnya. Tindakannya itu berakibat dengan dirinya di kirim ke medan perang dan bertugas untuk Kapten Leo (Anthony Mackie), yang juga rupanya adalah sebuah cyborg.

Kita berada di masa depan, tentara sudah memiliki robot bernama Gump yang mirip dari film Chappie yang dapat menembak musuh dan menjadi pilihan utama jika ada situasi yang mendesak. Tentu saja keberadaan cyborg juga tidaklah mustahil, benar? “Biotek generasi keempat, dan aku akan memberimu 60 detik untuk menerimanya,” tegur Leo kepada Harp. Misi pertama mereka adalah untuk mengantarkan obat-obatan kepada kemah sipil jauh di luar markas, atau “outside the wire” karena markas mereka dikelilingi pagar kawat.

Selama perjalanan, Outside the Wire terasa seperti sebuah film yang ingin memiliki makna yang dalam mengenai perang dan bagaimana dampak perang dalam jangka panjang. Warga sipil yang harus menjadi korban, perang yang tiada hentinya, masa depan yang tidak menentu. Tetapi film ini juga terlihat setengah-setengah dalam mengupas tema itu, dan memilih untuk menjelaskannya lewat dialog yang kurang memukul dari kedua karakternya serta menginterupsi dengan tembak-tembakan dan ledakan di mana-mana.

Tema film ini juga bercampur aduk dengan teknologi dan bagaimana masa depan manusia yang semakin mengandalkan AI untuk menjalankan tugasnya, dan konsekuensi yang dibawanya, seperti pada satu adegan saat tentara Amerika sedang berhadap-hadapan dengan pasukan sipil Ukraina dan salah satu Gump milik Amerika lebih dulu menembak meski tidak disuruh, berakibat situasi yang semakin memanas. Tetapi lagi, tema teknologi rasanya kurang didalami dalam penceritannya sehingga terkesan hanya sebagai hidangan sampingan untuk film ini. Film ini ingin menonjolkan dunia yang penuh dengan teknologi canggih namun kurang menonjolkannya dan puas menjadikan teknologi canggih itu sebagai peneman cerita saja.

Akhirnya saat film sudah memasuki durasi satu jam, cerita film semakin terkesan bertele-tele dan tidak dapat memenuhi ekspetasi yang sudah dibangunnya dari awal film. Klimaks film ini juga terkesan sangat lemah, bahkan membuat saya berpikir “Begini saja?” Film ini memang sudah terlihat seperti kehabisan ide saat pertengahan jalan, sehingga semakin mendekati akhir, Outside the Wire berusaha untuk menutupnya dengan cara apapun, tidak peduli apakah akhir ceritanya memuaskan atau tidak. Dan itu disayangkan, mengingat potensi yang dimilikinya yang sangat besar pada awal film.

Outside the Wire jugalah menyia-nyiakan kedua karakter utamanya, mengingat keduanya terlihat memiliki chemistry yang kuat dan menarik saat awal film. Leo, yang merupakan atasannya Harp, tidaklah bertingkah galak atau ketat terhadap bawahannya. Ia menyadari kalau dirinya yang adalah sebuah cyborg akan memancing kebingungan dari Harp, dan ia selalu menjawab semua pertanyaan dari Harp serta sering melontarkan guyonan dan ledekan ke Harp. Kedua karakter ini berpotensi untuk memiliki hubungan pertemanan yang baik dan menarik.

Tetapi semakin film berjalan, hubungan keduanya terasa semakin lama semakin membingungkan dan dipaksakan. Kita bahkan tidak pernah diberitahu dengan jelas bagaimana masa lalu Leo, meski karakternya sering digadai-gadai sebagai karakter yang vital untuk cerita film. Akhirnya, saat film selesai, kedua karakternya tidak meninggalkan jejak yang lama di kepala para penonton, dan begitu juga dengan film ini. Konsepnya mungkin menarik, tetapi ini bukanlah film yang akan diingat penonton. Andaikan saja jika Outside the Wire lebih mencoba untuk menggali kedua karakternya lebih dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s