Film yang sunyi dan menenangkan terkadang dapat membuat saya bosan. “Tidak banyak yang terjadi,” pikir saya saat biasanya menonton sebuah film seperti itu. Tetapi tidak dengan The Dig. Seperti News of the World, saya merasa diri saya terseret secara damai dalam hanyutannya yang menentramkan di film yang sudah tayang di Netflix sejak akhir Januari ini. Tidak banyak yang terjadi, tetapi saya tidak pernah ingin lepas dari dunianya yang begitu memikat.

Ceritanya sangatlah sederhana, sebetulnya. Edith Pretty (Carey Mulligan), seorang pemilik tanah di Suffolk, Inggris menyewa penggali Basil Brown (Ralph Fiennes) untuk menggali gundukan tanah di dekat rumahnya karena dirinya memiliki firasat kalau ada sesuatu di bawahnya. Basil setuju. Basil menggali. Mereka menemukan sesuatu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak banyak yang terjadi. Tetapi bagaimana sutradara Simon Stone dan penulis Moira Buffini menyajikan ceritanya adalah apa yang membuat The Dig menjadi sebuah karya yang atraktif.

The Dig adalah sebuah film yang menceritakan sebuah sejarah nyata. Semuanya memang terjadi dan semua karakternya memang nyata. Setidaknya itu yang saya ketahui sejauh ini karena saya tidak terlalu meneliti sejarahnya lebih dalam. Film ini tidak memilih untuk mencoba membuat film menjadi menegangkan, atau menjadi lebih cepat dan terburu-buru. Tetapi, film ini lebih memilih untuk membiarkan kameranya mengikuti Edit dan Basil dalam petualangan mereka menggali sejarah dengan tempo dan alur yang menenangkan dan nuansa yang sunyi dan lengang.

Selama film berjalan kita disuguhkan luasnya area tanah yang terlihat lapang dan sepi sejauh mata memandang. Biasanya di dalam layar hanya ada hitungan karakter yang bisa dihitung jari. Mungkin mereka menggali, kemudian berbicara sepatah kata, dan lanjut menggali. Suasananya yang tenang memang membuat film ini mendamaikan, tetapi juga membuat cerita film menjadi lebih intim karena kita menjadi lebih dekat dengan karakter di dalamnya. Sinematografer Mike Eley tidak hanya dengan indahnya menunjukkan sebuah lahan yang sangat cantik dengan visualnya yang jernih tetapi juga memastikan kita selalu mengikuti karakter di dalamnya dengan kamera yang selalu dekat sehingga kita merasakan setiap pijakan kaki dan setiap galian dari karakternya. Ada rasa kedekatan saat kita menontonnya.

Keintiman yang kita rasakan ini juga bekerja sangat kuat karena kedua karakter utamanya yang lebih dari mampu untuk membuat kisah film ini menjadi lebih hidup. Setelah sebelumnya bermain di sebuah film yang sangat mencolok dan sangat kuat di Promising Young Woman, kini kita melihat Carey Mulligan yang bermain sebuah karakter yang mungkin saja terlihat 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Di sini, karakternya jauh lebih tenang, jauh lebih kalem dari Cassie di Promising Young Woman dan hebatnya Carey dengan sempurna memainkan kedua karakternya. Entah untuk menjadi seorang pembalas dendam yang berapi-api atau seorang sejarahwan yang tenang, ia berhasil membuat kedua karakternya hidup dan menyentuh kita meski saja memiliki sifat yang berbeda, dan itu selalu saya kagumi darinya.

Dengan Edith Pretty, Carey Mulligan telah memainkan sebuah karakter yang dapat menceritakan kisah dan masa lalunya hanya dengan emosi di wajahnya dan bagaimana ia mengutarakan kata-katanya. Selama film berjalan, kita semakin lama semakin mempelajari mengapa Edith sangat ingin menggali gundukan tanah di dekatnya. Kita pun juga mempelajari keberadaan dirinya yang tragis di dalam kisah ini, di mana kita semakin merasa simpati terhadapnya. Di sinilah di mana film dapat memukul kita secara emosional dengan keberadaan dan kondisi karakternya yang tidak hanya tragis, tetapi juga sangat memilukan.

Begitu juga dengan Basil Brown yang dengan sempurnanya diperankan oleh Ralph Fiennes. Saat awal film, kita melihat kalau Basil hanyalah seseorang yang terlihat galak dan lebih sering mengedepankan opininya daripada opini orang lain, tetapi seiring kisah film semakin berjalan, dirinya semakin menginvestasi jiwa dan raganya terhadap galian dan pekerjaan yang telah diberikannya. Baik saat hari sudah malam atau hujan sedang lebat, ia selalu berusaha untuk tetap menjaga galiannya dalam kondisi yang sempurna dan tidak pernah sekalipun melupakannya. Dengan Basil, Ralph telah menunjukkan sifat seseorang yang ambisius tetapi juga mengetahui apa yang merupakan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, dan dengan karakternya kita telah melihat seseorang yang tidak akan berhenti untuk apapun.

The Dig memang memiliki sebuah cerita yang sangat baik, tetapi adalah bagaimana karakter saling berinteraksi dan saling termovitasi untuk menyelesaikan pekerjaannya adalah apa yang membuat film ini sungguh memikat. Basil dan Edith adalah dua orang yang berbeda. Mereka berasal dari latar belakang dan status sosial yang jauh berbeda. Tetapi kita diberikan kesempatan untuk melihat bagaimana keduanya akhirnya sama-sama berjuang demi sebuah sejarah yang belum terungkap. Semakin lama kita menghabiskan waktu bersama keduanya, semakin besar rasa emosi yang telah kita cucurkan terhadap film ini dan itulah alasan terbesar mengapa film ini semakin jauh perjalanannya semakin membuat kita nyaman.

Di satu sisi, kita tidak pernah ingin lepas dari mengikuti Basil dan Edith dalam mengungkapkan sebuah sejarah, tetapi di sisi lainnya The Dig terasa terlalu panjang karena banyak karakter yang lalu-lalang sehingga cerita terkadang teralihkan dari kisah utamanya, seperti kisah romansa tragis seorang penggali muda Peggy Piggott (Lily James) yang merasa terlantarkan oleh suaminya yang jauh lebih mementingkan pergaliannya di mana akhirnya Peggy merasa tertarik dengan seorang penggali lainnya yang merupakan sepupu dari Edith. The Dig terlihat ingin membuat kisah-kisah kecil di sekitar kisah utamanya, dan memang berhasil menarik kita secara emosional, tetapi secara keseluruhan kisah sampingannya itu terasa hanyalah sebuah tambahan yang tidak terlalu memengaruhi fondasi utama film ini.

Apakah itu menurunkan penilaian saya terhadap film ini? Tentu tidak. Setelah film selesai, saya merasakan sebuah perasaan yang menyenangkan. Ini adalah film yang menyenangkan. Kita tidak perlu terlalu keras berpikir. Kita cukup serahkan diri kita dengan lantunan tempo film yang menenangkan dan lihat bagaimana semakin lama film ini semakin menarik kita ke dalamnya dan menghasilkan sebuah kisah yang memikat dan memesona. The Dig adalah salah satu film Netflix terbaik di awal tahun 2021. Apakah sekarang kita sedang menyaksikan kebangkitan Carey Mulligan? Semoga saja.

2 thoughts on “Penggalian Sejarah yang Menenangkan di Film Netflix THE DIG

    1. Sejauh ini belum ada niatan buat nonton The Queen’s Gambit sih, bang. Dalam “masa mendatang” deh bakal dicoba.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s