Ada sesuatu yang puitis di tengah keseraman yang terjadi di Below Zero. Ceritanya yang tidak pernah mengistirahatkan kita memang selalu membuat perasaan menegangkan bersarang bersama penontonnya, tetapi di tengah ketegangan yang kita rasakan terdapat sebuah perasaan emosional yang secara diam-diam merayap di baliknya untuk menerkam para penontonnya di saat mereka tidak menyadarinya. Adalah bagaimana film ini mengutarakan hati nurani karakternya dan bagaimana karakter di film ini terasa sangat hidup dan “manusia” mengapa film asal Spanyol yang sudah tayang di Netflix ini merupakan sebuah film yang sangat mengejutkan.

Di sini, kita mengikuti seorang polisi Martín (Javier Gutiérrez) yang mendapati tugas untuk memindahkan enam tahanan ke penjara mereka yang baru bersama dengan petugas lainnya, Montesinos (Isak Férriz). Martín digambarkan sebagai seseorang yang taat peraturan, dirinya selalu mengikuti peraturan yang ada sebaik dan seketat mungkin dan sifatnya itu bercekcok dengan Montesinos yang tidak ragu untuk mengancam dan menyakiti tahanannya. Keduanya mengeyahkan perbedaan mereka saat truk tahanan yang sedang mereka kendarai menabrak spike strip dan membocorkan roda truk. Mobil polisi yang mengawal mereka di depannya sudah lebih dulu terkena dan sudah terbalik di pinggir jalan. Kebingungan melanda seisi truk dan seorang penembak misterius mulai menghantui truk ini dengan menembakinya berturut-turut.

Dari awal film saja, sutradara Lluís Quílez sudah membangun tensi film ini. Sebelum kita diperkenalkan oleh Martín, kita melihat sebuah adegan di mana seseorang dalam gelapnya malam hari dan derasnya guyuran hujan sedang menyiksa seseorang dan bertanya suatu lokasi, sesuatu yang anak muda ini tidak ketahui, dan mengakhirinya dengan mengubur orang ini hidup-hidup. Siapakah orang ini? Apa perannya ia di cerita film ini? Dari awal kita sudah mengetahui siapapun dia, dia tidak ragu untuk melakukan apapun demi jawaban yang sedang ia cari-cari.

Dan Below Zero memang terlihat pintar dalam melanjutkan ceritanya. Selama terjebak di dalam truk, kita tidak pernah diberitahu siapa penembak itu dan apa tujuannya? Di saat kita mengira mungkin tahanan ini yang menyusun rencana pembajakan truk, narasi film memutar dan mengenyahkan dugaan kita. Tidak hanya Martín, tetapi para penonton juga selalu dibuat untuk menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya dan perasaan itu membuat film ini dapat mengejutkan kita tanpa kita sadari. Apalagi saat mengetahui kalau cuaca di film adalah sedang musim salju dan film ini juga tidak luput dalam memanfaatkan suhu untuk memajukan cerita dan menambah ketegangan.

Tetapi apa yang membuat Below Zero tetap berhasil mencekram perhatian penonton adalah bagaimana Lluís Quílez dan penulis Fernando Navarro berhasil menyusun sekumpulan karakter dengan kepribadian yang nyata dan emosi yang terasa. Awalnya kita mungkin melihat keenam tahanan ini sebagai orang jahat berhati buruk dan tidak bernurani, tetapi semakin film berjalan kita diberikan kesempatan untuk melihat kehidupan setiap orang di sini menjadi lebih dekat. Sedikit demi sedikit, ada rasa simpati yang kita miliki untuk beberapa karakter di sini dan perasaan itu menjadi sesuatu mengapa film ini selalu menarik perhatian kita.

Pertengahan film, saat keadaan sudah kacau dan kebingungan melanda, dengan pintarnya Below Zero lagi memperkenalkan karakter yang dapat mengubah bagaimana cerita ini berjalan, dan lagi kita dipermainkan perasaan kita terhadap karakter di dalamnya. Film ini berhasil memanipulasi perasaan kita dan juga karakter di dalamnya. Di satu saat, kita mungkin menganggap orang ini jahat, tetapi beberapa saat kemudian mungkin saja dia tidak seburuk yang kita sangka. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang kita anggap baik mungkin saja tidak sebaik yang kita kira. Dengan begitu, film menjadi lebih sulit ditebak dan kita menjadi semakin penasaran dengan bagaimana kisah ini akan berakhir.

Filmnya memang menegangkan dan seru karena kita juga dibuat untuk menebak-nebak, tetapi sebenarnya yang mengejutkan saya adalah bagaimana film ini dapat memukul dengan karakternya yang emosional dan tragis. Saat film ingin menyelesaikan ceritanya dan konflik sudah semakin memanas, kita akhirnya mempelajari mengapa penembak itu memutuskan ingin membajak truk ini dan secara tidak terduga sisi emosional film ini muncul dan kita pun juga lagi dibuat bingung harus bereaksi seperti apa karena sebagai penonton, simpati sudah kita berikan kepadanya dengan cerita yang tragis meski kita mengetahui apa yang ia lakukan adalah salah. Di sinilah ambigu moral bermain dengan kuat dan di sinilah bagaimana Below Zero mengejutkan saya.

Hal lainnya mengapa film ini terasa sangat kuat dengan setiap karakternya adalah bagaimana Below Zero terasa minimalis baik dari bagaimana narasi dan alurnya, tetapi juga dari bagaimana konflik muncul dan berjalan. Film ini tidaklah pernah ingin mencoba untuk menceritakan sesuatu yang tidak penting, latar film sebagian besar berada di dalam truk dan cerita film ini hanyalah bertempatan pada malam itu saja. Akhirnya, film ini lebih mengandalkan bagaimana setiap karakternya berkontribusi dalam memajukan cerita dan semuanya dengan sempurna berhasil membuat sebuah kisah yang tidak hanya mencekam dari segi narasi tetapi juga menyayat hati semakin kita mendalaminya.

Ada saat di mana film ini sempat selalu muncul di halaman pertama Netflix, dan setelah menontonnya saya percaya mengapa film ini sempat meraih nomor satu di layanan streaming itu. Spanyol rasanya memang jarang mengecawakan dengan filmnya di Netflix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s