Tidak banyak yang terjadi di Saint Maud. Jika kita melihat konsepnya, film ini hanyalah menceritakan seorang perawat, Maud (Morfydd Clark) di sebuah kota di Inggris yang bertugas untuk mengurus seorang pasien, Amanda (Jennifer Ehle) sembari bergelut dengan hati nuraninya mengenai Tuhan dan kepercayaan dan dianutnya. Konsepnya tidaklah rumit dan bahkan terdengar seperti sebuah film religi. Tetapi dengan konsep yang sederhana itu Rose Glass berhasil membuat sebuah film yang tidak hanya berhasil membuat kita terpaku tetapi juga mulai terhipnotis dengan bagaimana film ini berjalan.

Di sini, kematian menjadi tema yang begitu kuat. Saat film dimulai, kita melihat Maud yang terlihat gagal untuk menyelamatkan seorang pasiennya. Kejadian ini menghantuinya, sehingga ia bertekad untuk selalu berusaha melindungi Amanda yang terkena limfoma dan dalam kondisi kritis serta harus menggunakan kursi roda. Ia lagi bertemu dengan seseorang yang sudah begitu dengan kematian dan Maud sudah menjadikan misinya untuk menyelamatkan jiwanya Amanda.

Ada momen di mana di dalam film ini terasa begitu ringan dan menyenangkan. Saat pertama, kita melihat Amanda yang terbuka dengan Maud yang selalu berdakwah mengenai Tuhan dan bagaimana Tuhan selalu berada di sisi kita. Kita kemudian melihat mereka menghabiskan waktu bersama, seperti Maud yang membantu Amanda untuk melakukan pemanasan dan meregangkan tubuhnya karena sebelumnya Amanda adalah seorang penari sukses. Tetapi semakin lama Saint Maud membelokkan arahnya, dan rupanya apa yang kita lihat tidaklah semena-mena memang begitu. Mungkin saja Amanda hanya mengikuti apa yang dikatakan Maud meski dirinya tidak memercayai, atau mungkin saja ia akan mengolok-olok Maud.

Beginilah bagaimana baiknya Rose Glass dalam menjalankan narasinya, karena ia tidak hanya mempermainkan Maud tetapi juga penontonnya. Di sini pada mulanya kita melihat Maud sebagai orang yang taat beragama dan berhati mulia, tetapi sinisnya dunia di sekitarnya membuat dirinya semakin mempertanyakan kepercayaan miliknya. Kita melihat dirinya selalu mencoba mencurahkan hatinya kepada Tuhan tetapi semakin lama ia semakin terlihat kesulitan untuk tetap optimis. “Jika begini bagaimana Kau memperlakukan pengikut paling setia-Mu, saya gemetar untuk memikirkan apa yang menanti mereka yang menghindari-Mu,” ia merefleksikan dirinya kepada Tuhan, tetapi di tengah kalimat itu ada perasaan kalau ia tidak hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi juga kepada dirinya. Ia mencoba untuk tetap meyakinkan dirinya.

Film ini mungkin saja dilabeli sebagai film horror, tetapi sebenarnya tidak banyak ada adegan yang benar-benar membuat kita takut. Mungkin di pengujung film di mana film baru benar-benar mulai memunculkan elemen horror sekeras-kerasnya. Pintarnya Saint Maud adalah bagaimana dari nuansa, cerita dan karakternya sudah cukup menyeramkan tanpa perlu membuat film beradegan menyeramkan. Melihat seseorang harus berjibaku dengan krisis identitas dan kepercayaan tanpa merasa yakin dengan kehidupannya sudahlah cukup menyeramkan, karena keambiguan yang dimiliki Maud membuat tidak hanya karakternya tetapi juga cerita film menjadi lebih sulit ditebak. Sebagai penonton, saya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan disajikan Rose Glass di adegan berikutnya.

Mengagumkan untuk melihat Saint Maud sebagai film pertamanya Rose Glass sebagai sutradara dan penulis untuk sebuah film. Tidak ada kecerobahan dalam membangun tensi dan menceritakan karakternya, tidak ada momen yang terasa sia-sia terutama dari bagaimana efektinya film ini yang berdurasi hanya 83 menit saja, dan juga bagaimana sempurnanya ia dalam memanfaatkan berbagai macam tema yang sungguh rumit dan berat seperti: kematian; kepercayaan; penyendirian, dan menjadikannya sebagai sebuah karya yang berhasil memegang teguh narasinya dengan genre horror miliknya yang unik.

Penampilan (Morfydd Clark) sangatlah vital di sini dalam memainkan Maud dan untuk memajukan cerita. Rambutnya yang panjang memberikan kesan misterius ke dalam karakternya yang sudah penuh misteri. Tingkah lakunya yang sering kikuk di tengah kerumunan orang membuat kita semakin terpana dengan karakternya karena kita sepanjang film berjalan kita selalu dibuat penasaran dengan sifatnya. Di satu saat kita merasa dirinya tulus, tetapi di saat yang lain kita merasakan betapa pesimisnya karakter Maud ini. Film ini memang dilabeli sebagai horror, tetapi lebih dari itu, film ini adalah mengenai sebuah karakter studi untuk melihat lebih dekat bagaimana seseorang harus bergulat dan mencari tahu mana yang baik dan benar. Ia mungkin saja berhati mulia, tetapi setiap orang selalu memiliki batasan dan Maud bukanlah sebuah pengecualian.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s